- Update
35
Baik — sebelum perang besar dimulai, kita buat momen kecil tapi penting: percakapan private antara Kusma & Aria di perjalanan menuju medan perang.
Nada hangat, sedikit tensi, sedikit humor, tapi tetap membangun kedalaman hubungan dan foreshadow kekuatan mereka.
⭐ CHAPTER 37 — Percakapan Sebelum Perang
Jalan timur Leafden dipenuhi suara kaki para petualang yang bergegas. Armor berderak, pedang berkilau, dan teriakan komando bergema di udara. Semakin dekat ke desa timur, bau tanah terbakar dan asap tipis mulai tercium.
Namun sedikit di belakang rombongan utama, Kusma dan Aria berjalan berdampingan. Berbeda dari keramaian di depan, bagian jalan mereka justru terasa jauh lebih sunyi.
Aria terus memandangi tangan Kusma yang menggenggam Frostveil Sabre.
“Master…” bisiknya pelan, nyaris tenggelam oleh suara langkah petualang lain.
“Hmm?”
“Ini… pertama kalinya kita menghadapi pasukan monster, bukan satu atau dua. Apa Anda… gugup?”
Kusma terdiam sejenak.
Angin dingin membawa suara gong alarm dari kejauhan.
“…Jujur?”
Ia menoleh pada Aria sambil tersenyum tipis.
“Lumayan.”
Aria tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum lembut.
“Master terlihat jauh lebih tenang dari itu.”
“Yah, kalau aku langsung panik… masa aku bisa jaga kamu?”
Aria tersentak kecil—wajahnya memerah samar.
“S-Saya juga akan menjaga Master, jadi jangan berkata begitu dengan santai…”
Kusma terkekeh.
“Dengan barrier dan heal kamu? Iya, iya. Kamu paling kuat di sini malah kayaknya.”
Aria menunduk malu, namun suaranya tegas saat menjawab:
“…Tapi tetap saja, saya bukan yang berada di garis depan. Master-lah yang pertama menerima serangan nanti.”
Kusma menatap pedangnya.
“Tenang aja. Dengan Frostveil Sabre ini… aku agak pede.”
Aria berhenti sejenak dan menarik lengan baju Kusma.
Langkahnya melambat.
“Pede itu bagus. Tapi…”
Kusma menoleh.
“Hmm?”
Aria memandangnya dengan mata biru lembut yang bergetar kecil.
“Jangan pernah tinggalkan jarak antara kita terlalu jauh. Jika Master berada di luar jangkauan buff-ku… itu sangat berbahaya.”
Kusma membeku sejenak.
Aria jarang berbicara selembut itu.
“…Oke, aku janji.”
Aria menunduk, lalu menyunggingkan senyum kecil penuh kelegaan.
“Terima kasih, Master.”
Mereka kembali berjalan.
Namun kali ini, jaraknya lebih dekat.
Hampir seperti mereka secara tidak sadar bergerak dalam sinkron.
⭐ Setelah beberapa menit…
Aria tiba-tiba kembali bicara.
“Master.”
Nada suaranya jauh lebih serius dari sebelumnya.
“Jika ada Orc Elite atau bahkan Orc Leader nanti… tolong jangan pakai kekuatan Anda di depan petualang lain.”
Mata Kusma melebar.
“…Kamu juga ngerasa kalau kepala guild mencurigai aku?”
Aria mengangguk.
“Ya. Dari cara dia menatap Anda… dia pasti sadar ada sesuatu yang berbeda. Mungkin bukan sistem, tapi… kekuatan Anda tidak normal untuk Rank C.”
Kusma mendesah.
“Aku juga berusaha nahan diri. Tapi kalau mereka kesulitan—”
Aria memotong cepat.
“Tolong, Master. Keselamatan Anda jauh lebih penting. Jika terlalu mencolok… Anda akan menarik perhatian yang… tidak kita inginkan.”
Ada ketakutan jernih di mata Aria.
Bukan takut pada Orc, tapi takut kehilangan Kusma.
Kusma akhirnya mengangguk perlahan.
“…Baik. Kalau terpaksa pun, aku pakai pelan-pelan.”
Aria tersenyum tipis.
“Begitu lebih baik.”
⭐ Suasana berubah…
Dari kejauhan, terdengar teriakan:
“ORC TERLIHAT DI DEPAN!! SEMUA PETUALANG! FORMASI DEFENSIF!”
Aria menegakkan punggungnya, aura lunar mulai berkilau samar.
“Master…”
Kusma menggenggam pedangnya—hawa dingin es menyelimuti udara.
“Ya, Aria. Kita mulai.”
Aria mengangguk.
“Kita akan lindungi desa. Bersama.”
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di dunia ini,
mereka melangkah ke medan perang yang sesungguhnya.
⭐ CHAPTER 37 SELESAI
Siap lanjut?
Berikut pilihan untuk CHAPTER 38:
1️⃣ Pertempuran Dimulai — Barisan Orc Pertama Menerjang Desa
2️⃣ Pertarungan Barisan Depan — Kusma & Aria Menjadi Pilar
3️⃣ Kemunculan Orc Elite (Rank C+) di Gelombang Pertama
4️⃣ Pengenalan Party Lain yang Akan Berperan di Arc Ini
Pilih 1 / 2 / 3 / 4.