34
Update

34

CHAPTER 36 — TANDA INVASI ORC & PANGGILAN GUILD LEAFDEN

Hutan Utara kembali tenang setelah tewasnya Orc Scout. Namun bagi Kusma dan Aria, keheningan itu justru terasa mencurigakan… terlalu sunyi. Seolah seluruh hutan sedang menahan napas menunggu sesuatu yang lebih besar datang.

Aria berdiri diam, jemari kecilnya menggenggam ujung roknya dengan kuat.
“Master… ini buruk.”

Kusma menatap ke arah jasad Orc yang mulai membeku seluruhnya karena efek residu Frostveil Sabre.

“Scout seharusnya tidak sendirian di area sedalam ini, kan?”

Aria menggeleng pelan, rambut peraknya bergoyang lembut.
“Tidak. Scout Orc hanya dikirim jika pasukan inti sudah dekat. Mereka tidak akan menyebar jauh tanpa komando…”

Kusma menyipitkan mata.
“Berarti… pasukannya sudah mendekati desa timur.”

Aria menelan ludah.
“Ya. Dan dalam skala besar… mungkin puluhan. Bahkan… ratusan.”

Kusma menyarungkan pedangnya cepat.

“Kalau begitu kita tidak bisa buang waktu. Kita balik ke kota dan lapor guild.”

Aria mengangguk tegas.


KEMBALI KE LEAFDEN

Perjalanan kembali tidak menemui halangan. Namun suasana terasa semakin berat. Burung-burung terbang ke arah barat, menjauhi wilayah timur.

Pertanda buruk.

Sesampainya di gerbang kota, dua penjaga tampak gelisah. Salah satu dari mereka melihat Kusma dan Aria berlari.

“Petualang Rank C! Ada berita buruk?”

Kusma berhenti sebentar.
“Ada ancaman besar dari hutan utara. Scout Orc.”

Penjaga itu pucat.
“Sc-Scout? Tapi desa timur masih…!”

“Kami akan lapor ke guild,” jawab Kusma singkat.

Penjaga mengangguk cepat dan bersiap membunyikan alarm kecil.


GUILD LEAFDEN - KEADAAN KACAU

Saat Kusma dan Aria masuk, suasana guild jauh lebih sibuk dibanding pagi tadi.
Petualang berkumpul, resepsionis bertukar laporan cepat, dan papan quest dipenuhi catatan “Darurat” baru.

Raik—petualang veteran yang sering ikut dalam patroli—menyadari Kusma datang. Ia menghampiri sambil terengah.

“Kusma! Aria! Kalian juga merasakan, kan? Ada gangguan aneh di timur!”

Kusma langsung menjawab.
“Kami menemukan Orc Scout Rank C+ di hutan utara.”

Raik langsung terdiam.

“…C+? Dalam hutan utara? Itu… itu sudah masuk radius yang sangat dekat. Scout jarang pergi sejauh itu kecuali—”

“Kecuali pasukan utama sedang bergerak,” sambung Kusma.

Raik menelan ludah dan berlari menuju ruangan kepala guild.

Kusma dan Aria mengikuti.


RUANGAN KEPALA GUILD — KEPUTUSAN BESAR

Ketika pintu dibuka, kepala guild Leafden—pria paruh baya dengan wajah tegas dan mata tajam—sudah menunggu sambil membuka peta wilayah.

Ia menatap Kusma dan Aria dalam-dalam.

“Kusma, Aria. Kalian kembali lebih cepat dari perkiraan… berarti berita kalian serius.”

Kusma mengangguk.

“Kami membunuh Scout Orc Rank C+. Posisinya sudah terlalu dekat dengan desa timur.”

Aria menambahkan dengan suara lembut tapi tegas:
“Dan auranya… sepertinya satu dari banyak. Ini bukan gerombolan kecil.”

Kepala guild menutup mata sejenak.

“…Saya mengerti.”

Ia membuka matanya kembali, sorotnya berat namun tegas.

“Guild Leafden akan mengeluarkan Emergency Quest.”

Ia mengangkat sebuah stempel merah besar dan menekannya pada dokumen tebal.

[EMERGENCY QUEST - DEFENSE OF EAST VILLAGE]
Level minimal: Rank C
Ancaman: Pasukan Orc - Perkiraan 30–60 ekor
Kemungkinan muncul: Orc Leader (Rank B–)

Guild Reward: 500.000 gold total (dibagi petualang)
Bonus reward untuk kontribusi besar

Para petualang yang berkumpul langsung bergemuruh.

“Apa? Rank B– bisa muncul?”
“Ini gila… Leafden bukan kota besar!”
“Kita butuh bantuan dari kota tetangga!”

Namun kepala guild mengangkat tangannya.

“Tenang! Kita punya waktu paling lama 3–5 jam sebelum pasukan lengkap tiba.”
“Semua petualang Rank C atau lebih tinggi wajib ikut!”

Kemudian ia memandang langsung ke Kusma.

Tajam.
Menilai.
Seperti ia sudah tahu kemampuan Kusma melebihi Rank-nya.

“Kusma. Dan Aria.”
“Apakah kalian bersedia membantu kami?”

Aria meletakkan tangan di dada dan menunduk sopan.

“Tentu. Ini kewajiban kami.”

Kusma mengangguk.

“Kalau kita tidak bergerak, desa timur pasti habis.”

Kepala guild tersenyum tipis—campuran lega, harapan, dan rasa ingin tahu.

“…Seperti yang kuharapkan dari kalian berdua.”

Lalu ia menambahkan:

“Kusma… tolong kamu tetap rahasiakan kekuatanmu di depan semua orang. Kau terlalu mencolok.”

Kusma menelan ludah.

“…Baik.”

Aria melirik Kusma pelan, tahu benar maksud kepala guild:
Jangan pakai pedang OP terang-terangan terlalu gila.


TANDA SERANGAN MUNCUL

Tiba-tiba—

BOOOOM—!!

Dinding guild bergetar.
Kertas-kertas jatuh.
Para petualang terdiam.

Suara gong alarm kota berbunyi keras dari menara penjaga barat.

GONG! GONG! GONG!

Penjaga meneriakkan:

“ORC TERLIHAT!! 2 KM DARI DESA TIMUR!! MEREKA SUDAH MASUK JALUR UTAMA!”

Aria memucat.

“Master… mereka tiba lebih cepat dari prediksi.”

Kusma menarik nafas panjang, memegang Frostveil Sabre.

“Tidak ada waktu lagi.”

Kepala guild berteriak:

“SEMUA PETUALANG! PERSIAPKAN DIRI! KITA BERGERAK!”

Para petualang berhamburan keluar.

Aria memandang Kusma, matanya bersinar gugup namun tegas.

“Master… ayo pergi.”

Kusma tersenyum tipis.

“Yah… saatnya farming besar-besaran.”

Dan mereka berdua berlari menuju gerbang timur—
tempat bayangan hitam besar para Orc mulai terlihat dari kejauhan.