CHAPTER 35 — Scout Orc Rank C+ & Pertempuran Pertama
Hutan Utara semakin sunyi.
Terlarang sunyi.
Bahkan angin pun seperti menahan napas.
Aria berdiri sedikit di belakang Kusma, pupil matanya menyempit saat menatap ke arah bayangan pepohonan timur.
“Master… itu semakin dekat.”
Kusma mengangguk tanpa kata.
Tangannya perlahan menggenggam gagang Frostveil Sabre.
Dari balik semak gelap…
Dug… dug… dug…
Suara langkah berat, ritmis, seperti batu besar diseret tanah.
Batang pohon bergoyang pelan setiap kali suara itu terdengar.
Aria menarik napas tipis, aura sihirnya berkedip halus.
“Auranya… Orc. Tapi ini bukan Orc biasa.”
Kusma menatap ke depan tajam.
“C+?”
Aria menggigit bibir.
“…Lebih dekat ke C+ atas. Hampir menyentuh B–.”
Kusma mengangkat alis.
“Hah… scout yang lumayan.”
⭐ MUNCUL — ORC SCOUT (Rank C+)
Semak-semak terbelah keras.
BUGSHAAAA—!!
Seekor Orc besar muncul, tinggi hampir dua meter.
Kulit hijaunya gelap, lebih kasar daripada Orc biasa.
Taringnya panjang dan matanya merah lengket dengan amarah buas.
Pada punggungnya tergantung tombak tulang raksasa, tandanya ia adalah penyerang jarak tengah — tipe berbahaya.
Aria berbisik:
“Master… dia bukan Orc liar. Ini tipe Scout. Mereka mengintai medan sebelum pasukan besar bergerak.”
Kusma menyipitkan mata.
“Kalau scout ada di sini… berarti desa timur benar-benar dalam bahaya.”
Orc itu mendengus, mengendus bau manusia.
“Grrrr… manusia… daging… lembut…”
Kusma menghela napas.
“Aria, siap ya.”
Aria langsung mengangkat tangannya.
“Moonlight Barrier.”
Aura biru keperakan membentuk perisai tipis mengelilingi Kusma.
Perlahan, Orc Scout mengangkat tombaknya.
Dan tiba-tiba menghilang dari tempatnya.
“Master, kiri!!” seru Aria.
⭐ SERANGAN CEPAT — ICE BATTLE START
Orc itu muncul 3 meter dari Kusma, tombaknya menerjang dari bawah ke atas.
Kusma mengangkat Frostveil Sabre.
CLANG!!
Benturan keras membuat tanah bergetar.
Orc terkejut.
“W…ha…? Pedang… dingin… menyakitkan…”
Tubuh Orc mulai membeku di area kontak.
Frostbite Edge aktif.
Kecepatannya langsung turun.
Aria tersenyum kecil.
“Bagus sekali, Master. Frostbite langsung kena.”
Kusma mengayunkan pedang.
“Baru awal.”
⭐ GLACIER CUT — Tebasan Pembuka
Kusma mundur setengah langkah, lalu mengayunkan pedang ke depan.
“Glacier Cut!”
FWOOSH—!!
Gelombang es panjang menghantam Orc Scout dari dada hingga lutut.
Orc terpental, menghantam pohon hingga retak.
“GRAAAARGHHH!!”
Aria memegangi dadanya.
“Kuat sekali… serangan itu setidaknya hampir setara Rank B skill tingkat rendah.”
Kusma menghela napas kecil.
“Aku juga kaget… ini pedang gila.”
⭐ Orc Scout Mengamuk — Blood Rush Mode
Orc itu bangkit dengan mata merah menyala, urat-urat muncul, napasnya berat.
“Manusia… kuat… harus mati dulu…!!”
Tanah bergetar — Orc memasuki Blood Rush, kemampuan khas Orc tingkat menengah.
Aria buru-buru menegakkan tubuh.
“Master, dia masuk mode amuk! Hati-hati—!”
Terlambat.
Orc muncul di depan Kusma dalam satu lompatan cepat.
Kusma refleks meneriakkan:
“Snowstep Mirage!”
Tubuhnya menghilang.
Postur bayangan es tertinggal di tempatnya.
Orc melibas bayangan itu—yang pecah menjadi serpihan es.
Kusma muncul di sisi kiri Orc, lebih rendah, posisi ideal untuk menyerang.
⭐ COUNTER — Cold Flow + Frostbite Combo
Kusma menebas pergelangan kaki Orc.
SHRAACK!
Frostbite menumpuk dua kali.
Gerakan Orc langsung melambat drastis, hampir kaku.
Aria berseru:
“Master! Sekarang! Serangannya terbuka!”
Kusma meloncat kecil ke udara dan…
⭐ FINISHER — Frozen Domain (Ultimate)
Tanpa menunggu, Kusma menancapkan pedang ke tanah.
“Frozen Domain…!”
WHOOOOM—!!
Gelombang udara dingin mengembang cepat.
Es tumbuh seperti cabang kristal di tanah.
Orc Scout membeku setengah badan, berusaha bergerak namun gagal.
Kusma merapatkan pegangan.
“Udah cukup.”
CRACK—!!
Domain meledak ke atas, es meluncur seperti duri.
“GGRAAAAAAA—!!”
Monster Rank C+ itu terpental keras, tubuhnya membeku dari dada sampai bahu sebelum hancur menjadi es dan pecahan daging.
Orc Scout jatuh ke tanah, tak bergerak lagi.
[Monster Defeated — Spirit Mon +65]
⭐ Pertempuran Berakhir
Aria menutup matanya, menarik napas lega.
“Master… tadi sangat… kuat.”
Kusma mengayunkan pedang untuk menepis es yang tersisa.
“Pedang ini benar-benar OP… aku sampai kasihan sama monster.”
Aria tersenyum kecil.
“Tidak usah. Mereka mencoba membunuh Master.”
Kusma mengangguk.