42
Update

42

Baik — kita langsung lanjut CHAPTER 44.
Ini chapter setelah perang besar, fokus pada:

  • Aria yang hampir tumbang karena MP habis
  • Kusma menyadarkan dan menenangkannya
  • Reaksi para petualang
  • Kepala guild memanggil mereka berdua secara khusus
  • Foreshadow arc selanjutnya (grinding & pindah ibu kota)

CHAPTER 44 — SETELAH PERTEMPURAN: RASA LELAH, PENGAKUAN, DAN PANGGILAN KEPALA GUILD

Asap tipis masih membumbung dari tanah yang retak di mana-mana.
Tubuh Orc Lord terbujur diam, separuh membeku oleh es Kusma.
Para petualang mulai berdatangan, memastikan bahwa monster itu benar-benar mati.

Namun Kusma tidak memikirkan itu.

Karena saat ia memeluk Aria—

tubuh gadis itu akhirnya roboh.

“Aria!”

Kusma menangkapnya cepat.
Tubuh Aria ringan, hampir seperti boneka.
Pipi pucatnya dipenuhi keringat dingin.

“Ma… ster…”
Suara Aria kecil, nyaris tak terdengar.


ARIA KEHABISAN MP

Kusma menahan kepanikan, menepuk pipi Aria pelan.

“Hei, Aria, lihat aku… kamu masih sadar?”

Aria membuka mata sedikit.
Perpaduan warna biru lunarnya tampak buram.

“Saya… masih ada… tapi MP saya… hanya… tersisa dua persen…”

Kusma menggigit bibir.
“Aria… kamu memaksakan diri lagi ya?”

Aria tersenyum samar, hangat tapi lemah.

“Kalau saya tidak memaksa… Master yang bisa terluka…”

Kusma meremas tangannya dengan lembut.

“Tapi kamu juga penting, Aria. Jangan habiskan semuanya hanya untuk aku.”

Aria menatapnya, mata lelah itu sedikit bergetar.

“Saya… ingin menjaga Master. Itu… alasan saya dipanggil sistem…”

Kusma terdiam sejenak.
Lalu ia menopang Aria dengan lengan dan membawanya ke titik aman.

“Mulai sekarang, kita jaga satu sama lain. Deal?”

Aria tersenyum meski suaranya pelan.

“Deal…”

Tubuhnya perlahan jatuh tertidur di pelukan Kusma.


PETUALANG TERKESIMA

Saat Kusma membawa Aria keluar dari medan, semua petualang menyingkir memberi jalan.

Bukan karena takut—
Tapi karena takjub.

Mereka berbisik di antara diri mereka sendiri.

“Dia itu… Rank C?”
“Dia ngalahin Orc Lord… dia ngelindungi mage-nya sampai akhir…”
“Yang mage itu OP juga… buff-nya bikin bulu kuduk merinding…”

Raik menghampiri dengan ekspresi campuran kagum dan bingung.

“Kusma… apa kamu… sebenarnya itu siapa?”

Kusma menghela napas.
Dengan suara datar tapi tak sombong.

“Hanya petualang Rank C.”

Para petualang menoleh tak percaya.

Raik memegang kepala.
“Serius ngomong kayak gitu padahal baru ngalahin monster Rank A–?!”

Kusma hanya mengangkat bahu.

“Kerja tim. Kalau nggak ada Aria, aku udah mati.”

Aria yang sedang tidur di pelukannya tersenyum samar — entah sadar atau tidak mendengar.


KEPALA GUILD MEMANGGIL

Dari jauh, kepala guild Leafden berjalan menghampiri, ditemani dua petinggi guild lainnya.
Wajahnya tegas, tapi ada sesuatu di balik matanya: campuran rasa takut, penasaran, dan kekaguman.

Ia berhenti di depan Kusma.

“…Kusma.”

Kusma mengangkat kepala.

“Ada apa, pak kepala?”

Kepala guild menatap tubuh Aria yang tertidur.

“Bawa dia ke ruang medis dulu. Setelah itu… datang ke kantorku.”

Kusma mengernyit sedikit.

“Untuk apa?”

Kepala guild menatapnya lama, lalu mengucapkan:

“Untuk membicarakan rank kalian… dan rekomendasi ke ibu kota.”

Semua petualang yang mendengar itu langsung heboh.

“REKOMENDASI IBU KOTA?!”
“Itu cuma buat petualang elite yang dilirik kerajaan!”
“Gila, mereka baru datang, langsung mau dinaikkan?”

Kusma menahan napas sejenak.

“…Serius?”

Kepala guild mengangguk.

“Setelah apa yang kalian lakukan hari ini… Leafden terlalu kecil untuk menampung kalian.”

Ia melirik jasad Orc Lord, lalu kembali menatap Kusma.

“Kusma. Aria. Kalian adalah… monster berbentuk manusia.”

Kusma hanya bisa tertawa kecil, bingung mau bangga atau tidak.

“…kami cuma berusaha hidup, pak.”

Kepala guild tersenyum samar.

“Itu justru yang membuat kalian berbahaya.”

Lalu ia memberi tanda kepada petualang lain untuk membersihkan medan.

“Kusma. Setelah Aria bangun, datang ke kantorku. Ini penting.”

Kusma mengangguk.

“Baik.”


MENUJU RUANG MEDIS

Kusma membawa Aria masuk ke dalam bangunan kecil milik guild — ruangan penyembuhan darurat.

Aria masih tertidur, napasnya stabil.

Kusma duduk di samping ranjangnya, menatap wajah Aria yang damai saat tidur.

“…Kamu benar-benar mendorong diri sampai batas.”

Ia merapikan rambut Aria yang basah karena keringat.

“Kalau kamu nggak ada… aku nggak bakal bisa selamat. Thanks, Aria.”

Aria bergumam kecil dalam tidurnya.

“…Ma… ster…”

Kusma menghela napas dan mengelus kepala Aria pelan.

“Ya. Aku di sini.”


CHAPTER 44 SELESAI

Selanjutnya, CHAPTER 45 akan berfokus pada:

  • Aria bangun di ruang medis
  • Percakapan jujur Kusma & Aria setelah hampir sekarat
  • Pertemuan resmi dengan kepala guild
  • Pengumuman resmi kenaikan Rank Kusma & Aria menjadi Rank C → Rank B
  • Undangan menuju ibu kota kerajaan

Siap lanjut Chapter 45?