- Update
43
⭐ CHAPTER 45 — BANGUNNYA ARIA & RAPAT BESAR DI GUILD
Ruangan medis guild Leafden dipenuhi aroma herbal.
Suara gemericik air dari pot tanah terdengar lembut.
Hanya satu pasien di dalam ruangan —
Aria.
Ia terbaring di ranjang putih dengan selimut tipis menutup tubuhnya.
Wajahnya jauh lebih segar dibanding pasca-pertarungan, walau masih pucat.
Kusma duduk di kursi kecil di samping ranjang, dagu disandarkan pada lengan.
Ia tertidur setengah, kelelahan setelah menjaga Aria sejak tadi.
Namun ketika sinar matahari pagi menerobos jendela kecil…
Aria mengerjapkan mata perlahan.
“...Master…?”
Kusma langsung bangun setengah kaget.
“Aria! Kamu bangun!”
Aria tersenyum tipis melihat ekspresi panik itu.
“Master… kenapa terlihat seperti baru kalah perang?”
Kusma menyilangkan tangan.
“Kamu yang hampir mati MP, tapi kamu malah nge-roasting aku sekarang?”
Aria menutup mulut, tertawa kecil.
“Maaf~”
⭐ MOMEN TENANG — ARIA MERASA BERSALAH, KUSMA MENENANGKAN
Aria duduk perlahan, memegang kepalanya yang masih berat.
“Master… tentang pertarungan kemarin… saya mungkin… memaksa diri terlalu jauh…”
Kusma menggeleng pelan.
“Kamu bukan memaksa diri. Kamu berjuang sekuat mungkin. Dan kalau kamu tidak melakukan itu… aku mungkin sudah terbelah dua oleh kapak Lord.”
Aria menunduk, wajahnya memerah malu.
“…Tetap saja… saya ingin lebih kuat lagi. Agar Master tidak perlu mengambil risiko sebesar itu.”
Kusma menatap mata Aria.
“Aku juga mau lebih kuat supaya aku bisa melindungi kamu. Kita saling jaga, kan?”
Aria menyentuh dadanya, wajahnya memerah lembut.
“…iya. Kita saling jaga.”
Suasana menjadi hangat — terlalu hangat hingga Aria buru-buru mengalihkan pandangannya.
“T-Tapi Master harus tetap datang ke ruang kepala guild… beliau menunggu sejak pagi.”
Kusma mendengus.
“Oh iya. Kita mau dibantai secara administrasi.”
Aria tertawa.
“Bukan ‘dibantai’, Master… melainkan menerima penghargaan.”
⭐ MENUJU GUILD — SEMUA MATA TERTUJU
Saat Kusma & Aria melangkah masuk ke bangunan guild, seluruh petualang langsung menoleh.
Beberapa berbisik:
“Lihat, itu mereka…”
“Pembunuh Orc Lord…”
“Anak itu Rank C tapi kuatnya…”
Aria bergidik kecil karena tatapan banyak orang, tapi Kusma berjalan santai seolah tidak merasakan tekanan apapun.
Mereka tiba di ruangan kepala guild.
Tok tok.
“Masuk,” suara berat terdengar.
Kusma membuka pintu.
⭐ RAPAT BESAR BERSAMA KEPALA GUILD
Ruang kerja kepala guild dipenuhi beberapa orang penting:
- Wakil guild
- Kepala administrasi ranking
- Dua petualang senior
- Dan kepala guild Leafden sendiri
Pria besar itu duduk sambil menatap Kusma dan Aria dengan intens.
“Kalian berdua. Duduk.”
Kusma duduk santai.
Aria duduk rapi, tangan di pangkuan.
Kepala guild membuka selembar laporan.
“Pertama… aku ingin menyampaikan ini.”
Ia berdiri.
Dan membungkuk dalam.
“Terima kasih sudah menyelamatkan Leafden.”
Aria tersentak kecil.
Kusma memalingkan wajah malu.
Kepala guild melanjutkan:
“Serangan Orc kemarin akan membantai seluruh desa jika bukan karena kalian. Bahkan petualang B-rank sekalipun akan kesulitan menghadapi Orc Captain, apalagi Orc Lord.”
Ia menatap Kusma.
“Dan kalian bukan cuma bertahan… tapi menang.”
Ruangan menjadi hening.
Kemudian kepala guild mengambil medalion perunggu dan naik satu tingkat warna.
⭐ KENA RANK UP — KUSMA & ARIA
“Mulai hari ini…”
Ia mengangkat dua lencana.
Satu dengan simbol pedang untuk Kusma.
Satu dengan simbol bulan untuk Aria.
“…kalian resmi diangkat menjadi Petualang Rank B.”
Semua orang di ruangan berdiri dan memberi tepuk tangan.
Aria menutup mulut, terkejut.
“Master… Rank B…”
Kusma mengangkat alis.
“Lumayan. Bisa ambil quest yang lebih mahal.”
Aria tertawa pelan.
Kepala guild mendesah.
“Saya tidak tahu sebenarnya apa kalian… monster? calon hero? atau… petualang beruntung.”
Ia menatap Kusma tajam.
“Tapi aku tahu satu hal.”
Ia menunjuk mereka berdua.
“Kalian akan jauh melampaui kota ini.”
Kusma dan Aria terdiam.
⭐ REKOMENDASI KE IBU KOTA
Kepala guild mengeluarkan gulungan surat emas.
“Ini adalah Surat Rekomendasi Khusus ke Ibu Kota — Royal Capital Argent.”
Wakil guild ternganga.
“Itu hanya diberikan kepada petualang elite yang diinginkan kerajaan…”
Kepala guild mengangguk.
“Kusma. Aria. Jika kalian mau… aku ingin kalian pergi ke Ibu Kota.”
Ia memandang Aria.
“Kamu, gadis penyihir. Kekuatanmu tidak berada pada level kota kecil.”
Lalu ia menatap Kusma.
“Dan kamu… anak pedang es.”
Aura kecil tekanan tiba-tiba keluar.
“…kau bukan sekadar Rank B. Bukan juga Rank A. Kau lebih… tapi aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan.”
Aria menegang.
Kusma tetap tenang.
Kepala guild tersenyum tipis.
“Tidak usah jawab. Semua orang punya rahasia. Aku hanya ingin kalian pergi ke tempat yang lebih besar.”
Kusma menatap Aria.
Aria menatap kembali.
“…Master… aku mengikuti keputusan Anda.”
Kusma menghela napas.
“Kalau begitu… kami terima.”
Kepala guild meletakkan surat itu di meja mereka.
“Bagus. Bersiaplah. Ibu kota menunggu dua monster kecil ini.”
—