43.5. Cerita sampingan
Update

43.5. Cerita sampingan

 CHAPTER 45.5 — BISIKAN DI RUANG MEDIS

Matahari pagi masuk lewat jendela kecil ruang medis, menciptakan cahaya hangat di sekitar ranjang Aria.
Ia sudah bangun, duduk bersandar pada bantal, sementara Kusma duduk di sisi ranjang, wajahnya tampak lega namun… sedikit khawatir.

Aria memperhatikan ekspresi itu.

“Master… kenapa menatap saya seperti itu?”

Kusma menggaruk pipinya.
“…Nggak apa-apa. Cuma… kamu bikin aku khawatir kemarin.”

Aria menunduk malu.
“Maaf… saya membuat Master cemas…”

Kusma menggeleng.

“Yang bikin aku khawatir bukan cuma karena kamu kehabisan MP.”
Ia mencondong sedikit ke depan.
“Tapi karena kamu tidak bilang kapan kamu mulai kesakitan.”

Aria terdiam beberapa detik.
Lalu… memeluk lutut kecilnya dengan tangan, suara pelan:

“Saya tidak ingin menjadi beban…”

Kusma menghela napas panjang dan dengan lembut menepuk kepala Aria.

“Kamu bukan beban, Aria.”

Aria tersentak kecil, pipinya memerah karena sentuhan itu.

“Ma… Master…”

Kusma melanjutkan, suaranya lembut tapi tegas:

“Kamu partner-ku. Kamu orang yang paling aku andalkan. Kamu bukan beban—sebaliknya, aku yang mungkin nggak bisa bertahan tanpa kamu.”

Pipi Aria makin merah.

Aria menatap Kusma, mata biru lunarnya bergetar.

“Master mengatakan itu… serius?”

Kusma menatap langsung ke matanya.

“Serius.”

Aria menunduk, jemarinya meremas selimut.

“…Kalau begitu… bolehkah saya… meminta sesuatu?”

“Boleh.”

Aria kehabisan kata sejenak, wajahnya makin merah.

“…Setelah kita sampai ibu kota… saya ingin selalu berada di sisi Master. Bukan hanya sebagai support.”

Kusma menatapnya.
Tidak tersenyum, tidak bercanda, hanya… menatap.

Dan tangannya bergerak tanpa sadar—

mengusap rambut Aria perlahan.

Aria membeku seketika, lalu matanya menutup sedikit menikmati sentuhan itu.

“Master…”

Kusma berkata pelan:

“Selama kamu mau, aku nggak akan menjauh.”

Aria meletakkan tangan kecilnya di atas tangan Kusma yang mengusap rambutnya.

“…Terima kasih…”

Ada jeda hening yang manis.
Aria menatap Kusma dengan senyum kecil, lebih lembut dari biasanya.

“Master… bolehkah saya melakukan satu hal lagi?”

“Hmm?”

Aria condong sedikit maju — sangat sedikit — kemudian…

menyentuhkan dahinya ke bahu Kusma.

Hanya sebentar.
Tapi cukup membuat Kusma membeku sejenak.

Aria berbisik:

“…Sebagai… ucapan terima kasih… karena sudah kembali untuk saya.”

Kusma menarik napas halus.

“…Aria.”

Aria buru-buru mundur, pipinya merah seluruhnya.

“Ma-Maaf! Itu terlalu berani, bukan? Ma—”

Kusma menyentuh kepalanya lagi, lebih lembut.

“Nggak apa. Aku suka.”

Aria berhenti bicara.
Wajahnya seperti ingin meledak.

“Ma-Master… bilang begitu… akan membuat saya… salah paham…”

Kusma tersenyum kecil.

“Biarkan saja.”

Aria menutup wajah dengan kedua tangan.

“Uuuuh… Master jahat…”

Tapi di sela-sela jari, Kusma bisa melihat…

Aria tersenyum.