CHAPTER 9 — Bayangan Serigala Menguntit

 CHAPTER 9 — Bayangan Serigala Menguntit

Guild Leafden berubah kacau dalam hitungan detik.

Petualang Rank D dan E langsung berlari keluar, mengambil potion, memasang armor, mempersiapkan formasi kecil. Beberapa healer menyiapkan tas obat. Resepsionis Mira memberikan instruksi cepat kepada setiap tim.

Kusma berdiri di tengah ruangan, masih memegang pedangnya yang tumpul.

Dark Wolf, cuy… Yang kemarin hampir nuklir hidup gue. Dia ngejar sampai sini? Serigala apa GPS?

Instruktur arena—pria berotot yang tadi menguji Kusma—menghampirinya.

“Kusma. Kau belum Rank E, jadi tidak diwajibkan ikut. Tetap berada di dalam guild dan jangan berkeliaran.”

“O-oke, pak.”

Namun sebelum Kusma benar-benar mundur…

Seorang petualang wanita muda Rank E—pakaian leather armor, rambut coklat—berlari masuk sambil menarik napas berat.

“Luka… luka parah! Ada dua korban! Mereka diserang di jalan barat kota!”

Para healer segera berlari menghampirinya.

Wanita itu menunjuk ke luar sambil gemetar.

“Itu bukan serigala biasa… matanya merah… gerakannya cepat sekali… seolah—”

“Seolah memburu sesuatu.” Mira menyelesaikan kalimatnya, tatapannya tertuju pada Kusma.

Kusma terpaku.

Jangan-jangan ketahuan. Gue jadi target quest, bukan? Tapi kenapa? Gue cuma numpang lewat bro…

Instruktur mendekat, suaranya serius.

“Apa kau bertemu Dark Wolf itu sebelumnya?”

Kusma menahan napas.

“…Mungkin. Waktu di hutan.”

Beberapa petualang yang mendengar langsung memandangnya.

“Jadi dia punya alasan mengejar bocah ini?”
“Gawat kalau itu dark wolf teritorial…”
“Atau dia ditandai…”

“Diam dulu,” potong Mira.

Ia mendekat ke Kusma.

“Kusma. Jika benar dia mengincarmu… berarti bahaya bisa masuk ke dalam kota.”

Kusma merinding.

“Bro… jangan-jangan gara-gara gue kota jadi kacau? Tolong jangan sampai arc early tragedy…”

Mira menatapnya, tidak agresif, tapi tegas.

“Kau punya pengalaman menghadapi monster itu?”

Kusma berpikir cepat.

Kalau gue bilang iya, gue diseret ke depan. Kalau bilang tidak, mereka makin tidak siap.

Akhirnya ia menjawab:

“…Sedikit. Saya tau gerakannya. Saya selamat sekali.”

Instruktur mengangguk puas.

“Bagus. Kami butuh seseorang yang pernah melihatnya bertarung.”

“Eh?”

“Kau ikut kami.”

“HEH—?”

BRO!? RANK F BARU LULUS TES BARUSAN MASSA APAAN!?!?




>>>>>DLuar Guild — Beberapa Menit Kemudian<<<<<<

Kusma akhirnya terseret juga.

Tim kecil terdiri atas:

  • Kael, Knight Rank D

  • Roviel, Healer Rank E

  • Sera, Ranger Rank E (yang tadi luka ringan)

  • Kusma, Adventurer Rank F yang pasrah dengan nasib

Kael menatap Kusma serius.

“Dengar. Kau tetap di tengah formasi. Jangan menyerang kecuali perlu. Kami hanya butuh informasi mengenai pergerakan Dark Wolf.”

“Oke, siap, siap.”

Gue siap mati lebih tepatnya… jangan-jangan ini sidemission mati konyol?

Tim bergerak ke jalan barat kota.

Rumah-rumah yang sebelumnya ramai kini sunyi. Lilin di jendela bergetar tertiup angin dingin.

Sera menunjuk ke depan.

“Di sana… tempat kami menemukan korban.”

Mereka tiba di sebuah jalan yang menuju pinggir hutan. Tanahnya robek—bekas cakaran. Pohon roboh. Darah menempel di rumput.

Roviel memeriksa jejak.

“Masih hangat. Dia belum jauh.”

Kael mengeluarkan pedang.

“Semua bersiap—”

WUUUSSSHHH.

Angin dingin menerpa rambut Kusma.

Sensor alarm di kepala Kusma langsung menyala.

WOI?! Ada yang nggak beres—

────────────────────────
[Passive Triggered: Survival Instinct Lv.1]
→ Bahaya besar terdeteksi
────────────────────────

Kusma spontan melompat mundur.

“AWAS!”

BRAAAKKK!!

Sebuah bayangan besar menerjang dari samping semak—melintas tepat di tempat Kusma berdiri tadi.

Kael mengangkat pedang dan menahan serangan itu.

“GUHH—! Berat!”

Cahaya bulan menerpa makhluk itu.

Dark Wolf.

Lebih besar dari serigala normal, bulu hitam kusam, dan ada bekas luka cakar di bahunya—bekas pertempuran mereka di goa.

Matanya merah menyala.

Tapi yang membuat Kael dan Sera pucat adalah…

Serigala itu tidak menyerang mereka.

Melainkan terus mengarahkan tatapannya lurus ke Kusma.

Sera mendesis.

“Dia… dia benar-benar mengincar bocah itu!”

Dark Wolf menggeram rendah.

Grrrrrr…

Kusma mundur langkah demi langkah.

Bro… kenapa gue?! Apa karena gue ambil lootnya? Atou menjajah goanya? Atau sistem nge-bug? Gini amat hidup baru…

Kael berteriak:

“Ranger! Cegah dia kabur! Healer, backup!”

Dark Wolf menunduk… otot kakinya menegang.

Kusma tahu apa yang akan terjadi.

FUCK—CHARGE MODE!

“DASH STEP!”

Kaki Kusma melesat ke kanan bersamaan waktu Dark Wolf menerjang, mulutnya membuka lebar, taring mengkilap.

Dark Wolf berbelok cepat, mencakar tanah, dan mengincar lagi.

“Kael! Tahan dia!”

Kael menangkis serangan samping.

Sera melepaskan dua panah bertubi-tubi.

TAP! TAP!

Tapi Dark Wolf menghindar tanpa usaha berarti, bergerak zig-zag dengan presisi mematikan.

Roviel menjerit.

“I-ini bukan monster level rendah! Ini seperti Dark Wolf jenis elite!”

Dark Wolf melompat lagi—arahnya tetap sama.

Kusma.

AH BANGKE DIA NGOTOT AMA GUE AJA INI MAMANK SERIGALA MASALAHNYA APA!?!

Kusma menahan pedang… tapi tubuh besar Dark Wolf menabraknya keras.

BLARR!!

Kusma terpental ke tanah, punggungnya menghantam tanah berbatu.

HP-nya bergetar:

────────────────────────
HP -32
HP: 138/170
────────────────────────

UHUK— sakit… woi serius ini kek tabrakan motor!

Dark Wolf mengeluarkan suara rendah… seolah memperingatkan.

Tapi bukan untuk Kael dan tim.

Untuk Kusma.

Kael berteriak:

“KUSMA! JAUHI DIA! DIA SUDAH MENANDAIMU!”

Marking.

Kata yang membuat semua petualang terdiam.

Sera menatap ngeri.

“Makhluk itu menganggapmu ancaman atau… miliknya. Selama tanda itu ada, dia TIDAK akan berhenti.”

Kusma berdiri, tangan gemetar.

Dark Wolf menunduk, siap menyerang untuk ketiga kalinya.

Tenggorokan Kusma kering.

Gue harus lawan…? Nggak mungkin. Levelnya masih di atas. Damage gue kecil. Skill cuma Dash Step. Tapi kalau gue cuma kabur… semua orang bisa mati gara-gara gue.

Dark Wolf melangkah maju, tanah bergetar pelan.

Kael bersiap membantu, tapi serigala itu jauh lebih cepat.

Mata merahnya menatap Kusma… seakan menuntut pertarungan.

…Gue bukan hero. Gue gamer biasa. Tapi kalau gue mati ya tamat. Kalau mereka mati gara-gara gue, lebih parah.

Kusma menggenggam pedangnya kuat-kuat.

Oke bro… kalau lu mau gue… ya kita ngegas bareng.

Dark Wolf membuka mulutnya.

Kusma mengambil posisi rendah.

Dan bentrokan pertama yang sebenarnya…

akan dimulai.


END OF CHAPTER 9



Chaper List: