Chapter 1 Bangun di World Atelier (Revisi)

CHAPTER 1 — Bangun di Dunia Gacha

“Reset di Dunia Gacha”

Angin sore bergerak lembut menyusuri jalan di pinggir kota. Matahari mulai turun, mencampur cahaya oranye dengan aroma gorengan baru matang. Di sebuah warung kecil pinggir jalan, seorang pemuda bernama Kusma, 19 tahun, duduk santai sambil memainkan HP-nya.

Namanya Kusma. Game favoritnya adalah “World Either”, sebuah RPG gacha dengan ratusan karakter, dunia yang tampak terlalu hidup untuk sekadar game. Sudah dua tahun Kusma bermain, menghabiskan banyak waktu — dan sedikit uang — untuk mengumpulkan karakter peringkat tinggi.

Tangannya memegang HP dengan posisi paling sakral: dua jempol siap menekan tombol “10x Summon”. Napas ditahan, kening sedikit maju — pose khas para pejuang gacha sejati.

“Ya Allah, pity 87… please dong,” gumamnya sambil menekan tombol gacha.

Sambil menunggu animasi loading, ia menggigit gorengan tahu isi yang baru dibelinya. Di sekitarnya, anak-anak tertawa, motor lewat, penjual menata gorengan, bapak-bapak menonton bola. Semua terdengar biasa, tapi bagi Kusma, satu kenyataan yang penting: gacha.

Animasi muncul. Cahaya biru menurun dari langit, seperti biasa. HP bergetar pelan.

“Ah… biru lagi,” desahnya kecewa.

Ia mencoba lagi, menelan gorengan lain.

“Kalau nggak dapat B5… gw uninstall sumpah.”

Tiba-tiba, warna berubah. Kilatan emas terang muncul — sangat jarang terlihat.

“Apakah… B5?! Akhirnya!”

Kusma berdiri dari kursi sambil tertawa kecil, membuat penjual gorengan melirik bingung. Tapi sebelum animasi selesai…

TEEEETTTTTT!!!
Suara klakson memekik di udara. Sebuah mobil pickup kehilangan kendali dan meluncur ke arah warung.

Orang-orang berteriak. Gerakan terasa lambat. Kusma sempat melihat animasi B5-nya yang belum selesai — lalu cahaya emas berubah putih. Dan semuanya lenyap.


🌫️ Di Antara Hidup dan Mati

Kegelapan. Sunyi. Dingin.
Tidak ada suara, tubuh, atau rasa.
Kusma seakan mengambang dalam kekosongan.

“…Hah?”

Cahaya kecil muncul jauh di atas, lalu runtuh seperti pecahan kaca, membentuk gambar yang sangat ia kenal: UI game World Atelier.

Di tengah layar, sebuah panel menunggu:

[Konfirmasi Transfer Karakter?]
→ Karakter KUSMA

“Transfer… karakter? Bukannya aku… mati?”

Cahaya membungkus tubuhnya seperti spiral. Suara sistem bergema:

[Selamat Datang, Player.]
[Anda memasuki dunia World Atelier.]

Kusma ingin berteriak, ingin melaw hian, tapi tubuhnya seperti jatuh ke lubang cahaya tanpa dasar.


🌅 Respawn… di Dunia Gacha

Kusma terbatuk kecil. Napasnya tersengal, paru-parunya terasa dipaksa bekerja setelah lama berhenti. Ia membuka mata perlahan.

Langit biru yang terlalu bersih untuk dunia nyata tampak di atasnya. Awan bergerak pelan, seperti lukisan hidup. Di bawahnya, hamparan rumput lembut menyelimuti tanah. Hangat terkena matahari pagi.

“A…pa ini…?”

Kusma menatap tangannya. Kulitnya bersih, halus, tanpa bekas luka atau noda gorengan. Jari-jari bergerak cepat, responsif, seperti tubuh “disetel ulang”.

“…apakah ini tanganku?”

Ia berdiri. Langkah pertama stabil, terlalu stabil untuk orang yang baru saja “hidup kembali”.

“Jadi… aku mati? Ditabrak… terus… kenapa aku di sini?”

Kusma menepuk pinggang. Tidak ada kantong, tidak ada sarung pedang, tidak ada starter kit.

“…jadi aku spawn tanpa senjata? Tanpa apa-apa?”
“Bangke… usaha gw selama 2 tahun hilang begitu saja!”

Sensasi takut perlahan merayap naik. Kalau ini dunia game… dan ia masuk tanpa perlengkapan… bisa mati lagi?

Ia menarik napas panjang. Lalu terdengar bunyi halus berdenting seperti lonceng kristal. Sebuah jendela hologram muncul di depan wajahnya. Transparan, bercahaya biru lembut, panel status bergerak seperti di game.

────────────────────────
NAMA : KUSMA
ROLE : ??? (Belum dikonfirmasi)
LEVEL : 1
HP : 120
MP : 20
ATK : 5
DEF : 3
EQUIP : —
ITEM : —
Batu Summon : 0
Partner : 0
EXP : 0 / 20
────────────────────────

Keheningan jatuh lagi.

“…Ini… UI World aither.”

Ia menatap panel lama, berharap ini hanya mimpi. Tapi cahaya biru itu nyata. Ia mengepalkan tangan, bibir bergetar.

“Aku… beneran masuk ke dalam game…?”

Dalam hati, ia bergumam:

“Dan aku sendirian. Tanpa senjata. Tanpa karakter lain. HP cuma 120… ATK cuma 5… aku kayak newbie banget. Dua tahun main, semua persiapan… hilang begitu saja. Oke… tenang. Aku tahu aturannya… tapi tanpa partner… apa aku bisa bertahan? Kalau mati… beneran mati… ini nggak ada tombol respawn lagi kan?”

Angin berhembus lembut, rumput bergoyang. Dunia baru ini damai, tapi justru karena damai, Kusma merasa ngeri. Ia benar-benar respawn dari nol.


Chaper List: