CHAPTER 25 — SKILL DAN STRATEGI
Kusma menatap layar interface di hadapannya, jari-jarinya menari di udara, menyorot skill Aria satu per satu. Cahaya hologram menyorot ruangan, membuat rambut perak Aria berkilau lembut.
“Lihat ini, Aria,” Kusma mulai, serius. “Lunar Mend, healing besar. Moonlight Barrier, shield yang sangat kuat. Starfall Dust… debuff area. Astral Tether… buff langsung ke aku. Kombinasi ini… terlalu OP.”
Aria duduk di sampingnya, tangan menatap staff dengan bangga tapi malu. “Kalau itu membuat Master aman… Aria senang,” katanya, suara lembutnya seperti lonceng kecil.
Kusma menghela napas. “Aku ingin kamu benar-benar paham bagaimana aku ingin kita berkoordinasi di medan tempur. Misalnya… aku bisa rush ke depan, tapi kalau musuh terlalu banyak, kamu bisa jaga midline dengan barrier dan buff. Paham?”
Aria menatap matanya tajam, kemudian mengangguk mantap. “Paham. Master mau aku tetap di belakang, menjaga, tapi siap ikut menyerang kalau dibutuhkan.”
Kusma tersenyum tipis. “Bagus. Tapi kalau aku kena hit berat?”
Aria cepat menyentuh tangan Kusma, menatap serius. “Kalau HP Master di bawah 30%, Moon-Linked Souls akan aktif. Mini-barrier dan heal otomatis. Jadi… Master tidak perlu khawatir.”
Kusma tersentak sedikit, kagum. “Wow… otomatis? Itu berarti aku bisa fokus ke serangan tanpa takut mati mendadak.”
Aria menunduk malu, tangan sedikit gemetar. “Mm… Aria… ingin selalu menjaga Master… sampai benar-benar aman.”
Kusma menepuk kepala Aria dengan ringan, setengah bercanda. “Hati-hati, kalau kamu terus bilang begitu, aku bisa jadi terlalu nyaman dan kehilangan fokus di battle.”
Aria memelotot kecil, pipinya memerah. “Master… itu bukan masalah. Aria bisa fokus. Fokus ke Master, fokus ke skill… semuanya fokus ke Master.”
Kusma tertawa kecil, lalu menatap skill-nya sendiri di window. “Oke, sekarang giliran aku. Aku punya Dash Step Lv.4, pasif Survival Instinct Lv.3 dan Counter Instinct Lv.2. Ini artinya aku bisa dodge sebagian besar serangan dan kadang balik menyerang. Tapi aku masih ragu… harusnya aku lebih agresif atau defensif?”
Aria mencondongkan tubuhnya, tangan memegang dagu. “Master… aku pikir… kombinasi kita idealnya midline—Master di depan sedikit, menyerang, tapi selalu ada buffer dan heal dari Aria. Jadi… kamu bisa agresif, tapi tidak terlalu berisiko.”
Kusma mengangguk, merasa lega. “Setuju. Kalau begitu… strategi kita sederhana: aku frontline, Aria midline support. Aku jaga serangan, Aria jaga HP dan buff. Kalau ada musuh besar, kita kombinasikan Astral Tether + Dash Step untuk mobility dan survivability.”
Aria tersenyum manis, menempel sedikit ke bahu Kusma saat menatap layar. “Mm… Master, aku senang bisa berdiskusi strategi dengan Master… rasanya… dekat.”
Kusma menatapnya, sedikit tersipu. “Dekat… ya. Jangan terlalu dekat, nanti aku kehilangan fokus.”
Aria menekuk bibirnya, malu tapi manis. “Master… jangan khawatir. Aria tahu batas… tapi tetap ingin berada di samping Master.”
Kusma tersenyum tipis, merasakan hangat di dada. Strategi battle mereka mungkin sempurna… tapi chemistry yang berkembang di kamar itu… jauh lebih berbahaya.