CHAPTER 3 – Malam Pertama di Dunia Gacha
Langkah Kusma menembus hutan yang mulai gelap. Cahaya jingga matahari perlahan menghilang di balik pepohonan tinggi, meninggalkan bayangan yang makin panjang dan membuat suasana berubah dari damai menjadi… agak creepy.
“Astaga… baru juga respawn, udah vibes-vibes hutan horor jam enam sore.”
Ia memegang ranting panjang yang sekarang sudah ia anggap sebagai “Pedang Legendaris Ranting +0”. Grip-nya jelek, damage-nya amburadul, tapi ya… itu saja yang ia punya.
Angin bertiup pelan, membuat dedaunan berdesir.
Tep
Tep
Entah kenapa suara langkahnya terdengar lebih keras dari biasanya. Atau memang hutannya terlalu sunyi.
Kusma menggigit bibir.
“Oke… fokus. Cari tempat aman dulu sebelum hari semakin gelap.”
Setelah berjalan beberapa menit, ia melihat sesuatu—bukan monster, bukan slime, tapi semacam tebing kecil dengan rongga di bagian bawahnya.
“…Goa?”
Goalnya cukup besar , tapi cukup untuk dijadikan tempat berteduh. Kusma mendekat pelan, ranting diangkat ke depan.
“Semoga aja nggak ada beruang… atau goblin… atau slime gede… atau—”
TREEETTTK!
Sebuah ranting di dalam goa patah. Kusma refleks mundur tiga langkah.
“AH KAMPRET APA ITU.”
Bayangan kecil muncul dari dalam, bergerak… lalu keluar.
Seekor Rabbit Horn level 2.
Kelinci kecil dengan tanduk mini. Mukanya imut, tapi jangan tertipu—di game Eternal Gacha, monster ini terkenal suka charge ke arah pemain newbie sampai mental pecah.
Kusma menelan ludah.
“…Bro, aku cuma numpang tidur doang. Bisa kompromi?”
Rabbit Horn itu menaikkan posisi tubuh, siap menyeruduk.
“Oke, nggak bisa kompromi.”
Kelinci itu melompat.
Kusma menghindar, menubruk tanah, lalu memutar tubuh sambil menebas rantingnya.
TOK!
Rantingnya patah dua.
“AH GOBLOK.”
Rabbit Horn itu menyiapkan charge kedua.
Tanpa senjata, tanpa shield, tanpa armor… refleks gamer bertahun-tahun melakukan hal paling pure survival apa itu? Yap.
LARI.
Kusma kabur sambil menutup kepala dengan tangan. Rabbit Horn mengejar, tanduknya menusuk udara beberapa centimeter di belakang punggung Kusma.
“KENAPA KELINCI BEGINI GA ADA DI DUNIA NYATA?!”
Saat ia hampir terpeleset akar pohon, tiba-tiba—
[ ✔ QUEST TERBUKA ]
“Bertahanlah di Dunia Baru – Prolog”
→ Hindari serangan monster apapun sampai muncul notifikasi berikutnya.
“Hah!?”
Itu quest baru!
Rabbit Horn melompat lagi. Kusma berbelok tajam ke kiri, masuk ke antara dua pohon besar. Napasnya ngos-ngosan.
Setelah beberapa detik berlari zig-zag—
TIDING!
Suara notifikasi berdenting.
[ ✔ QUEST COMPLETE ]
Reward:
-
Level Up (1 → 2)
-
Stat Points +3
-
Passive Unlocked: [Awaken: Survival Instinct Lv.1]
Kusma berhenti. Napasnya tersengal, tapi matanya melebar.
“Passive…? Gw dapet passive?!”
Di World Alteir, passive itu emas—bahkan karakter B5 pun dikejar karena passive-nya.
Ia membuka panel status yang muncul otomatis.
────────────────────────
NAMA : KUSMA
Role : ???
Level : 2
HP : 170
MP : 25
ATK : 7
DEF : 5
Passive:
→ [Survival Instinct Lv.1]
Ketika berada dalam bahaya mematikan, kecepatan reaksi meningkat 20%.
────────────────────────
Kusma terdiam.
“…HAHAHA GILA. BARU LEVEL 2 UDAH DAPET PASSIVE.”
Rabbit Horn menghentikan pengejaran, tampak bingung, lalu lari ke hutan lain.
Kusma menatap goa kecil tadi.
Kali ini, tanpa monster.
Dengan hati-hati, ia masuk. Goa itu kosong, hanya batu dan tanah. Namun kering, cukup luas, dan aman dari angin.
“Lumayan… hostel gratis semalam.”
Ia duduk bersandar ke dinding batu, napas mulai stabil.
Dari jauh terdengar suara burung malam dan gemerisik hutan. Langit luar mulai gelap biru. Bintang-bintang muncul pelan—jernih, indah, dan terlalu nyata untuk “game”.
Kusma memeluk lututnya, menyadari satu hal:
“…Gw beneran hidup di sini sekarang.”
Namun berbeda dari kepanikan sebelumnya, kali ini ia tersenyum kecil.
Ada rasa takut, iya.
Tapi ada semangat juga.
“Level up pertama… passive pertama… quest pertama… hidup gw mulai kayak karakter isekai beneran.”
Ia berbaring di lantai goa, menatap atap batu.
“Besok… gw bakal cari tempat kota. Cari NPC. Cari cara buat dapet batu summon. Gw bakal bangun tim. Gw bakal jadi top rank di dunia ini.”
Angin malam masuk. Dingin, tapi menenangkan.
Kusma memejamkan mata.
Di dunia nyata… hidupnya standar.
Di sini… hidupnya baru dimulai.