CHAPTER 29 — UJIAN SESUNGGUHNYA: MONSTER RANK D
Suasana Training Hall perlahan mereda ketika cahaya simulasi menghilang.
Rune-rune yang tadinya menyala terang kembali meredup, menyisakan lapisan tipis debu sihir yang jatuh ke lantai.
Kusma menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang masih bersisa cepat.
Aria segera berlari kecil mendekat. “Master! Anda tidak apa-apa?”
Kusma mengangguk sambil meregangkan tangan. “Cuma sedikit capek. Tapi… kita berhasil.”
Aria tersenyum lega, namun matanya masih penuh kekhawatiran. Mini-barrier dari Bond Passive tadi benar-benar menyelamatkan Kusma.
Namun sebelum mereka bisa berbicara lebih jauh, suara pelan namun tegas terdengar dari sisi ruangan.
“Bukan hanya berhasil,” kata Raik sambil turun dari platform pengamat. “Kalian… menghabisi Dummy Wolf Rank D tanpa satu kesalahan besar.”
Kusma dan Aria menoleh.
Raik berjalan mendekat, menepuk-nepuk sarung tangan kulitnya. Tatapannya tidak lagi sinis seperti sebelumnya—sekarang justru penuh evaluasi tajam.
“Aku sudah menguji banyak duo Rank E sebelumnya… tapi kalian berbeda.”
Ia berhenti beberapa langkah di depan Kusma.
“Terutama kau. Cara membaca pola gerakan… .”
Kusma mengangkat pundak. “Aku hanya berusaha bertahan hidup.”
“Hmph. Rendah hati sekali.” Raik mendengus. “Tapi itu bagus. Petualang yang sombong biasanya mati duluan.”
Aria menelan ludah ketika mata Raik beralih padanya.
“Dan kau… Aria, ya? Partner F-rank yang baru terdaftar.”
Aria menunduk sopan. “Ya, saya.”
Raik mengamati staf, gerakan casting, dan postur Aria dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“…Mana MP-mu tidak normal untuk Rank F,” gumamnya.
Aria sedikit panik. “Eh—itu karena saya… tipe support, jadi… um…”
Raik mengangkat tangan. “Tenang. Aku bukan penyihir. Aku tidak tahu cara membaca MP orang.”
Ia menguap kecil, lalu tersenyum.
“Tapi jelas, buff dan barrier-mu… kualitasnya jauh di atas mage Rank F.”
Kusma mengetatkan genggaman pedangnya. “Jadi? Itu masalah?”
Raik menggeleng. “Tidak. Justru sebaliknya.”
Ia menepuk kartu guild di pinggangnya.
“Karena itu… kalian lolos tahap pertama. Dengan nilai tinggi.”
Aria langsung menatap Kusma dengan mata berbinar.
“Kita… lolos?”
Kusma tersenyum. “Baru tahap satu. Masih ada tahap dua.”
Raik menunjuk pintu keluar Training Hall.
“Ambil waktu lima belas menit untuk istirahat, minum, dan siapkan perlengkapan.”
Lalu ia menatap Kusma dengan ekspresi serius untuk pertama kalinya.
“Karena tahap dua adalah ujian sebenarnya.”
Cahaya rune di dinding menyala samar ketika Raik melanjutkan dengan suara rendah:
“Kalian harus mengalahkan monster Rank D sungguhan.”
Udara seketika terasa lebih berat.
Di ruang kecil dekat lobi guild, berbagai petualang melirik ketika Kusma dan Aria masuk. Beberapa membisikkan sesuatu.
“Itu anak baru? Katanya dia luar biasa..
“Yah, kita lihat saja nanti. Rank D Trial bukan main-main.”
“Raik sampai turun tangan? Serius?”
Aria tampak sedikit gelisah, tapi Kusma menyentuh bahunya ringan.
“Tidak usah hiraukan,” katanya pelan.
Aria mengangguk. “Iya, Master.”
Tak lama, Mari membawa setumpuk kertas quest dan meletakkannya di atas meja.
“Ini dia.”
Ia menunjuk salah satu kertas bergambar siluet babi hutan besar.
【Quest Rank D — The Alpha Boar】
Kusma mengernyit. “…Boar Alpha?”
Mari mengangguk serius.
“Betul. Babi hutan ini jauh lebih kuat dari Boar biasa. Tubuhnya dilapisi tulang keras, dan sering menjatuhkan petualang pemula.”
Aria menggigit bibirnya gugup. “Apakah… berbahaya?”
Mari menjawab,
“Cukup berbahaya. Tapi masih level yang cocok untuk Rank D Trial. Dan kalian tidak akan sendirian.”
Ia melirik Raik yang kini berdiri dengan gaya tangan terlipat.
“Raik akan memantau kalian dari belakang. Tapi ingat…”
Mari memandang dua-duanya, suaranya berubah tegas.
“Dalam ujian ini, kalian berdua yang bertarung. Raik hanya memantau.”
Kusma mengangguk.
Aria menelan ludah.
Mari menyerahkan map kecil berisi lokasi.
“Lokasi Alpha Boar ada di bagian barat hutan luar Leafden. Waktu tempuh sekitar satu jam.”
Raik menguap. “Baiklah. Kalau kalian sudah siap, kita berangkat.”
Aria menatap Kusma. “Master… aku akan melakukan yang terbaik.”
Kusma menepuk kepala Aria dengan lembut.
“Aku tahu.”
— Menuju Hutan Barat —
Angin sejuk berhembus membawa bau tanah basah saat mereka memasuki jalan setapak menuju hutan. Cahaya matahari menembus celah dedaunan, menciptakan pola-pola cahaya di tanah.
Aria berjalan sedikit di belakang Kusma, tangannya memegang staf dengan erat.
“Master… apakah Boar Alpha benar-benar kuat?”
“Cukup kuat,” jawab Kusma.
“Tapi kita sudah menghadapi monster yang lebih berbahaya di Deep Forest, ‘kan?”
Aria mengangguk.
“Benar… tapi…”
“…tapi kau takut gagal ujian?” tebak Kusma.
Aria menunduk. “Iya…”
“Tidak apa-apa. Aku juga gugup,” kata Kusma sambil tersenyum kecil.
Aria terkejut. “Master gugup?!”
“Tentu saja. Ini ujian pertama kita sebagai duo resmi.”
Aria menatap Kusma dengan mata yang lebih lembut.
“…Kalau begitu, aku akan bekerja keras. Agar Master bisa lulus.”
Kusma tersenyum.
“Dan aku juga akan bertarung sebaik mungkin. Untuk kita berdua.”
Di belakang mereka, Raik hanya mengamati sambil menghembuskan napas pendek.
“…Duo yang aneh,” gumamnya.
“Tapi sinkron sekali.”
— Tiba di Lokasi —
Hutan barat Leafden semakin gelap dan rapat ketika Kusma, Aria, dan Raik melangkah masuk lebih dalam. Cahaya matahari sulit menembus rimbunnya daun. Suara burung pun mereda, digantikan hembusan angin berat yang membawa aroma tanah lembab.
Aria menggenggam stafnya erat.
“Master… tekanan di sini terasa berbeda.”
Kusma mengangguk pelan. “Iya. Aku juga merasakannya.”
Raik, yang berjalan sedikit lebih depan, mendadak berhenti. Alisnya berkerut.
“Ini… bukan aura Boar Alpha biasa,” gumamnya.
Namun ia mencoba tetap santai. “Tapi ya sudah, mari kita cek lokasinya.”
Kusma menunduk, melihat tanah.
Bekas goresan… tapi jauh lebih dalam.
Bekas pijakan… terlalu lebar.
Akar pohon tercabut seperti diledakkan dari bawah.
Kusma menelan ludah.
“Kayaknya ini bukan—”
—
Sebelum ia selesai bicara, suara notif sistem muncul di benaknya.
> [WARNING]
[MONSTER DETECTED — RANK B]
Angin berhenti.
Daun-daun yang sedari tadi jatuh perlahan tiba-tiba membeku di udara.
Seolah seluruh hutan menahan napas saat sosok itu muncul dari balik semak raksasa.
Sebongkah tubuh hitam legam, dua kali lebih besar dari Boar Alpha biasa, melangkah maju dengan suara berat. Tanduk obsidian di kepalanya berkilau tajam, memantulkan cahaya matahari yang tertahan daun-daun.
【BLACKHORN BOAR — RANK B】
Tubuhnya dipenuhi lempengan tulang hitam yang menonjol seperti zirah alami. Nafasnya panas, dan setiap hembusan membuat tanah bergetar halus.
Kusma memajukan satu kaki, secara naluriah bersiap.
Tetapi matanya menyempit saat ia memperhatikan aura di sekeliling makhluk itu.
“…ini bukan level Rank D,” gumamnya pelan dalam hati.
Aria menoleh cepat, ekspresinya tegang.
“Master… monster ini—”
Ia berhenti sejenak, merasakan aura gelap yang menekan dadanya.
“…tingkat kekuatannya jauh lebih besar dari yang seharusnya.”
Kusma mengangguk kecil, tanpa mengatakan apa pun yang mencurigakan.
Raik, yang berdiri lima langkah di belakang mereka, langsung mengangkat kapaknya.
“APA-APAAN ini?!” serunya dengan nada panik, bukan sombong seperti biasanya.
“Ini bukan Boar Alpha! Ini jauh di atas level ujian!”
Kusma menelan ludah.
“Raik, kamu nggak tahu juga?”
“Tentu saja tidak! Jika aku tahu, aku sudah bilang!”
Aria memegang staf erat, napasnya sedikit gemetar.
“Master… tekanan monsternya terlalu kuat. Kita harus berhati-hati.”
Kusma menarik pedangnya, merendahkan tubuh.
“Aria, buff.”
Tanpa ragu, Aria mengangguk.
『Astral Tether — Activate』
Benang cahaya lembut menghubungkan Kusma dan Aria.
Energi hangat mengalir ke seluruh tubuh Kusma, menenangkan detak jantungnya, membuat gerakannya terasa lebih ringan.
Blackhorn Boar mendengus keras, menurunkan kepala raksasanya.
Tanah retak di bawah kakinya.
Aria merasakan intensitas energi monster melonjak.
“Master! Ia akan menyerbu!”
Kusma mengangguk. “Siap.”
Aria mengangkat staf ke depan, gerakannya tenang meski aura ancaman menusuk kulit.
『Moonlight Barrier』
Cahaya putih-perak meledak pelan, membentuk kubah besar yang menyelimuti Kusma.
Permukaannya seperti kaca bulan, halus namun bersinar kuat.
Blackhorn Boar menggores tanah sekali lagi—
Lalu menyerbu.
BRUAAAAAAAAAGH!!!
Serangan itu bukan sekadar charge.
Itu seperti panah raksasa yang ditembakkan oleh bumi itu sendiri.
Tanduk hitam menghantam barrier dengan suara dentuman yang mengguncang pepohonan hingga tumbang .
KRAAAAAANG!!
Ledakan angin menyapu daun dan debu.
Getaran menghantam perut Kusma dari belakang barrier.
Raik menutup wajah dengan lengan, terdesak beberapa langkah mundur.
Dari balik cahaya…
Barrier Aria masih utuh.
Hanya retakan tipis muncul di permukaan seperti retak rambut pada kaca.
Kusma melotot kecil.
“…Aria. Ini gila kuatnya.”
Aria menggigit bibir bawahnya, fokus penuh.
“Ini masih dalam batas yang bisa kutahan, Master… Tapi serangan kedua mungkin lebih keras.”
Blackhorn Boar mundur beberapa langkah sambil menggeram keras, tampaknya tidak percaya serangannya gagal menembus.
Raik memandang Aria, benar-benar terpana.
“Ini… ini bukan kualitas mage support Rank F. Barriernya… sangat kuat !”
Aria tidak menjawab. Fokusnya penuh pada arah monster.
Kusma menurunkan tubuh, membaca pergerakan kaki Blackhorn Boar.
“Aria. Setelah dia menyerang lagi, kasih aku buff percepatan.”
Aria langsung mengiyakan.
“Baik, Master.”
Blackhorn Boar mengguncang tanah dan menurunkan kepalanya lagi.
Serangan kedua.
Namun sebelum ia menyerbu, sebuah suara lembut muncul dalam benak Kusma:
[DANGER: IMPACT FORCE INCREMENT 230%]
Kusma merapatkan bibir.
‘Serangannya kali ini lebih gila…’
Tapi ia tidak bisa bilang itu secara langsung.
Aria meliriknya, lalu berbisik pelan:
“…Master, saya merasa pukulan yang berikutnya akan jauh lebih kuat. Mohon jangan menahan langsung.”
Kusma tersenyum tipis. Aria benar-benar memahami bahasanya.
“Tenang. Aku nggak akan bodoh.”
Blackhorn Boar melesat lagi.
BOOOOOM!!!
Barrier Aria menerima benturan kedua.
Retakan meluas.
Namun tetap bertahan.
Kusma merasakan getaran seperti gelombang petir dari dalam barrier.
Aria berkata lirih.
“Master… sekarang.”
Kusma tersenyum tipis.
『Dash Step』
『Quick Slash』
Aria mengayunkan staf.
『Astral Haste』
—buff kecepatan untuk menyerang.
Kusma melesat keluar dari barrier seperti anak panah.
Debu meledak.
Blackhorn Boar belum sempat menarik diri sepenuhnya dari benturan yang gagal.
Kusma melompat ke samping, membaca pola gerakan kakinya, melihat titik lemah di sisi perut monster.
Pedangnya menyalakan cahaya putih tipis.
Satu tebasan—
tepat ke titik lemah energi.
CRAAACK!!
Blackhorn Boar meraung kesakitan, tubuhnya terguncang hebat.
Raik terdiam melihat Kusma.
“Serius… itu bacaan pola monster tingkat tinggi. Bocah ini bukan Rank E.”
Aria mengarahkan stafnya lagi.
『Starfall Dust』!
Serbuk cahaya turun seperti hujan kecil, memperlambat monster yang marah.
Blackhorn Boar mengamuk, mengibaskan tubuhnya.
Tapi Kusma sudah bergerak.
“Aria! Kurangi kecepatannya lagi!”
“Baik, Master!”
Buff dan debuff berganti dalam ritme yang sempurna.
Kusma menebas
Blackhorn Boar menahan
Aria menahan serangan
Kusma menembus celah
Aria mendukung
Raik hanya bisa menatap
Duo Rank E-F ini…
bertarung setara Rank A.
Bahkan lebih baik.
Blackhorn Boar meraung terakhir kalinya, tubuhnya retak seperti batu pecah—
Kemudian meledak menjadi serpihan cahaya.
Hutan kembali sunyi.
Kusma mengatur napas sambil menancapkan pedang ke tanah.
Aria berlari kecil mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran.
“Master! Anda terluka?!”
Kusma menggeleng sambil mengusap debu di pipinya.
“Nggak, cuma capek dikit.”
Aria meletakkan tangan di dadanya dengan lega.
“Syukurlah…”
Raik akhirnya bersuara.
Suara yang kali ini tanpa nada meremehkan sedikit pun.
“Kalian… bukan level pemula.”
Kusma dan Aria menoleh.
Raik memandang mereka lama, sebelum berkata pelan:
“Ini… akan aku laporkan ke kepala guild.”
Tanpa mereka sadari…
Di kejauhan, jauh di antara pepohonan…
Sosok berjubah gelap berdiri di cabang pohon tinggi, mengamati mereka dengan mata tajam penuh minat..
Ia tersenyum tipis.
“…Menarik. Sangat menarik.”