Chapter 6 Langkah Pertama menuju kota
Angin malam terasa dingin, tapi Kusma justru merasa hangat—entah karena adrenalin baru habis, atau karena ia masih tidak percaya dirinya selamat dari Dark Wolf dewasa.
Ia menatap langit, menarik napas panjang.
“Astaga… kalau game, monster itu pasti level 5-an. Tapi ini dunia beneran… mati sekali ya selesai.”
Kusma berdiri pelan, menggoyang-goyangkan kaki yang masih gemetar. Tubuhnya penuh debu, baju robek sedikit, dan pedang besinya sudah tumpul di satu sisi.
Namun langkahnya tetap ia paksakan maju.
“Gue nggak bisa tetep di sekitar goa. Monster bisa keluar kapan aja—atau ada monster lain.”
Ia melihat peta minimap sederhana yang muncul saat ia menyalakan sistem.
────────────────────────
[World Map – Basic Scan]
Area Teridentifikasi: Outskirt belantara Forest (Danger Lv. 3)
Exits:
→ Selatan: Jalan tanah menuju pemukiman
→ timur: Sungai dangkal
→ barat: Dalam hutan (Danger Lv. 20↑)
────────────────────────
“Arah selatan berarti… menuju ke desa .”
Ia langsung melangkah ke arah selatan tanpa banyak pikir.
Hutan itu sunyi, tapi tidak seperti sebelumnya. Angin membawa suara serangga dan gesekan daun—suara kehidupan… dan bahaya.
Dash Step masih cooldown, jadi Kusma berjalan pelan sambil waspada.
Beberapa menit kemudian, ia melihat cahaya redup di kejauhan—bukan cahaya monster, tapi cahaya api unggun.
“Whoa… itu pasti manusia!”
Namun ia tidak langsung mendekat. Ia tahu betul bahwa di dunia isekai, manusia kadang lebih berbahaya daripada monster.
Ia merunduk di balik semak dan mengintip.
Di depan sana, sebuah gerobak sederhana berhenti di pinggir jalan. Seekor kuda coklat tampak lelah, dan di sampingnya seorang pria paruh baya dengan jenggot putih sedang memperbaiki roda gerobak yang patah.
Tidak ada armor.
Tidak ada senjata besar.
Tidak ada aura mencurigakan.
Kusma menghela napas sedikit lega.
“Mungkin aman…”
Namun sebelum ia keluar, sistemnya tiba-tiba muncul dengan sendirinya.
────────────────────────
[SYSTEM NOTICE]
Entity terdeteksi: Human (Non-Combatant)
Class: Pedagang Keliling
Status: Tidak Berbahaya
────────────────────────
“Wah, sistemnya bisa begini juga?”
Kusma akhirnya memberanikan diri keluar dari semak-semak.
“Halo, pak!”
Pria itu terkejut sedikit, lalu tersenyum ramah.
“Oh? Anak muda? Kau dari hutan? Malam-malam begini?”
“Ah… iya pak. Tersesat dikit.”
Pria itu mengusap janggutnya.
“Hahaha. Kalau tersesat dan masih hidup keluar dari belantara Forest, berarti kau cukup beruntung.”
Kusma senyum kaku.
“Kalau boleh tanya, ini arah ke kota bukan ya?”
Pedagang itu mengangguk sambil menunjuk ke arah jalan tanah.
“Ya. Ikuti jalan itu sampai pagi, kau akan sampai di kota kecil bernama Leafden.”
Kusma mengangguk. “Terima kasih banyak, pak!”
“…Tapi,” pedagang itu menatap pedang tumpul di pinggang Kusma, “kalau kau jalan malam-malam begini, serigala dan goblin berkeliaran. Bahaya. Harusnya kau menunggu sampai pagi.”
Kusma menelan ludah. “Ah…”
“Kalau mau, ikut saja bersamaku. Gerobakku memang rusak, tapi setelah aku perbaiki, aku juga menuju Leafden.”
Kusma berkedip. Ini… kesempatan emas untuk bertemu NPC baik.
Kusma tersenyum dan mengangguk.
“Kalau gitu, boleh pak. Saya bantu dorong gerobaknya kalau perlu.”
“Hahaha! Tentu boleh. Anak muda sepertimu pasti kuat.”
Kusma tidak kuat. Tapi Dash Step bisa jadi alat bantu tenaga dadakan.
Kusma membantu menahan gerobak sementara pria itu memperbaiki roda. Ia belajar banyak hal kecil: tentang mata uang dunia ( 1 Gold itu sama seperti di 1 rupiah contohnya 100.000 ribu rupiah setara 100.000 Gold ), tentang guild petualang, tentang monster level rendah, tentang kota Leafden yang katanya tempat para newbie memulai perjalanan.
Semua informasi itu sangat berharga.
Setelah roda selesai diperbaiki, pedagang itu naik ke dudukannya.
“Ayo naik, anak muda! Leafden tinggal satu jam perjalanan.”
Kusma naik ke gerobak.
Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di dunia ini, ia merasakan sesuatu yang mirip harapan.
Malam itu, Kusma melihat cahaya kota kecil di kejauhan—lampu-lampu yang hangat, suara kehidupan, dan mungkin… tempat aman untuk pertama kalinya.
“Dunia ini… sekeras apa pun, mungkin masih punya sisi baiknya.”
Tapi Kusma tidak sadar.
Dari kegelapan hutan, sepasang mata lain mengamati gerobak itu pergi.
Mata yang lebih besar.
Lebih tajam.
Pemilik bekas cakar di dalam goa sebelumnya.
Dark Wolf dewasa itu mengendus pelan.
Raungan rendah terdengar.
Dan ia mulai berjalan mengikuti jejak Kusma.
—
END OF CHAPTER 6