CHAPTER 7 – Gerbang Kota Leafden
Langit perlahan berubah dari hitam pekat menjadi abu-abu kebiruan saat fajar mulai mengintip dari timur. Gerobak pedagang keliling itu terguncang ringan saat memasuki jalan berbatu yang lebih rapi.
Di depan, tembok kayu tinggi dan menara penjaga berdiri sederhana namun kokoh.
Kusma menegakkan duduknya, matanya berbinar.
“Selamat datang di Leafden,” kata si pedagang sambil tersenyum tipis. “Kota kecil, tapi cukup aman untuk pemula.”
Kusma mengangguk pelan.
Gila… akhirnya kota. Beneran kayak RPG… cuma versi hardcore karena mati beneran.
Gerbang kayu besar terbuka perlahan saat dua penjaga berjaga di kiri dan kanan. Armor mereka sederhana, tombak kayu dengan ujung besi. Tidak ada tampilan “level” di atas kepala mereka—tentu saja, hanya Kusma yang bisa melihat itu.
“Mampir sebentar ke pos pemeriksaan,” kata penjaga kiri. “Nama dan tujuan.”
Pedagang menjawab lebih dulu. “Rondel, pedagang keliling. Membawa barang dagang ke Leafden seperti biasa.”
Penjaga mengangguk lalu menatap Kusma. “Dan kau, anak muda?”
Kusma hampir spontan ingin menyebutkan “New Player” atau “Beginner Adventurer”, tapi ia menahan diri.
“Kusma. Tersesat dari hutan utara. Hendak mencari tempat singgah…”
Penjaga itu memerhatikannya sebentar—bajunya robek, pedang tumpul, wajah mengantuk dan penuh debu.
“Ada banyak monster di sana. Kau cukup beruntung masih hidup,” komentar penjaga.
No shit, bro. Kalo bukan survival instinct gw udah jadi snack wolf.
Untung juga wolf-nya bukan tipe boss… atau mungkin itu mini-boss?
Setelah pemeriksaan singkat, gerbang pun dibuka sepenuhnya.
Pedagang menepuk bahu Kusma. “Turunlah di sini. Setelah ini aku akan ke pasar.”
Kusma turun dan menunduk kecil. “Terima kasih sudah mengantar saya sampai sini.”
“Ahaha, tidak apa. Hati-hati, anak muda. Kau bilang tersesat… tapi peralatanmu itu,” ia menunjuk pedang Kusma yang tumpul, “sepertinya kau perlu pergi ke Guild Petualang. Banyak pemula memulai dari sana.”
Kusma mengangguk.
Begitu pedagang pergi, Kusma berdiri sendiri di tengah jalan masuk kota. Hiruk pikuk pagi mulai terdengar—suara pedagang membuka kios, ibu-ibu menimba air, penjaga patroli bergantian.
Kusma menatap ke depan.
Di kejauhan, bangunan dua lantai dengan lambang pedang dan bulu pena tergantung di pintu masuk.
“Guild Petualang…”
Oke. Dari sini perjalanan isekai gw beneran dimulai. Saatnya jadi pro player di dunia nyata… eh dunia isekai.
Kusma melangkah maju.
Namun saat ia berjalan menuju guild—
Sistem mendadak muncul.
────────────────────────
[WARNING]
Jejak monster tingkat tinggi terdeteksi memasuki area Leafden.
Estimasi Target: Dark Wolf (Dewasa)
Status: Mencari sesuatu…
────────────────────────
Kusma langsung mematung.
Bangke. Dia ngikutin gue!?
Sial… ini bukan side quest, ini stalker wolf…
Ia menelan ludah.
Oke tenang, Kusma. Jangan panik. Ini kota, nggak mungkin monster itu bisa nyelonong masuk, kan? Pasti dijaga lah… kan?
Namun sistem menambah pesan kecil di bawahnya.
────────────────────────
Gerbang Utara: Keamanan Rendah (Shift Berganti)
────────────────────────
“…Bro. Jangan bilang timingnya jelek banget.”
Kusma menghela napas panjang.
“Ya sudah… mau nggak mau, masuk guild dulu. Minimal cari informasi kelas atau role.”
Ia mempercepat langkah.
Sementara itu, dari kejauhan—
di luar gerbang, tepat di balik pepohonan…
Seekor Dark Wolf dewasa menatap kota kecil itu, mata merahnya menyipit. Nafasnya berat, seperti mengingat bau seseorang.
Kusma.
Dan perlahan, ia mulai bergerak mendekat.
—
END OF CHAPTER 7