Dunia Arnia Bab 2
Update

Dunia Arnia Bab 2

 BAB 2 — Ujian Pemula di Guild Farglen

Pintu Guild terbuka dengan bunyi krieeek yang berat, seolah tempat ini sengaja dibuat untuk memberi kesan menakutkan bagi setiap pemula. Di dalamnya, ruangan luas dipenuhi meja kayu, papan request di dinding, aroma minuman fermentasi, dan suara para petualang berderai bak badai.

Namun berbeda dengan game, tempat ini terasa jauh lebih keras.
Tatapan sinis para petualang mengarah ke Kusma saat ia masuk.

“Murid sekolah?”
“Tidak ada senjata.”
“Lemah. Kalau masuk hutan, dia cuma umpan.”

Bisikan mereka menusuk telinga.

Kusma tetap berjalan lurus.

Di game, guild hanyalah tempat isi quest.
Di dunia ini?
Guild adalah tempat menentukan siapa hidup atau mati.

Pria berarmor kulit tadi menghampiri meja depan dan berbicara pada petugas resepsionis—seorang wanita dengan rambut coklat gelap dan mata tajam bak elang.

“Lyra, bocah ini mau mendaftar.”
Pria itu menepuk bahu Kusma. “Kukira dia punya nyali. Lihat matanya.”

Lyra mengamati Kusma sejenak.

Ia mendengus kecil.

“Ada terlalu banyak pemula mati dalam seminggu terakhir. Kau yakin mau jadi petualang?”

Kusma mengangguk mantap.
“Ya.”

Lyra mengetuk meja.

“Kalau begitu, kau harus melewati Tes Kelayakan Rank-F dulu.”

Ia mengeluarkan dokumen beserta sebuah kristal kecil berwarna biru pucat.

Kristal itu berdenyut seperti jantung.

“Ini adalah Mana Resonance Crystal. Semua calon petualang wajib diuji—untuk mengetahui apakah kalian memiliki kemampuan dasar untuk menangani mana.”

Kusma menelan ludah.

Di game, semua karakter punya MP.
Tapi di dunia nyata ini, manusia bisa saja tidak memiliki kemampuan sihir sama sekali.

Lyra memberikan instruksi singkat:

“Letakkan telapakmu di atas kristal. Jika kristal menyala, meski sedikit, berarti tubuhmu bisa bersirkulasi mana. Jika tidak…”

Ia menatap Kusma tanpa belas kasihan.

“...kau tidak akan pernah menjadi petualang.”

Ruangan tiba-tiba sunyi.

Beberapa petualang menonton, berharap si pemula ini gagal agar memiliki bahan tertawaan baru.

Kusma menarik napas.

“Baik.”

Ia meletakkan tangannya di atas kristal.

Hening.

Sangat hening.

Kristal tidak merespon.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada getaran.

Beberapa petualang cekikikan.

“Haha! Bocah tanpa mana!”
“Dasar no-mage!”
“Pulang sana!”

Lyra mulai menarik kristal itu.

“Tampaknya kau—”

BRUGH!

Cahaya biru menyala tiba-tiba.
Bukan cahaya lembut.
Tetapi—

BERKILAU KERAS, seperti kilatan petir!

Seluruh ruangan terdiam.

Kusma menatap kristal itu, terkejut.
Ia tak tahu apa yang terjadi—ia hanya mencoba mengingat cara memusatkan energi, seperti saat ia melakukan charge skill di game.

Cahaya itu berdenyut…
Sekali…
Dua kali…
Lalu padam.

Lyra membeku, menatap kristal itu tak percaya.

“Resonansi… sangat kuat. Untuk rank F… ini bahkan tidak normal.”

Para petualang yang tadi menertawakan Kusma kini terdiam total.

Pria berarmor kulit, yang mengantar Kusma, bersiul pelan.

“Kurasa aku benar. Bocah ini bukan sembarang pemula.”

Lyra menutup dokumen dengan segel Guild resmi.

“Mulai hari ini, kau adalah petualang resmi.”

Ia menyerahkan sebuah badge logam kecil.

RANK F – ADVENTURER
Badge sederhana, tapi bagi Kusma… rasanya seperti memulai akun baru dari level 1.

Namun sebelum ia sempat bersyukur—

Lyra menambahkan sesuatu yang membuat ruangan mendadak gelap dalam suasana.

“Kusma… ada satu hal.”

Ia mencondongkan tubuh dan menatap mata Kusma lurus.

“Kau terdeteksi punya resonansi… tapi mana-mu hampir nol. Tubuhmu belum terlatih sama sekali.”
Nada suaranya tajam.
“Jika kau mati di luar sana, Guild tidak bertanggung jawab.”

Kusma tersenyum tipis.

“Kalau begitu, aku hanya perlu memastikan aku tidak mati.”

Lyra menatapnya sesaat—dan tersenyum samar.

“Terserah kau.”
Ia menunjuk papan quest.
“Mulailah dengan tugas paling mudah.”

Kusma mengangguk… dan berjalan menuju papan tersebut.


QUEST PERTAMA — SLIME FARMING

Papan itu dipenuhi kertas permintaan.

Membunuh 3 Slime Korosif
Mengambil jamur Mooncap
Menjaga ladang malam hari
Mengantar obat ke petani tua
Membasmi Goblin di hutan kecil

Tata letak quest memang mirip game, tapi tiap catatan disertai tinta merah:

Korban 2 orang minggu ini
Goblin lebih agresif dari biasanya
Monster tidak sesuai tingkat normal

Kusma menarik selembar kertas:

Quest Lv. Pemula:
Membasmi 3 Slime Korosif
Hadiah: 3 koin tembaga

“Ini cocok. Aku perlu SPM.”

Pria berarmor kulit yang tadi mengantar, mendekat sambil menyilangkan tangan.

“Kau serius mulai dari slime?”

Kusma tersenyum kecil.

“Aku sudah membunuh satu dalam perjalanan ke sini. Lumayan untuk pemanasan.”

Pria itu mengangkat alis.

“Tanpa senjata…? Hmm. Bagus, kalau begitu aku akan memberimu ini.”

Ia melemparkan sebuah pisau pendek.

Pisau itu basic—serupa starter weapon di game.
Tapi bentuknya lebih kasar, lebih nyata.

“Katakan terima kasih pada Senior Garet,” katanya bangga.

Kusma menerima pisau itu dan membungkuk sedikit.
“Terima kasih, Tuan Garet.”

Garet tertawa keras.
“Hahahaha! Dasar bocah sopan. Ayo tunjukkan pada mereka bahwa pemula pun bisa bertahan!”

Kusma menggenggam pisau itu erat.

Dengan badge guild di sakunya, dan quest pertamanya di tangan, ia melangkah keluar dari guild.

Langkah yang kecil—tapi terasa seperti melangkah menuju takdir.


KE HUTAN KOROSIF

Hutan di sekitar Farglen tampak tenang, namun udara berbau aneh—seperti cairan asam bercampur dengan aroma tanah basah.

Di balik semak-semak, terdengar suara licin bergerak.

Slime.

Kusma merapatkan pegangan pisau.

“Baik. Tiga slime… dan 1.000 SPM untuk membuka slot partner pertama.”

Ia menghela napas.

“Luna… aku mulai.”

Dari balik pepohonan—

blup… blup…

Slime Korosif muncul… dua… tiga… bergerak mengelilinginya.

Mereka tidak lambat.
Mereka tidak bodoh.
Mereka seperti binatang liar yang lapar.

Kusma menegakkan badan.

Pertarungan pemula dimulai.

Tanpa UI.
Tanpa HP.
Hanya tubuh dan naluri.

Dan ia siap.