Dunia Arnia Prolog
Update

Dunia Arnia Prolog

 PROLOG — Kelahiran Kembali Sang Penguasa Arnia

Gelap.

Hanya itu yang Kusma ingat saat tubuhnya jatuh, lalu suara klakson yang mengoyak udara seperti belati panas. Semua terjadi terlalu cepat—rem mendecit, cahaya putih menyilaukan, dan dunia yang ia kenal menghilang begitu saja.

Namun dari tengah kehampaan itu, muncul suara-suara aneh. Gemerisik. Aliran energi. Seperti ribuan partikel bercampur, berputar, menyusup ke dalam dirinya.

Bukan suara monitor game.
Bukan suara notifikasi level up.
Ini… lebih berat. Lebih nyata. Terlalu nyata.


“Kusma.”

Satu suara memanggilnya dari kegelapan. Suara yang dalam, menggema, mengandung tekanan tak kasat mata.

Kusma mencoba membuka mata.

Dan dunia meledak dengan cahaya.


Ketika matanya menyesuaikan, dia tidak berada di ranjang rumah sakit… atau ruang gelap… atau neraka.

Ia berdiri di tengah hamparan padang rumput luas. Angin mengembus lembut, membawa aroma tanah basah. Matahari hangat menyentuh kulitnya—kulit yang terasa… berbeda. Lebih muda, lebih ringan.

“Ini…”
Napasnya tercekat.
“World Arnia?”

Nama itu memicu gelombang memori dalam pikirannya.

Game MMORPG terbesar yang pernah ia taklukkan.
Dunia yang ia kuasai seorang diri.
Dunia di mana ia adalah legenda.

Level 100+.
Pemenang solo dungeon Rank S.
Pemilik enam partner SSR yang mustahil didapatkan orang lain.

Luna, Neira, Aria, Hana, Elie, Emeli—
Nama-nama yang bahkan player top-tier hanya bisa dengarkan dengan iri.

Tapi…

Kusma melihat kedua tangannya.

Tidak ada jendela status.
Tidak ada HP bar.
Tidak ada panel skill.
Tidak ada tombol memanggil partner.

Kosong.
Semuanya menghilang.

Yang tersisa hanya tubuh remaja enam belas tahun yang lemah, rapuh—dan berdenyut seperti baru dilahirkan.


Tiba-tiba, sebuah cahaya biru kecil berkedip di depannya. Bukan notifikasi, bukan UI, melainkan wujud roh kecil yang berputar-putar, lalu pecah menjadi partikel.

Sebuah suara lembut—milik gadis—melintas di benaknya.

“Selamat datang kembali, Penguasa Arnia…”

Kusma membeku.

“Aku—kenal suara ini…”
Luna.
Partner Mage SSR pertamanya.

Namun sebelum ia sempat merespon, suara itu memudar seperti bisikan terakhir.

*“…Slot partner terkunci.

Kumpulkan 1000 Spirit Mon…
Bangunkan kami…
Kami menunggumu…”*

Dan sunyi kembali menelan padang rumput.


Kusma memejamkan mata, mencoba memanggil partner-nya.

“Luna! Neira! Aria! Siapa pun! Munculah!”

Tidak ada respon.

Tidak ada cahaya.
Tidak ada summon magic.

Hanya angin.

Dan… tubuhnya yang lemah.

Level 1.
Tanpa skill.
Tanpa partner.
Tanpa status game.

Namun dunia di sekitarnya… terasa terlalu nyata untuk dianggap game.

Jauh di kejauhan, ia melihat pilar dungeon yang seharusnya berwarna biru kini berubah menjadi ungu gelap—menandakan kekuatan monster yang berbeda dari versi game. Pohon-pohon yang dulu ia hafal letaknya, kini bergeser. Beberapa spesies monster bahkan tidak pernah ada di patch mana pun.

“Jadi ini bukan game…” gumamnya.

Ini adalah versi dunia yang jauh lebih ganas, lebih liar, lebih tak terduga—versi dunia yang menuntut darah dan rasa sakit sungguhan.

Kusma menelan ludah.

“Kalau begitu…”

Ia mengepalkan tangan yang gemetar.

“Kalau aku ingin bertahan hidup…
Aku harus mulai dari nol.”

Ia menarik napas panjang, menatap horizon Arnia yang tak lagi sama.

“Dan aku akan bangkit lagi.
Aku akan mengumpulkan Spirit Mon… membuka enam slot partner… dan menguasai dunia ini sekali lagi.”

Angin berhembus.
Daun bergerak.
Langkah pertama dimulai.

Inilah awal perjalanan Kusma—gamer nomor 1 yang kini harus menjadi petualang lemah di dunia yang ia kenal… namun tidak lagi pernah kuasai.