Dunia Arnia Bab 1
Update

Dunia Arnia Bab 1



✨ BAB 1 — Pemula dari Dunia Para Petualang

Langkah kaki Kusma terdengar pelan di atas tanah berumput. Setiap hembusan angin membawa aroma lembap, bercampur bau tanah dan dedaunan liar. Meski langit cerah, udara Arnia terasa lebih “hidup” daripada ingatan game-nya—lebih kompleks, lebih bising, dan lebih… menakutkan.

“Jadi… tempat pertama harusnya adalah Desa Farglen,” gumamnya.

Farglen.
Desa pemula di game World Arnia.
Tempat semua player level rendah memulai perjalanan.

Tapi di dunia nyata ini, tidak ada ikon quest di kepala NPC. Tidak ada panah petunjuk. Tidak ada musik latar. Hanya suara burung, gemerisik rumput, dan… ancaman yang mengintai dari balik pepohonan.

Kusma menelan ludah.

Tubuhnya gemetar sedikit—campuran takut dan kegembiraan.

“Kalau aku ingin membuka slot partner pertama, aku butuh 1000 SPM.”
Ia menghela napas.
“Dan untuk itu… bahkan slime pun cukup untuk sekarang.”

Namun…

Ada satu masalah besar.


MONSTER PERTAMA – Slime yang Tak Seharusnya

Di game, slime adalah monster hijau lembek yang bergerak lambat dan mati dalam 3–4 serangan.

Tapi slime di dunia nyata…

Seketika, semak di depannya bergetar.
Cairan bening berkilat muncul di antara daun, lalu menggeliat maju seperti makhluk hidup yang agresif.

Cepat.

Terlalu cepat.

Slime itu tidak seperti slime lucu di game.
Bentuknya lebih jernih seperti asam cair, pinggirannya bergetar, dan setiap gerakannya meninggalkan bekas korosi pada rumput.

“Serius… ini versi hardcore-nya?”

Slime itu melompat ke arahnya.

Kusma tersentak.

Tanpa HP bar, ia harus mempercayai tubuhnya.
Tanpa tombol skill, ia hanya punya refleks gamer.

Ia berguling ke samping—rumput dingin menempel di lengan—dan slime menghantam tanah di tempat ia berdiri. Rumput itu langsung larut, berubah kecoklatan.

“Kalau kena itu… aku tamat.”

Slime bergerak lagi.
Kusma mundur cepat, jantung berdegup keras.

Dulu, ia bisa menghadapi 50 slime sekaligus sambil mengobrol santai.

Sekarang?
Satu saja cukup untuk menghabisinya.


SERANGAN PERTAMA

“Fokus, Kusma. Ingat pola slime.”

Ia bergeser melingkar.
Slime mengejar, melompat dalam pola zig-zag—lebih agresif dari yang ia hafal.

Tapi refleks gamer-nya masih ada.

Saat slime melompat, Kusma menendang samping tubuh cair itu.

SPLASH!
Slime terlempar, bentuknya bergetar labil.

“Masih hidup, ya?”

Ia mengambil batang kayu patah dari tanah.
Pegangannya kasar, tapi cukup untuk menusuk sesuatu.

Slime melompat lagi.

Kusma mengayunkan kayu itu sekuat tenaga—

CRACK!

Bagian tubuh slime pecah, lalu meletus menjadi cairan bening yang menyebar ke tanah.

Hening.

Lalu…

BIP.
BIP—.

Sebuah cahaya biru kecil naik dari cairan slime yang mati, melayang seperti kabut mungil ke udara.

“Ini… SPM?”

Cahaya itu berputar, lalu masuk menembus dadanya.

Rasa hangat menjalar ke tubuhnya.
Tidak menyakitkan—lebih seperti tetesan energi kecil.

Jumlahnya sangat sedikit.

“Mungkin cuma 1 atau 2 SPM…” Kusma menghela napas. “Enam ribu lagi, ya…?”

Meski begitu, ia tersenyum kecil.
Ini langkah pertama.


KE DESA FARGLEN

Setelah satu jam berjalan, Kusma melihat bangunan kayu sederhana di kejauhan. Asap tipis naik dari cerobong, suara palu terdengar samar.

“Farglen…”
Ia tersenyum.
“Di game, ini tempatku pertama kali dapat pedang pemula.”

Namun begitu ia melangkah masuk…

Ia langsung sadar:
Ini bukan desa pemula seperti di game.

Orang-orang menatapnya tajam, mencurigai kedatangannya. Tidak ada NPC ramah yang memberikan quest tutorial. Tidak ada jendela toko pop-up. Anak-anak membawa ember air, para petani mengawasi monster dari jauh, dan beberapa petualang bersenjata lengkap sedang duduk di depan pos jaga.

Semua terlihat… nyata.
Dan jauh lebih keras.

Tiba-tiba—

“Hey, kau! Anak itu!”

Seseorang memanggilnya.

Seorang pria paruh baya, memakai armor kulit dan emblem kecil bertuliskan:

GUILD ADVENTURER – CABANG FARGLEN

Pria itu berjalan mendekat, menatap Kusma dari atas ke bawah.

“Kau tersesat? Pedesaan ini bukan tempat bermain anak. Di hutan itu ada Slime Korosif. Mata-matamu masih utuh berarti kau beruntung.”

Kusma terdiam.

Ia baru sadar pakaiannya lusuh, penuh tanah karena berguling. Wajahnya masih terlihat muda seperti remaja biasa.

Pria itu mendecak.

“Kalau kau mau tetap hidup, datang ke guild. Kami butuh menilai apakah kau layak jadi petualang atau hanya beban.”

Kusma menarik napas.

Guild.
Tempat semua dimulai.

Tempat ia harus mendapatkan rank F, informasi monster, senjata pertama, dan jalan menuju kekuatan.

“Baik,” jawab Kusma. “Aku ingin mendaftar.”

Pria itu menatapnya sebentar.

“…Huh. Tatapanmu tidak seperti anak kecil.”
Dia berbalik. “Ikutlah. Jangan sampai tertinggal.”

Kusma melangkah.

Setiap langkah terasa seperti pintu ke masa depan barunya.

Di dunia ini, ia bukan lagi gamer nomor satu.

Ia hanyalah pemula.

Tapi di balik itu…

Di dalam hati, ia merasakan sesuatu terbakar perlahan.

Keinginan.
Ambisi.
Hasrat untuk bangkit.

“Luna, Neira, Aria, Hana, Elie, Emeli… tunggu aku.”
Ia mengepalkan tangan.

“Aku akan membuka slot kalian satu per satu.”

Dan perjalanan dimulai—di depan pintu Guild Adventurer.