Dunia Arnia Bab 30
Update

Dunia Arnia Bab 30



BAB 31 — Penyambutan di Riverstone & Naiknya Status Party

Pintu gerbang kota Riverstone tampak semakin dekat saat Kusma, Luna, dan Rinne berjalan menyusuri jalan berbatu yang diterangi cahaya sore.

Rinne menarik napas lega.

“Akhirnya kita sampai juga… rasanya tiga hari perjalanan ini seperti sebulan.”

Kusma mengangguk. Tubuhnya sedikit terasa berat, tapi pikirannya tetap tajam.

Luna berjalan di sisi Kusma, menempel lengannya tanpa ragu.
“Master, setelah laporan guild… apakah kita langsung berangkat lagi?”

“Tidak,” jawab Kusma. “Kita harus mengurus kenaikan peringkat party dulu, baru bisa ambil misi rank lebih tinggi.”

Rinne tersenyum lebar. “Itu artinya kita bakal resmi dianggap party sungguhan, ya?”

Kusma mengangguk kecil.
“Ya. Kita butuh itu sebelum masuk dungeon atau hutan kelas atas.”

Luna tampak senang, memeluk lengannya sedikit lebih erat.


1. Keramaian Kota Riverstone

Begitu mereka masuk kota, suara penduduk memenuhi telinga.

Pedagang berteriak mempromosikan barang, anak-anak berlari di jalan, dan para petualang lalu-lalang membawa senjata di punggung.

Rinne mengagumi bangunan berukir batu yang megah.
“Wow… kota ini jauh lebih besar dari yang kubayangkan…”

Luna menatap sekitar dengan waspada namun tenang.
“Banyak pengguna sihir di sini, Master. Auran mereka… bercampur.”

Kusma mendengarnya sambil diam-diam mengelola informasi.

Seperti dugaanku… kota besar punya mage lebih terlatih. Kalau Luna menggunakan kekuatannya sembarangan, mungkin akan menarik perhatian.

Ia melihat Luna sebentar.

Luna boleh sangat kuat, tapi di dunia ini… kekuatan seperti itu tidak normal. Aku harus hati-hati.


2. Guild Riverstone

Pintu besar guild terbuka dengan dentuman pelan.

Petualang berbagai ras berdesakan di dalamnya, sebagian melihat ke arah trio itu saat mereka masuk—terutama ke arah Luna yang auranya sedikit berbeda dari orang biasa.

Rinne menelan ludah.
“Tempat ini… intimidating banget.”

Kusma berjalan ke meja resepsionis.
Seorang wanita berambut pirang tersenyum ramah.

“Selamat datang di Guild Riverstone. Ada yang bisa kami bantu?”

“Kami ingin melaporkan penyelesaian misi dan mengajukan kenaikan peringkat party,” ujar Kusma.

“Oh? Nama party kalian?”

“Silver Dawn.”

Rinne berbisik kecil.
“Aku suka nama itu…”

Resepsionis mengecek buku besar, lalu matanya membulat.

“Silver Dawn… kalian menjatuhkan Forest Ogre, Forest Gnoll Elite… dan—”

Ia terdiam sejenak.

“…Alpha Shadow Beast?”

Seluruh ruangan menjadi sunyi.

Puluhan petualang menoleh.

Rinne menyeringai kaku.
“Hahaha… kejadian kecil…”

Luna menatap mereka dingin, seolah menantang siapa pun yang meremehkan party-nya.

Kusma tetap tenang.
“Itu sudah ditangani.”

Resepsionis cepat-cepat mencatat.

“Dengan capaian seperti ini… kalian langsung memenuhi syarat menjadi Party Rank E.”

Rinne melonjak.
“YES!”

Luna mengangguk lembut.
“Setidaknya peringkat kita sesuai kekuatan Master.”


3. Pengesahan Party Rank E

Resepsionis menyerahkan sebuah papan kecil bertanda ukiran perak.

“Mulai hari ini, Silver Dawn resmi diakui sebagai Party Rank E. Kalian dapat mengambil misi di atas level pemula dan memasuki wilayah hutan menengah.”

Rinne memeluk papan itu dengan bangga.

“Akhirnya kita diakui!”

Kusma hanya tersenyum kecil.

Ini langkah pertama. Jika ingin memanggil partner lainnya… kita harus naik pangkat jauh lebih tinggi.

Luna memegang tangan Kusma, tatapannya manis namun penuh ketergantungan.

“Master… dengan ini perjalanan kita bisa semakin luas.”

“Ya,” jawab Kusma.


4. Rencana Malam Ini

Setelah keluar dari guild, lampu-lampu kota mulai dinyalakan.

Rinne menguap lebar.
“Aku capek banget… boleh kita istirahat dulu?”

“Tentu,” kata Kusma.

Luna menempel lebih dekat pada Kusma.
“Kita satu kamar saja, Master?”

Rinne terbatuk keras.
“Ekh—!!! L-Luna?!”

Kusma menepuk kepala Luna pelan.
“Tidak boleh. Kita ambil dua kamar.”

“…Baik,” Luna merajuk kecil namun tetap mengikuti.


5. Malam Menjelang Keputusan Besar

Setelah sampai di penginapan, Kusma duduk sendirian di kamar.

Ia membuka kristal SPM.

Dengan total 1.750 SPM… aku bisa membuka satu slot partner kapan saja.

Ia menggenggam kristal itu erat.

Neira… Aria… Hana… Elie… atau Emeli.

Siapa yang paling tepat kupanggil di dunia nyata ini?

Kusma berdiri, menatap jendela tempat cahaya kota menyinarinya.

“Besok pagi… aku putuskan.”

Luna pasti sudah setia menunggu di kamar sebelah.

Dan Rinne… mungkin terlelap kelelahan.

Untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi…

Kusma merasa ia benar-benar memulai hidup baru.