Dunia Arnia Bab 4
Update

Dunia Arnia Bab 4

BAB 4 — Jeritan Hutan dan Pertemuan Tak Terduga

Suasana hutan berubah drastis.
Angin berhenti.
Burung-burung menghilang.
Hanya suara “gugigigi…” goblin yang terdengar, menggema seperti pekik predator yang menikmati aroma mangsa baru.

Empat goblin mendekat sambil melompat-lompat kecil, seperti sedang menyiapkan serangan.

Kusma menggenggam pisau pemberian Garet.
Darah dingin mengalir di tubuhnya, tapi pikirannya fokus.

Slime saja hampir membunuhnya. Goblin ini jauh lebih berbahaya.

Dua goblin mendekat dari depan.
Dua lagi mengitari sisi kanan dan kiri.

Mereka tak bergerak bodoh seperti di game.

“Jadi… kalian punya taktik juga di dunia nyata, ya?”
Kusma menarik napas dalam.


SERANGAN AWAL – KACAU BALAU

Goblin pertama melompat seperti monyet dengan pisau karat mengarah ke leher.

Kusma menunduk—
Pisau berdesing memotong sedikit rambutnya.

Goblin kedua menggunakan momentum goblin pertama untuk melompat lebih tinggi, siap menusuk dari atas.

“Tolak!”

Kusma menahan dengan lengan kiri.

CRAK!

Sakitnya luar biasa.
Tubuhnya memang level 1—tulang lengannya bergetar keras.

Pisau goblin hanya meleset beberapa sentimeter dari bahunya.

Kusma mendorong goblin dengan sisa tenaga.
Goblin itu terlempar ke belakang.

Dua goblin lagi bergerak!

Satu menyerang dari kanan—
Kusma memutar tubuh, menangkis pisau dengan pisau miliknya.

TINGGG!

Percikan kecil terbang.
Leher goblin itu terbuka sedikit terkena ujung pisaunya.

Goblin menjerit kesakitan.

Namun goblin keempat langsung menyeruduk dari kiri dan mengenai Kusma di pinggang.

“Kuh—!”

Ia terjatuh, berguling di tanah.

Goblin-goblin itu mulai mengepung, mengendus aroma darah di lengan Kusma.

“Haha… seriusan? Baru bab 4 tapi udah mau mati?”
Kusma mengumpat sambil memaksakan diri berdiri.


INSTING GAMER – AKTIF

Ia tahu satu hal penting:

Goblin selalu menyerang target yang tampak paling lemah terlebih dahulu.

Kusma pura-pura limbung.

Goblin yang tadi melukai pinggangnya tertawa kecil, lalu maju lebih agresif, yakin bisa menghabisi lawan lemah di depannya.

Kesempatan.

Saat goblin itu lompat—

Kusma menggeser tubuh setengah langkah ke kiri dan menancapkan pisaunya ke bawah dagu goblin.

STAB!

Goblin terhuyung dan jatuh.

Sisa tiga goblin langsung memekik marah.

“Kuh… jadi satu jatuh juga ya.”
Kusma terengah-engah.
Nafasnya kasar.
Luka di pinggang perih.

“Kalau begini, aku gak bakal bertahan lama…”

Goblin yang lehernya sobek mulai menyerang dengan beringas, mengayunkan pisau tanpa pola.

Kusma menahan serangan itu—tapi dorongannya sangat kuat.

TING! TING! CLANG!

Tangan Kusma hampir mati rasa.

Dan tepat ketika dia kehilangan fokus—

Goblin lain sudah ada di belakang, siap menusuk punggungnya.


KEMUNCULAN TAK TERDUGA

SRET—!!!

Suara tebasan tajam melintas seperti kilat.

Kusma membeku.
Goblin di belakangnya terhenti di udara…
Lalu tubuhnya terbelah dua, jatuh ke tanah seperti karung daging.

“Eh…?”

Kusma menoleh.

Di depannya berdiri seorang gadis remaja—mungkin sebaya—dengan rambut hitam pendek, mata biru dingin, dan pakaian petualang pemula.

Namun yang benar-benar menarik perhatian adalah—

PEDANGNYA.

Sebuah pedang besi ringan, diasah dengan baik, bukan peralatan pemula biasa.

Gadis itu berbicara tanpa ekspresi.

“Apa kamu bodoh? Melawan empat goblin sendirian tanpa armor?”

Kusma berkedip.
Dia baru saja diselamatkan… atau dimarahi?

Gadis itu mengangkat pedangnya.

Dua goblin tersisa menyadari situasi berubah.
Mereka mundur, tapi…

Terlambat.

Gadis itu bergerak sangat cepat—
Seperti pelatihan bertahun-tahun.

TWAASH!

Tebasan horizontal.
Goblin terlempar, dada terbuka.

Goblin terakhir mencoba kabur.

Namun gadis itu merapatkan langkah, menusuk tepat di tulang belakangnya.

STAB!

Selesai.

Hening menyelimuti hutan.

Hanya napas Kusma yang masih terengah-engah dan darah goblin yang membasahi tanah.


SIAPA GADIS INI?

Kusma memegangi pinggangnya.

“Terima kasih… kalau bukan karena kamu, aku—”

“Sudah mati?”
Gadis itu melipat tangan.

“Ya. Kalau aku telat 10 detik saja, kamu sudah jadi dekorasi hutan.”

Gaya bicaranya dingin.
Tajam.
Tapi… jujur.

Kusma terdiam.

Gadis itu mengambil kantong kecil dari sabuknya dan melemparnya ke Kusma.

“Ambil ini. Bubuk pembeku darah. Tekan ke lukamu. Atau kamu akan pingsan karena darahmu keluar terlalu banyak.”

Kusma menerimanya.

“…Terima kasih.”

Gadis itu akhirnya memperhatikan wajahnya.

“Kau bukan orang desa sini, kan? Dari cara bertarungmu, aku yakin kamu bukan murid akademi atau petualang baru.”

“Hmm…” Kusma berpikir sejenak.
“Aku… bisa dibilang baru pertama kali bertarung sungguhan.”

Gadis itu menaikkan alis.

“Baru pertama kali? Kamu serius melawan goblin tanpa pengalaman?”

Kusma menggaruk kepala.
“Y-ya… semacam itu.”

Gadis itu menghela napas panjang dan memasukkan pedang ke sarungnya.

“Namaku Rinne. Rank-E dari Guild Farglen.”

Rinne.

Nama itu tidak pernah muncul di game.
NPC baru?
Atau karakter original dunia nyata?

Rinne menatap Kusma penuh selidik.

“Kamu siapa?”

Kusma menghela napas.

“Aku… Kusma. Rank-F.”

Rinne menatapnya beberapa detik tanpa berkedip.

Lalu—

“Rank-F? Untuk ukuran rank-F, kamu cukup bodoh.”

“Hey!”

“Tapi… cukup berani.”
Rinne menambahkan.

Kusma terdiam sebentar.

Rinne menyarungkan pedangnya dan melangkah ke arah hutan yang lebih dalam.

“Aku sedang menjalankan misi menghabisi Goblin Scout. Tapi karena kamu mengacaukan formasi mereka, aku harus mengejar sisanya.”
Ia berhenti sebentar, menatap Kusma dari bahu.

“Kalau kamu masih bisa berjalan, ikutlah ke desa. Aku tidak mau menggendongmu.”

“…Aku bisa.”

Rinne mengangguk tipis.

“Bagus. Karena jika kau mati sekarang, usaha menyelamatkanmu tadi sia-sia.”

Kusma tersenyum samar.

Pertemuan pertama yang aneh.
Namun di dunia ini, koneksi sekecil apa pun bisa berarti hidup dan mati.

Ia melangkah mengikuti Rinne.

Di belakang mereka, sisa cahaya biru SPM perlahan terbang dari tubuh goblin.

Kusma meraih satu di antaranya.

“Sedikit demi sedikit… akan kubuka slot kalian.”

Hutan kembali sunyi.

Dan perjalanan Kusma baru saja mengambil arah baru—bertemu dengan seseorang yang mungkin akan membawa perubahan besar dalam petualangannya.