Dunia Arnia Bab 5
Update

Dunia Arnia Bab 5

BAB 5 — Perjalanan ke Desa Farglen

Langkah Kusma berat.
Luka di pinggangnya masih berdarah tipis meski sudah ditaburi bubuk pembeku dari Rinne.
Namun ia tetap memaksa berjalan.

Rinne berjalan beberapa langkah di depannya—tenang, cekatan, dan sesekali menoleh untuk memastikan Kusma tidak roboh.

“Kalau kamu pingsan di sini, aku tinggalin.”
Rinne memperingatkan tanpa menoleh.

Kusma mengangkat tangan lemah.
“Aku masih bisa jalan… walaupun rasanya pinggangku kayak ditonjok orc.”

Rinne mendesah kecil.
“Goblin memang bukan tandingan orc, tapi kalau empat sekaligus… ya, kamu memang bodoh.”

“Kenapa setiap kalimatmu harus ada kata ‘bodoh’-nya?”
Kusma memprotes.

“Karena itu fakta.”

Tidak ada rasa bersalah dalam suaranya.
Kusma hanya bisa memutar bola mata.

Namun Rinne tidak sepenuhnya dingin.
Sesekali ia memperlambat langkah agar Kusma bisa menyusul.


SUASANA HUTAN BERBEDA

Hutan perlahan berubah.
Pohon-pohon semakin rapat, dan suara serangga mulai kembali terdengar.

Namun Kusma merasakan sesuatu yang aneh.

“…Hutan ini terasa lebih gelap dari yang kuingat.”

“Memang.”
Rinne menjawab cepat.
“Dua minggu terakhir, monster semakin agresif. Formasi goblin juga berubah.”

“Berubah bagaimana?”

Rinne menatap Kusma sekilas.

“Biasanya goblin jarang bergerak dalam formasi empat. Mereka lebih suka menyerang terburu-buru. Tapi tadi… serangan mereka rapi. Terkoordinasi.”

Kusma langsung teringat game World Arnia.

Goblin Scout…
Goblin Raider…
Goblin Commander…

Dalam game, goblin mulai cerdas jika ada Goblin Commander di dekatnya.

Tapi—di timeline ini, Goblin Commander seharusnya belum muncul.

“…Rinne.”
“Ya?”

“Ada kemungkinan di hutan ini muncul Goblin Commander?”

Rinne berhenti melangkah.

Matanya yang biru menatap Kusma dalam, penuh analisa.

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“…insting.”

Rinne menatapnya lebih lama, seakan mencoba membaca isi kepalanya.

Lalu ia mengangguk kecil.

“Aku juga berpikir begitu.”


FARGAN – DESA PERBATASAN

Setelah hampir satu jam berjalan, mereka keluar dari hutan.

Di depan mereka terbentang desa sederhana dengan rumah-rumah kayu dua lantai, menara pandang kecil, dan pagar kayu kasar melingkari seluruh area.

Tulisan di papan gerbang:

— Desa Farglen —
Wilayah Aman Rank D

Kusma mengucap pendek.
“Akhirnya sampai juga…”

Namun sebelum ia melangkah masuk, Rinne menahan dadanya dengan tangan.

“Stop.”

“…Hah?”

Rinne menunjuk ke pinggang Kusma.

“Kamu berdarah. Kalau kamu masuk desa dengan kondisi seperti itu, penjaga akan salah paham. Orang asing berdarah = tanda serangan monster atau kriminal.”

“Oh…”
Kusma mengangguk. Masuk akal.

Rinne mengambil kembali kantong bubuknya.

“Duduk.”

“Hah?”

“Duduk. Aku bersihin lukamu. Kalau kamu mati di depan gerbang, aku disuruh bayar denda.”

“...”
“Ya udah…”

Kusma duduk di akar pohon.
Rinne berlutut di depannya, merobek sedikit kain di pinggangnya, lalu menaburkan bubuk pembeku darah lagi.

SSSSHHH…

“ARGH!”
Kusma menggigit bibir.

“Luka dalam. Goblin itu pasti menusuk dengan tenaga penuh.”
Rinne berkata tanpa ekspresi.

Setelah itu ia merobek bagian bawah bajunya sendiri untuk membuat perban darurat.

Kusma terkejut.
“Kamu—bajumu—”

“Tenang. Ini cuma pinggirannya.”
Ia mengikat kain itu kuat di pinggang Kusma.

Saat ia melakukan itu, Kusma bisa mencium wangi samar dari tubuh Rinne…
Bukan wangi parfum, tapi wangi dedaunan, tanah, dan sedikit bau pedang yang sering diasah.

Sangat… nyata.

“Sudah.”
Rinne bangkit dan menepuk tanah dari lututnya.

Kusma berdiri, menggenggam pinggangnya.
“Terima kasih… lagi.”

“Tidak perlu terima kasih. Kamu cuma beruntung aku lewat.”

“Tapi tetep aja—”

“Tutup mulut dan ikut.”

Rinne berjalan masuk gerbang, Kusma mengikuti.


DESA YANG TERLIHAT NORMAL… TAPI ADA YANG SALAH

Anak-anak bermain.
Ibu-ibu menjemur pakaian.
Para petualang duduk di luar bar sambil minum bir.

Namun…

Kusma merasa suasana tegang, seolah penduduk desa menyembunyikan sesuatu.

Beberapa rumah memiliki papan tanda “Keluarga Hilang”.
Petualang Rank-C berbicara dengan suara rendah.
Beberapa penjaga menatap ke arah hutan dengan wajah gelisah.

Kusma bergumam.
“…Sesuatu sedang terjadi, ya.”

Rinne menjawab singkat.
“Iya. Dan sepertinya badai baru akan dimulai.”

Saat mereka berjalan menuju Guild, mendadak—

DUUNNNGG!!

Suara dentuman keras terdengar dari arah barat desa.

Getaran kecil menyebar melalui tanah.

Warga berhenti bicara.
Anak-anak menangis.
Penjaga langsung mengambil tombak.

Rinne memegang pedangnya dan menatap tajam ke arah sumber suara.

Kusma merinding.

Ia kenal suara itu.

Dalam game, itu adalah suara khas saat…

Boss kecil muncul.

Rinne melangkah cepat.

“Ayo. Kita cek. Kalau itu Goblin Brute, desa ini dalam masalah besar.”

Kusma menarik napas berat.

Level 1.
Tubuh lemah.
Tanpa skill.
Tanpa partner.

Tapi…

Jika monster yang muncul sesuai dugaannya…

Ini peluang besar untuk SPM.

Kusma mengepalkan tangannya.

“Ayo.”

Rinne menatapnya seolah dia gila.

“Kamu ikut? Dalam kondisi begitu?”

Kusma tersenyum samar.

“Aku nggak mau jadi beban. Dan… aku butuh pengalaman bertarung.”

Rinne menahan napas sebentar.
Kemudian mengangguk.

“Baik. Tapi kalau kamu mati, aku gak mau dipersalahkan.”

Keduanya berlari menuju sumber dentuman.

Langkah Kusma mulai berat…
Tapi hatinya justru berdegup kuat.

Di kejauhan, terdengar pekikan panjang—

“GUGYAAAAA!!!”

Kusma berhenti.

Itu bukan suara goblin biasa.

Itu…

Goblin Brute — Boss hutan awal.

“Rinne…”
“Aku tahu.”

Dunia mulai bergerak.
Plot semakin bergeser dari game yang Kusma kenal.

Dan pertarungan besar pertamanya… baru saja menunggu.