- Update
Dunia Arnia Bab 6
BAB 6 — Goblin Brute: Boss Pertama yang Menggetarkan Dunia
Dentuman kedua mengguncang tanah.
DUUNNGG!!
Kusma dan Rinne hampir kehilangan keseimbangan saat mendekati sisi barat desa.
Warga menjauh, beberapa penjaga desa berlari sambil membawa tombak panjang.
Di antara pepohonan, siluet besar mulai terlihat.
Rinne menggenggam pedangnya lebih erat.
“Bersiap.”
Kusma menelan ludah.
“Aku sudah siap… sedikit.”
Rinne meliriknya.
“Kalau kamu mati, aku pulang.”
“Kenapa kamu terus bilang aku bakal mati!?”
“Karena itu yang paling mungkin terjadi.”
“…makasih atas dukungannya.”
KEMUNCULAN BOSS HUTAN
Hutan terbuka di depan mereka.
Dan di tengahnya—
Seekor Goblin Brute setinggi dua meter, berotot, kulit hijau gelap, dan mata merah menyala.
Ia mengayunkan sebuah balok kayu panjang seperti palu raksasa.
BOOM!
Tanah retak setiap kali ia menghantam.
“Astaga… ini lebih besar dari versi game…”
Kusma berbisik gemetar.
Rinne mencondongkan tubuh ke depan, siap menyerang.
“Goblin Brute. Rank C. Tipe brute-force. Pergerakan lambat, tapi kuat. Satu pukulan cukup untuk mematahkan tulangmu.”
“…pembicaraan yang menyenangkan.”
Rinne mengabaikannya.
Goblin Brute mengendus udara… lalu menatap mereka.
“GGRRAAAAHHH!!!”
Ia berlari.
TAPI LARIANNYA CEPAT—SANGAT CEPAT.
“SIDEEEERR!!!”
Rinne berteriak.
Kusma melompat ke kanan.
Rinne berguling ke kiri.
Balok kayu menghantam tanah di antara mereka.
BOOOOM!!!
Tanah terpental.
Debu membumbung tinggi.
Kusma terbahak kecil.
“…Anjir. Ini bukan game. Sama sekali bukan game.”
PERTARUNGAN DIMULAI
Rinne bergerak duluan.
“Cover aku!”
“Kayak aku bisa?!!”
Rinne mengabaikan komentar itu dan menebas kaki Goblin Brute.
Pedangnya mengenai kulit tebal, tapi—
CRANG!
Hanya meninggalkan goresan panjang.
Kusma terkejut.
“Itu bahkan nggak tembus!?”
“Ketebalan kulitnya setara armor kulit keras.”
Rinne melompat mundur.
“Kita harus menyerang titik lemah.”
“Di game titik lemahnya di—”
“Di dunia nyata, aku yang lebih tahu. Fokus!”
Goblin Brute melompat ke depan dan mengayunkan baloknya.
Rinne menunduk, balok lewat tepat di atas kepalanya.
Kusma menelan ludah.
Ia harus bantu. Kalau tidak, Rinne bakal kewalahan.
Instruksi pola serangan Goblin Brute… aku tahu ini.
Ia menunggu…
Dan ketika Goblin Brute menghentak kaki kirinya—
Kusma berteriak.
“Rinne! Hindari ke kanan! Itu serangan rotasi!”
“APA!?”
Goblin Brute memutar tubuh sepenuhnya—
Balok kayu berputar seperti badai.
Rinne melompat ke kanan, tepat waktu.
Balok hampir menghempas wajahnya.
Rinne melotot pada Kusma.
“…Bagaimana kamu tahu pola itu?”
“Kebetulan punya feeling bagus!”
“Kamu aneh.”
“Terima kasih?”
“Bukan pujian.”
STRATEGI BERTAHAN HIDUP
Kusma menunduk saat batu beterbangan.
Otaknya bekerja cepat.
Kalau ini sama seperti game… titik lemahnya ada di—
“Rinne!”
“APA LAGI!?”
“Belakang lututnya! Itu area paling tipis!”
Rinne menatap kaki Goblin Brute.
“Baik.”
Ia berlari rendah, sangat cepat.
Kusma bahkan nyaris tak bisa mengikutinya dengan mata.
SLASH!!
Pedang Rinne menebas bagian belakang lutut.
Kali ini—
CRAAAK!!
Kulit terbuka. Darah hijau menetes deras.
Goblin Brute mengamuk.
“GRRRRRAAAAAAAAA!!!!”
Ia memukul tanah membabi buta, menyebabkan guncangan besar.
Kusma hampir terlempar.
“AARGH—!”
Rinne berteriak.
“Kusma! Keluar dari jarak dekat!”
“Aku tahu tapi—UGH!”
Getaran membuatnya jatuh tersungkur.
Goblin Brute melihatnya.
Mata merahnya menyala.
Target berikutnya: Kusma.
Kematian Mengintai
Monster itu mengangkat balok kayu setinggi mungkin.
Kusma mencoba bangun, tapi kakinya terpeleset darah dan lumpur.
“Tunggu—Tunggu dulu—!”
Balok turun.
Dengan kekuatan menghancurkan.
BOOOOM—!!!
Kusma hanya punya satu detik untuk bereaksi.
INI MATI. INI BENERAN MATI.
Namun pada detik terakhir—
Pedang Rinne menghantam balok dari samping.
CLAAAANGG!!!
Tubuh Rinne terguncang keras.
Ia terdorong beberapa meter dan hampir jatuh.
“Kamu—kenapa diserang frontal!?”
Rinne berteriak marah.
“Aku jatuh! Liat nggak sih!?”
“Kenapa kamu bisa jatuh?!”
“Karena MONSTERNYA GEDE BANGET!!!”
Pertengkaran singkat mereka tidak lucu bagi Goblin Brute.
Monster itu mengangkat balok lagi.
Kusma menelan ludah.
Rinne mendekat, wajahnya tegang.
“Kusma! Dengarkan aku!”
“Aku mendengarkan!”
“Kita tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan biasa!”
“Aku tahu itu!”
“Kita harus hancurkan tendon belakangnya. Setelah itu, serangan terakhir di leher!”
Kusma terdiam.
“Kamu butuh aku untuk langkah itu?”
Rinne mengangguk cepat.
“Kamu harus mengalihkan perhatiannya! Aku yang eksekusi!”
“…Oke.”
Kusma berdiri walau tubuhnya goyah.
Jika ini game…
Dia punya 10%-20% kemungkinan selamat.
Tapi ini bukan game.
Ini dunia nyata.
Dan kalau ia salah sedikit saja…
Kepalanya akan hancur.
LANGKAH KUSMA — INSTING GAMER
Kusma menarik napas panjang.
“HEY KAMU, GOBLOK BESAR!! SINI LAWAN AKU!!”
Goblin Brute menoleh cepat.
“GRHHHHH!!”
Ia menyerbu.
Kusma berlari sambil memancing gerakan monster itu.
Ia menghindar ke kanan, kiri, berguling ketika balok menghantam tanah, lalu meloncat ke batu untuk memancing ketinggian.
BOOM!
BOOM!
CRAACK!
Tanah hancur di belakangnya.
Jangan mikir.
Jangan takut.
Gerak terus!
“Ayo sini! Sedikit lagi!”
Rinne sudah ada di posisi tepat — di belakang monster.
Kusma berteriak:
“SEKARANG!!”
SERANGAN PENENTU
Rinne melompat tinggi, lebih tinggi dari apa pun yang pernah Kusma lihat.
Pedangnya terangkat ke atas.
SLAAAASH—!!!
Pedang itu menebas tendon belakang lutut Goblin Brute.
CRUUT!!
Goblin Brute menjerit kesakitan dan jatuh berlutut.
“KUSMA!! BAGIAN LEHER!! SEKARANG!!”
Kusma memegang pisau kecilnya.
Tangan gemetar.
Tubuh lemah.
TAPI INI KESEMPATAN.
Ia berlari.
Melompat.
Dan menusuk—
TEPAT ke bawah tengkorak Goblin Brute.
STAAABBB—!!!
Monster itu berhenti bergerak.
Tubuhnya jatuh ke tanah.
BOOOOM…
Hening memenuhi hutan.
Kusma terjatuh ke lutut, terengah-engah.
Rinne menatapnya lama… lalu menghela napas lega.
“…Kamu ternyata tidak sepenuhnya bodoh.”
Kusma tertawa kecil.
“Aku anggap itu pujian.”
“Jangan terlalu percaya diri.”
Beberapa detik kemudian, cahaya biru kecil mulai keluar dari tubuh Goblin Brute.
Spirit Mon.
Jumlahnya…
700 SPM.
Kusma mengulurkan tangan, dan cahaya itu masuk ke tubuhnya.
Sebagian tubuhnya terasa hangat.
“Aku… dapat 700 SPM.”
Rinne mengangguk.
“Itu cukup untuk membuka… apa pun yang ingin kamu buka.”
Kusma tersenyum kecil.
“Satu langkah… menuju kalian.”
Ia berbisik untuk seseorang yang tak ada di sana.
Luna.
Neira.
Aria.
Hana.
Elie.
Emeli.
Aku akan memanggil kalian satu per satu.
Rinne mendekat.
“Kusma.”
“…Ya?”
“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan sejak tadi.”
Rinne menatap langsung ke matanya, tajam dan serius.
“Bagaimana kamu tahu pola serangan Goblin Brute bahkan sebelum aku mendekat?”
Kusma terdiam.
Udara menjadi berat.
Rinne menambahkan:
“Kamu bukan petualang biasa, kan?”