48
Update

48

Tentu! Aku akan revisi Chapter 50 menjadi versi lebih ringan, komedi, santai, tapi tetap keren, tidak terlalu dramatis, dan tetap terasa seperti novel petualangan.

Berikut versi REVISI KOMEDI RINGAN dari Chapter 50:


CHAPTER 50 — LAPORAN QUEST & PERPISAHAN VERSI RILEKS-KOMEDI

Senja baru turun ketika Kusma dan Aria tiba di gerbang Leafden. Bukannya suasana melankolis, yang terdengar justru…

Growl.

Aria memegang perutnya.

“M-Master… saya lapar…”

Kusma menatapnya datar.

“…Kita hampir mati lawan Titan Mutasi, tapi kamu masih bisa mikir perut?”

Aria memegang pipinya malu.

“Hehe… energi saya habis~”

Kusma mendesah sambil tersenyum.

“Ya sudah, nanti kita makan banyak sebelum tidur.”

Aria langsung bersinar seperti lampu jalan.

“JANJI!?”

“Ya, janji…”

Dengan itu, perjalanan kembali terasa lebih santai.


⭐ GUILD LEAFDEN — KEHENINGAN YANG NGERI

Begitu pintu guild terbuka…
semua petualang diam.

Seperti tombol mute ditekan.

Aria berhenti.
Kusma berhenti.

Ratusan mata menatap mereka berdua.

Ketegangan meningkat…

Aria menelan ludah.
“Master… kenapa sunyi sekali…?”

Kusma mengecek wajahnya.
“Mungkin ada sayur nyangkut di gigimu.”

“A-APAA!? Jangan bilang begitu—!”
Aria panik memegang pipi.

Namun ternyata alasan keheningan itu…

Adalah karena Rena, sang resepsionis, berdiri sambil memegang laporan quest seperti mau meledak.


Rena: Mode “ERROR 404”

Rena membaca laporan misi.

Matanya membesar.
Mulutnya terbuka.
Wajahnya berubah seperti melihat alien.

“V…Verdant Titan Howler… dua… kalian berdua saja…?!”

Kusma mengangguk santai.

“Ya, bonusnya banyak.”

Aria menambahkan pelan.

“Kami agak kewalahan, tapi… saya buff Master sepuluh kali lebih banyak, jadi aman…”

Rena bersandar ke meja.

“Aman…? Buff sepuluh kali…? Aria, itu buff atau doping ilegal…?”

Aria langsung mengibaskan tangan.

“B-barrier saya halal! Tidak ada efek samping!”

Kusma menoyor kepalanya pelan.

“Ya, kecuali konsumsi MP tinggi.”

Aria memelototinya halus.
“Itu bukan efek samping…”

Rena memegang kepala seperti pusing migrain.

“Aku lapor ke kepala guild dulu… jangan kemana-mana!!”

Ia lari seperti angin.


RUANG KEPALA GUILD — SANTAI, TAPI BIKIN DEG-DEGAN

Kepala guild menatap laporan quest, lalu menatap mereka.

Lalu laporan.
Lalu mereka.

Dan akhirnya menghembuskan nafas.

“…Kalian ini manusia biasa kan?”

Kusma: “Kurasa iya.”

Aria: “Master manusia. Saya support.”

Kepala guild memijat hidung.

“Support macam apa yang bisa buff sampai level Rank A…?”

Aria mengangkat jari.
“Yang limited.”

“…”

Kepala guild memutuskan untuk tidak lanjut bertanya.

Ia menyerahkan dua medali.

“Kalian bebas pergi ke ibu kota kapan saja.”

Kusma mengangguk ringan.

“Terima kasih.”

Aria membungkuk sopan.

“Saya akan jaga Master baik-baik!”

Kepala guild: “Justru aku khawatir Master-mu yang jadi overpowered.”


⭐ KELUAR GUILD — KEHEBOHAN MASSAL

Begitu pintu ruangan dibuka…

Seluruh guild berhenti aktivitas.

Ratusan petualang menatap—
lalu memberikan tepuk tangan keras.

“WOOOOOO!!!”
“KUSMA! ARIA! KALIAN GILA!!!”
“TITAN MUTASI APAH ITU!? KALIAN MAKAN APA!!??”

Aria memerah seperti tomat.

“M-Master… aku malu…”

Kusma menepuk bahunya.

“Tenang. Mereka cuma kagum.”

Di tengah kerumunan, petualang besar mengangkat tangan.

“JANGAN LUPA KIRIM OLEH-OLEH DARI IBU KOTA!!”

Yang lain menimpali:

“JANGAN LUPA BALIK KE LEAFDEN YA!”
“BERDUA JANGAN KABUR JADI PASANGAN DI ARGENT!!”

Kusma tersedak.

“A-apa?! Pasangan!?”

Aria langsung menutup wajah pakai staf.

“Ma-Ma-MASTERRR jangan dengarkan merekaaa!!”

Para petualang makin ribut.

Rena muncul dari belakang.

“HEI!! TENANG!!”

Semua hening.

Rena melanjutkan:

“…kalau kalian jadi pasangan, undang aku ke pernikahan.”

Aria hampir jatuh pingsan.
Kusma memegangnya cepat.


MALAM ITU — WAKTU YANG TENANG

Di luar guild, suasana kembali normal.

Lampu-lampu kecil menyala di sepanjang jalan.
Udara terasa damai.

Aria berjalan pelan di samping Kusma.

“Master…”

“Hm?”

“…Meski digoda petualang tadi… saya tidak keberatan kalau bersama Master.”

Kusma berhenti sebentar.

“…Aku juga.”

Aria memerah, tapi tersenyum.

“Kita pergi ke ibu kota besok, ya?”

Kusma mengangguk.

“Ya. Kita mulai petualangan baru.”

Aria memeluk lengan Kusma lembut.

“Master… janji—tetap bersama saya sampai akhir.”

Kusma tersenyum.

“Aku janji.”


Versi ini lebih santai, komedi, tapi tetap manis dan menunjukkan perkembangan hubungan Kusma × Aria.

Kalau kamu mau, kita lanjut ke CHAPTER 51 — Malam Terakhir di Leafden & Persiapan Perjalanan.

Lanjut?