- Update
51
💖 CHAPTER 53 — GENGGAMAN TANGAN DAN DEGUPAN YANG TIDAK DIJADWALKAN
Kereta melaju stabil. Angin sore mengibarkan rambut perak Aria yang bersinar lembut di bawah cahaya matahari.
Aria terus menatap Kusma. Seolah kalau berkedip sedikit saja, Kusma akan menghilang dari dunia.
“…Aria, kamu menatapku lagi.”
Aria mengangguk mantap.
“Ya. Ini tugas penting.”
“Sejak kapan?”
“Sejak saya menyadari Master itu sangat… membahaya.”
“Bahaya buat siapa?”
“…buat hati saya.”
Kusma langsung salah urat napas.
“Jangan ngomong gitu mendadak—”
Belum selesai protes, Aria dengan sangat natural menyandarkan kepala di bahunya.
“Master… kalau saya tiba-tiba harus tidur, apakah Master akan tetap di sini saat saya bangun?”
“Tentu saja. Aku nggak pergi ke mana-mana—”
“Kalau begitu… saya percaya Master sepenuhnya.”
Kusma terdiam.
Kata-kata itu begitu tulus, sederhana, tapi menghantam tepat di dada.
“…Aria.”
Aria mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke matanya. Jarak mereka sangat dekat.
“Master.”
Kusma merasakan jantungnya berdetak keras.
Aria tersenyum… dengan ekspresi nakal.
“Tuh kan~ Master gugup~”
“…Kamu sengaja ya.”
Aria tidak menjawab. Ia hanya merebut tali kekang dari tangan Kusma—dan memindahkannya ke tangan kirinya.
Lalu ia mengambil tangan kanan Kusma…
Dan menggenggamnya erat.
“…Aria?”
“Saya bilang tadi, kan? Kalau istirahat saya boleh peluk tangan Master.”
Aria bersandar, suara lembutnya terdengar seperti bisikan.
“Sekarang pun istirahat hati saya…”
Kusma menatap tangan mereka yang bertaut. Ia tidak menarik diri.
“…kalau kamu nyaman, ya biarkan saja.”
Aria tersentak senang.
Kemudian memejamkan mata…
Dan mendekat lebih dekat lagi.
“Master.”
“Hm?”
“Saya… boleh cium?”
Kusma langsung menahan napas.
“…Kamu… apa?”
Aria membuka satu mata, pipinya merah tapi ekspresinya serius.
“…boleh?”
Detik-detik sunyi berlalu.
Kusma merasa otaknya mulai hang.
“…Simpan dulu untuk situasi yang lebih pas,” ujar Kusma, suara sedikit serak.
Aria mengembang pipi, kecewa.
“Tapi situasinya romantis…”
“Kita masih di kereta. Kuda bisa tersinggung.”
Aria memandang kuda itu penuh curiga.
“Hmph… dasar kuda penghalang romansa.”
Kuda: neigh??
Aria mendekat lagi… kali ini lebih lembut.
Ia menyentuhkan keningnya pada lengan Kusma.
“…kalau begitu pelukan saja dulu.”
Pelan, ia melingkarkan lengannya di tubuh Kusma dari samping—masih dalam posisi duduk.
Kusma membiarkan. Tak ada alasan untuk menolak.
“Aria.”
“Hm?”
“Setelah sampai di Argent… apa kamu masih mau begini di depan orang lain?”
“…Iya.”
Aria menjawab cepat.
“Tapi kalau ada yang lihat dan salah paham?”
“Biarkan saja. Saya ingin orang tahu bahwa saya partner Master…”
Wajah Aria makin merah, matanya menunduk.
“…dan saya menyukai Master.”
Kusma memejamkan mata sebentar. Kalimat itu menghantam jantungnya lebih kuat dari monster apa pun.
“Aku ngerti…”
Suaranya lembut.
Aria menengadah, senang kembali.
Lalu—
Chu.
Ia mencium pipinya dengan cepat seperti pencuri.
Kusma: “!? …Aria…”
Aria langsung menutup wajah dengan kedua tangan.
“S-SALAH SAYA!! Itu spontan!!”
Kusma menatap jauh ke depan.
Mencoba menetralisir panas di wajahnya.
“…Ini perjalanan yang panjang.”
Aria mengangguk heboh.
“Saya siap! Saya akan menggoda Master setiap hari!”
“Jangan terlalu bangga dengan itu!”
Aria tertawa kecil.
Sinar matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan.
Tangan mereka masih saling menggenggam erat…
hati juga.
Dan perjalanan menuju ibu kota… semakin manis.