Dunia Arnia Bab 10
Update

Dunia Arnia Bab 10

BAB 10 — Gelombang Utama, Malam Ketika Hutan Menjerit

Angin berubah.

Awalnya hanya hembusan samar… lalu perlahan menjadi tekanan berat di dada, seolah seluruh udara di hutan ditarik ke satu arah.

Kusma mengangkat kepala.

“…Rinne. Mundur tiga langkah.”

Rinne mengerutkan dahi.
“Kau merasakan itu juga?”

“Ya.”

Suasana terlalu sunyi.
Tidak ada suara goblin yang biasanya berisik.
Tidak ada geraman.
Tidak ada langkah.

Di game, pola seperti ini hanya berarti satu hal:

Wave Start.


🔥 Ledakan Suara dari Dalam Hutan

DOOOOM!!!

Tanah bergetar.
Burung-burung terbang panik.
Obor petualang bergetar hingga apinya membentuk garis zig-zag.

Lalu terdengar—

GRUUUAAAAAHHHHHH!!!!!

Raungan panjang, berat… bukan milik goblin biasa.

Semua petualang Raid merapatkan formasi.

Rinne mengangkat pedangnya tinggi.
“Bersiap! Itu… suara goblin brute dalam jumlah besar!”

Kusma menggenggam pedangnya.
Jantungnya berdetak cepat, namun langkahnya mantap.

Ia tahu apa yang akan terjadi…

Tapi untuk pertama kalinya, ia akan merasakannya secara nyata.


🔥 Mereka Datang

Dedaunan pecah.
Pohon-pohon terguncang seolah diinjak sesuatu.

Dan akhirnya…

Puluhan goblin brute, ratusan goblin kecil, muncul sekaligus.

Hijau.
Hitam.
Gigi-gigi tajam.
Teriakan liar.

“SEBANYAK INI?!”
“INI GILA!”
“BACKLINE, SIAPKAN PANAH!”

Para petualang ketakutan.
Beberapa rank D mulai gemetar.

Rinne menancapkan pedangnya ke tanah.

“FORMASI! JANGAN CERAI-BERAI!”

Tapi gelombang itu terlalu besar.

Goblin berlari dalam gerombolan, menabrak apa pun di depan mereka.

Kusma merasakan tekanan itu menghantam dadanya—
Tak ada UI, tak ada HP bar.
Semua sensasi chaos tertumpah langsung ke tubuhnya.

Ia menelan ludah.

Ini bukan raid biasa… ini seperti neraka.

Namun ia bertekad.

Ia butuh SPM.
Ia butuh membuka Slot Partner Pertama.
Ia butuh bertahan hidup.


⚔️ Pertempuran Dimulai

Goblin pertama menerjang.

Kusma memiringkan tubuhnya, menebas dari bawah—

SHAAAAK!

Darah hijau menyembur, penglihatan jadi kabur sesaat.
Tubuh goblin jatuh.

Sebelum ia menarik napas:
dua goblin kecil menyergap dari kanan dan kiri.

Kusma merunduk, menendang ke depan, lalu memotong diagonal.

ZRAAK!
ZROOK!

Rinne menghampiri sambil menebas brute yang mendekat.

“Jangan jauh dariku!”

“Aku di sini!”

Mereka bertarung punggung ke punggung.

Rinne memotong formasi depan, Kusma menutup sisi-sisi berbahaya.

Gerakan mereka mulai sinkron, layaknya tim yang sudah berlatih bertahun-tahun.


🔥 Peningkatan “Insting Gamer”

Di tengah pertarungan brutal, Kusma merasakan sesuatu.

Gerakan goblin melambat.
Atau… otaknya yang bekerja lebih cepat.

Ia mulai memprediksi arah serangan.

Goblin lompat ke kiri?
Kusma sudah menusuk ke arah itu sebelum monster bergerak sepenuhnya.

Goblin brute bersiap menghajar dengan pentungan?
Kusma sudah menurunkan pusat gravitasi dan menebas lututnya.

Seluruh dunia terasa lebih jelas.

Rinne yang melihat dari sudut mata menjadi terkejut.

“…Gerakanmu… mulai tidak masuk akal,” gumamnya.

Kusma terdiam sejenak.

“Refleksku… mungkin meningkat karena adrenalin.”
Ia mengarang alasan cepat.

Rinne tidak menjawab, namun tatapannya… tajam.


🔥 Gelombang Kedua

“BRUTE LAGI DI DEPAN!!”
“RAID! JAGA POSISI!!”
“JANGAN BIARKAN MEREKA MENEMBUS BARISAN!”

Empat brute sekaligus menyerbu petualang di kiri.

Dua rank D terlempar seperti boneka.
Fisik mereka terlalu lemah untuk menerima hantaman begitu keras.

“Kusma… kita harus bantu mereka!”

Rinne berlari.
Kusma mengikuti.

Brute pertama menyerang Rinne dari depan.
Kusma memutar dari samping—

ZRAAAP!
Ia menebas tendon kaki brute dengan presisi.

Rinne langsung menghabisi brute itu.

Petualang lain melongo.

“Anak itu… memotong brute?”
“Itu teknik rank C minimal…”
“Siapa sebenarnya dia?!”

Kusma langsung menunduk.

“Ke—kebetulan saja…”

Rinne mencuri pandang.
“…Kusma, setelah ini aku mau bicara. Serius.”

Kusma tertelan mulutnya sendiri.

Sial.
Ia terlalu menonjol.


✨ SPM MENGALIR

Spirit Mon biru menembus tubuh Kusma seperti aliran listrik hangat.

  • 9
  • 8
  • 6
  • 10
  • 42
  • 36
  • 39
  • 7
  • 6
  • 14
  • 8

Total malam ini: 230 SPM… 260… 280… 297…

Kusma menggigit bibir.

TIGA SPM LAGI.
Hanya tiga lagi… dan Slot Partner #1 terbuka.

Dan ia tahu siapa yang ingin ia panggil dulu.

Luna.
Mage SSR pertama.
Support terkuat.

Jika ia memanggil Luna, kemungkinan selamat naik drastis.

Tapi di tengah harapan itu…


🔥 Sesuatu Bergerak di Gelap

Bukan goblin biasa.
Bukan brute.

Suara langkah berat, teratur, dengan napas rendah yang menekan ruang.

Kusma mengenal suara itu.

Rinne ikut menajamkan telinga.

“Sesuatu yang besar datang…”

Kusma menelan ludah.

Dan saat ia menatap antara dua pohon cedar raksasa…

Bayangan itu muncul.

Tinggi dua meter.
Armor hitam.
Tanduk kecil.
Mata merah menyala.

Goblin.

Tapi bukan sembarang goblin.

GOBLIN COMMANDER.

Rinne mengambil posisi bertarung.

“Monster itu… tidak seperti goblin lainnya.”

Kusma mengencangkan genggamannya.

Di game, monster ini adalah BOS “Outpost War”.

Di dunia ini…
Ia jauh lebih kuat.
Lebih cerdas.
Lebih mematikan.

Commander mengangkat pedang tulang raksasa setinggi tubuh manusia.

GRRRUUAAAAAHHHHH—

Raungannya mengguncang seluruh hutan.

Spirit petualang mulai runtuh.

Rinne berbisik kepada Kusma:

“Kusma… jika kita melawan itu… kemungkinan kita mati sangat tinggi.”

Kusma mengangguk.

“…Aku tahu.”

Namun ia menarik napas panjang.

Karena di belakang commander—

ada goblin kecil satu…
yang memegang tombak patah…
melihat mereka dengan mata ketakutan.

Goblin kecil itu terluka…
dan seperti dipaksa maju.

Kusma memejamkan mata.

Jika commander dibiarkan hidup…
semua penduduk desa Farglen bisa hancur.

Ini bukan game lagi.
Ini dunia nyata.
Dan keputusan ini harus nyata juga.

Ia mengangkat pedangnya.

“Rinne…”

“Hm?”

“Kalau kita mundur, banyak yang mati.”

Rinne menatap mata Kusma.
Penuh tekad.
Tak ada rasa takut.

“…Kau benar.”

Ia menaikkan pedangnya tinggi.

Keduanya berdiri berdampingan.

Goblin Commander menurunkan posisinya, bersiap menerjang.

Kusma merasakan jantungnya berdebar keras.

Jika aku bunuh dia…
SPM-nya pasti lebih dari cukup…
Slot Partner #1 akan terbuka…

Ini waktunya…

“Rinne. Ayo kita jatuhkan monster itu.”

Rinne tersenyum tipis—senyum seorang petarung yang siap mati bersama.

“Baik… kita lakukan.”

Dan saat Commander mulai berlari, tanah bergetar hebat—

Pertempuran paling berbahaya dalam hidup Kusma… dimulai.