Dunia Arnia Bab 11
Update

Dunia Arnia Bab 11

 BAB 11 — Pertarungan Hidup-Mati melawan Goblin Commander

Angin malam seperti menghilang.
Hutan menjadi sunyi… sunyi yang menyesakkan.

Goblin Commander berdiri di depan mereka, tubuh raksasanya memancarkan tekanan seperti predator puncak.
Mata merahnya memantulkan bayangan Kusma dan Rinne—dua manusia yang berani berdiri di hadapannya.

Kusma menelan ludah.

“Rinne… dia datang.”

Rinne mengangguk tanpa berkata apa pun.
Mereka mengambil posisi.

Dari kejauhan, para petualang lain mundur panik.

“Apa itu…?!”
“Boss monster?!”
“Kita nggak bisa bantu mereka! Itu level Rank-B!”
“Lari! Semua mundur!”

Tapi Kusma dan Rinne tetap di tempat.

Mereka tahu:
Jika mereka lari, Farglen akan runtuh.


🔥 Serangan Pertama: ‘Frenzy Charge’

BOOOOM!!

Commander menerjang dengan kecepatan tak masuk akal untuk makhluk bertubuh dua meter itu.
Tanah terbelah, akar pohon beterbangan.

Rinne melompat ke samping.

“AWAS, KUSMA!”

Kusma menggerakkan tubuhnya setengah detik lebih cepat dari biasanya—
Insting gamer yang terasah puluhan ribu jam menyelamatkannya.

Namun pedang tulang raksasa itu tetap menyerempet dadanya.

SKRAAASS!!

Darah memercik.
Kusma terlempar, berguling keras, dan menabrak batang pohon.

“—GHHH!!”

Rasa sakitnya luar biasa.
Tidak seperti game.
Tidak ada hit bar.
Hanya rasa terbakar… seakan dadanya dipukul palu panas.

Rinne berteriak dari depan.

“BERTAHAN!! JANGAN MATI!!”

Kusma memaksa bangkit, tubuhnya bergetar.

“Belum… selesai…”

Commander menatapnya tua dingin.
Seolah-olah berkata:

“Makhluk lemah. Hanya sekadar daging.”


🔥 Serangan Kedua: ‘Skull Cleave’

Commander mengangkat pedang dua tangan.

WHOOOOSH—!!

Rinne menahan tebasan itu dengan pedangnya, tapi kekuatan Commander seperti raksasa.

GGRRAAAKK!!

Tanah di bawah kaki Rinne retak.
Wajah Rinne memerah karena tekanan.

“Kusma… cepat… serang…!!”

Kusma memaksa langkahnya stabil.
Napasnya berat.

Di game, pola ini jelas:
Setiap kali Commander menyerang dengan dua tangan, bagian dadanya terbuka selama 0,5 detik.

Dalam dunia nyata… waktu itu nyaris tidak ada.
Namun cukup.

Kusma melesat—
menyelinap ke samping—
dan menusuk bagian bawah ketiak Commander.

STAAAB—!!

Darahlah hijau kental muncrat.

Commander mengaum marah dan menendang Kusma dengan kekuatan brutal.

BUAGH!!

Kusma terlempar seperti boneka kain.
Tubuhnya memantul dua kali di tanah.

“Gghhh…!”

Rasa nyeri menguasai seluruh tulang.


✨ SPM Darurat

Dari luka-luka goblin kecil yang mereka bunuh sebelumnya, serpihan SPM yang masih mengambang masuk ke tubuh Kusma.

  • 1 SPM
  • 1 SPM
  • 2 SPM

Total: +4 SPM
Dan itu…

297 → 301 SPM

Kusma membelalakkan mata.

Slot Partner #1…

TERBUKA.

Namun—

Belum saatnya memanggil siapa pun.
Tidak dengan kondisi ia nyaris mati.
Tidak dengan Rinne yang berada dalam bahaya.

“Luna… nanti. Bukan sekarang. Aku butuh waktu. Aku butuh ruang.”


🔥 Pertarungan Memasuki Titik Runtuh

Rinne tubuhnya mulai tak stabil.
Napasnya pendek.
Tangan kanannya berdarah.

“Kusma… aku tidak bisa menahan dia terlalu lama!”

Commandernya mendengus.
Ia menendang tanah, bersiap untuk serangan ketiga—serangan paling mematikan dalam pattern-nya.

‘Decapitation Lunge’.

Satu serangan.
Jika kena, kepala hilang.

Kusma tahu pattern itu.
Tahu timingnya.
Tahu cara menghindarinya.

Tapi tubuhnya… bukan tubuh gamer level 100.
Ini tubuh remaja 16 tahun yang babak belur.

Ketika Commander melompat ke depan—
DOOM!!

Rinne refleks menahan.
Pedangnya hampir patah.

“RUN—!!”
Suara Rinne pecah.

Kusma menghela napas.

“Tidak.”

Commander menoleh pada Kusma.

“Mati lah… anak manusia,” gumamnya dalam bahasa monster.


🔥 Insting Gamer: Mode Bertahan Hidup

Waktu melambat.

Tidak…
Itu hanya otaknya yang memaksa bekerja lebih cepat dari batas normal.

Ia melihat:

– putaran pergelangan tangan Commander
– arah mata yang condong 3°
– tekanan pada kaki monster
– jeda napas 0,2 detik sebelum tebasan

Ini bukan skill.
Bukan UI.
Bukan cheat.

Ini 10.000 jam pengalaman raid yang menyatu dengan naluri manusia.

Kusma melompat ke kanan.
Hanya setengah meter.

Pedang raksasa Commander menghantam tanah—
DOOOOM!!
Membuat kawah besar.

“Rinne!! SEKARANG!!”

Rinne mendorong tubuhnya, mengeluarkan sisa tenaga terakhir.

SHAAAAK!!

Pedangnya menusuk bahu kanan Commander.

Commander meraung marah—
tapi itu memberi celah.

Kusma melompat ke atas batu kecil—
mengambil posisi tinggi—
dan menusuk ke bawah tepat di titik jantung monster.

Titik yang hanya gamer level tinggi yang tahu.

STAAAAAAB!!!!

Commander mengaum.
Tubuh besarnya bergetar.

Lalu…

BOOOOOM!!

Tubuh itu tumbang.

Tanah berguncang saat monster itu benar-benar mati.

Hutan menjadi sunyi.

Rinne jatuh berlutut, kehabisan napas.

Kusma berdiri terhuyung—
darah menetes dari mulutnya—
mata sedikit buram.

Namun ia melihatnya.


✨ Letupan SPM Boss Rank-B

Dari tubuh Goblin Commander, cahaya biru besar meledak.

FWOOMMMMM—!!
Gelombang energi itu seperti badai, menghantam tubuh Kusma dan mengalir deras ke dalamnya.

  • 112 SPM
  • 89 SPM
  • 130 SPM
  • 40 SPM

TOTAL: 372 SPM dari Boss.
Total keseluruhan: 673+ SPM.

Tubuh Kusma panas, ototnya berdenyut, matanya seperti disambar listrik.

Ia nyaris pingsan karena aliran energi terlalu kuat.

Rinne menatapnya dengan mata lebar.

“Kusma… tubuhmu… memancarkan cahaya… apa itu…?”

Kusma cepat memalingkan wajah.

“SPM… efek—uh—energi monster… normal untuk pemula…”

Ia bicara setengah bohong.
Tapi Rinne terlalu lelah untuk curiga.

Kusma memegang dadanya.

Slot Partner #1 telah resmi terbuka.
Ia hanya perlu memanggil.

Namun belum sekarang.

Tubuhnya nyaris runtuh.
Tenaganya tersisa 1%.

Dan ia tidak mau bangunkan Luna dalam kondisi ia sekarat.
Ia ingin memanggilnya dengan tenang… dan aman.


🔥 Jatuh

Setelah memastikan tidak ada goblin tersisa, Kusma berjalan pelan menuju Rinne.

Rinne tersenyum lemah.

“Kita… berhasil…”

Kusma balas tersenyum.

Lalu—

…seluruh pandangannya gelap.

Tubuhnya ambruk.

Sebelum kesadaran hilang, ia mendengar suara lembut…
suara yang ia kenal…

“Kusma… akhirnya… kamu membuka pintu itu…”

Luna.
Gadis mage SSR.
Terbangun… di suatu tempat.

Dan kemudian, semuanya hitam.