- Update
Dunia Arnia Bab 12
BAB 12 — Kebangkitan Sang Mage di Dunia Nyata
Suara riuh rendah terdengar samar.
“Dia masih hidup?”
“Ada napasnya—! Cepat, bawa dia ke klinik!”
“Anak ini… melawan Goblin Commander?!”
Kusma mendengar semuanya seperti dari balik air.
Tubuhnya berat, seluruh tulangnya terasa remuk.
Dalam kegelapan itu… ia merasakan sesuatu.
Sebuah kehangatan.
Seperti tangan lembut menyentuh kepalanya.
Dan suara yang sangat ia kenal.
“…Master.”
Kusma terkejut.
Luna…?
Namun suara itu menghilang sebelum ia bisa menjawab.
☀️ Pagi Hari di Klinik Desa Farglen
Ketika Kusma membuka mata, atap kayu sederhana terlihat di atasnya.
Wangi dedaunan obat memenuhi udara.
Ia berada di ranjang. Tubuhnya digulung perban.
“Ah… kamu sadar.”
Rinne muncul di samping ranjang, duduk di kursi kecil.
Pipinya memar, lengannya diperban.
“Kusma… terima kasih. Kalau bukan karena kamu, satu desa ini habis.”
Kusma tersenyum kecil.
“…Kita yang bertarung. Kita yang bertahan hidup.”
Rinne tertawa pelan.
“Benar juga.”
Namun tatapannya menajam.
“Tapi ada yang membuatku heran.”
“Kekuatanmu, nalurimu, timing seranganmu… tidak seperti rank F, atau bahkan rank E.”
“Kamu… benar-benar apa?”
Kusma menahan napas.
Namun sebelum ia menjawab—
TOOOOK! TOOOOK!
Ada ketukan pintu.
Rinne berdiri.
Membukanya.
Seorang perempuan berdiri di depan pintu.
✨ Kedatangan Gadis Misterius
Kusma mematung.
Gadis itu memiliki rambut perak lembut sepanjang pinggang, mata biru bening seperti sinar bulan, kulit putih bersih, dan pakaian sederhana namun sangat rapi—pas dengan dunia ini.
Ia terlihat… seperti manusia biasa.
Namun Kusma tahu, dari aura mana yang samar itu…
Itu Luna.
Partner SSR pertamanya.
Mage Murni Bintang 5.
Luna masuk pelan, langkahnya ringan.
Rinne tertegun.
“Si… siapa kamu?”
Luna membungkuk sopan.
“Saya Luna.”
“Saya… teman dekat Kusma.”
Kusma nyaris tersedak.
Luna menoleh kepadanya.
Wajahnya lembut.
Birunya mata itu memancarkan rasa bahagia.
“Master,” bisiknya.
Kusma langsung memberi isyarat halus dengan mata:
(Jangan panggil aku Master di depan orang! Nanti ketahuan!)
Luna hanya tersenyum kecil… seolah tidak mengerti.
Rinne menatap bergantian.
“…Master?”
Kusma cepat berkata, “Itu—uh—panggilan… lama! Kebiasaan buruk dia!”
Luna mengangguk.
“Benar. Saya sudah terbiasa memanggil Master…
ehm… Kusma… begitu sejak lama.”
Dari nada suaranya, jelas ia tidak sepenuhnya mengerti dunia sosial di sini.
Namun Rinne belum sepenuhnya curiga.
Ia hanya menghela napas.
“Syukurlah kamu punya teman yang peduli.”
✨ Setelah Rinne Pergi
Rinne pamit untuk melapor ke guild dan meninggalkan Kusma berdua dengan Luna.
Begitu pintu tertutup, Kusma langsung berbisik.
“Luna… bagaimana kamu bisa muncul di sini? Bukannya dunia ini—”
Luna duduk di samping ranjangnya.
Wajahnya lebih lembut, auranya lebih hangat daripada versi game.
Ia meraih tangan Kusma.
“Master membuka Slot pertama.
Maka saya datang.”
“Tapi… tubuh fisikmu… nyata…”
Ia tersenyum cantik.
“Di dunia ini, kami… bukan data.
Kami hidup. Kami punya wujud. Kami bernapas.”
Kusma menelan ludah.
“Kalau begitu… kamu benar-benar manusia sekarang?”
“Ya, Master.”
“Namun semua kemampuan saya masih terkunci sebagian. Butuh waktu agar sihir saya pulih.”
Luna memandang ruangan.
“Mereka tidak boleh tahu.
Jika orang-orang mengetahui saya dipanggil dari dimensi lain…
Master akan dianggap penyihir terlarang.”
Kusma mengangguk.
“Baik. Kita rahasiakan semuanya.”
Luna tersenyum bahagia, seperti anak kecil yang baru menemukan rumah.
✨ Luka Kusma Menyembuh Aneh
Luna menyentuh dada Kusma.
“Tolong tutup mata, Master.”
Ia menyalurkan sihir tingkat dasar—
tanpa mantra, tanpa efek visual mencolok seperti game.
Hanya kehangatan lembut.
Dalam hitungan detik, rasa sakit di tubuh Kusma mereda.
Perban yang tadinya berdarah, mengering.
Kusma terkejut.
“Luna… kamu bisa menyembuhkan?”
“Sedikit.
Ini kemampuan dasar yang saya memiliki tanpa perlu katalis.”
Jika Rinne melihat ini, ia pasti curiga.
Sihir penyembuhan kelas tinggi biasanya butuh pelatihan bertahun-tahun.
Kusma menghela napas.
“Luna, mulai sekarang… kamu harus bertingkah seperti manusia biasa.”
“Apa saya tidak terlihat seperti manusia, Master?”
“Terlihat… terlalu cantik.”
Luna mengedip.
“Itu… salah?”
“Masalah besar,” gumam Kusma.
—
✨ Hubungan Mereka Dimulai
Luna sibuk merapikan rambutnya, mencoba berperilaku normal.
“Master… apa saya boleh tetap di dekatmu?”
“Tentu. Kita satu tim.”
Luna terlihat sangat bahagia mendengarnya. Pipinya memerah.
“Terima kasih, Master…”
Namun Kusma tahu:
Dengan Luna hadir… semuanya berubah.
Kekuatan?
Akan meningkat drastis.
Tetapi…
Bahaya?
Seratus kali lipat.
Tidak ada yang boleh tahu.
Tidak ada satu pun orang di Arnia boleh tahu Luna dipanggil dari sistem yang tidak seharusnya ada di dunia ini.
Kusma menatap jendela.
“Luna…”
“Ya, Master?”
“Kita harus hidup dengan hati-hati di dunia ini.”
Luna menatapnya lembut.
“Saya akan melindungi Master… selalu.”