- Update
Dunia Arnia Bab 13
BAB 13 — Gadis Misterius di Guild Farglen
Keesokan harinya, Kusma dan Luna tiba di depan Guild Petualang Desa Farglen.
Bangunan kayu bercat hijau, dengan papan misi yang hampir penuh.
Langkah pertama setelah pulih adalah melaporkan hasil perburuan goblin.
Tapi begitu mereka masuk…
Semua orang menatap mereka.
Suasana hening sejenak.
Bisik-bisik pun mulai terdengar.
“Itu anak yang melawan Goblin Commander, kan?”
“Kudengar dia pingsan selama satu hari penuh.”
“Siapa gadis cantik itu di sampingnya?!”
Luna menggenggam ujung jubah Kusma—terlihat gugup.
Kusma berbisik pelan.
“Tenang, Luna. Ingat… jangan panggil aku Master di sini.”
Luna mengangguk kecil.
“Baik… K-Kusma.”
🔥 Penilaian Guild
Rinne muncul dari belakang meja penerimaan.
“Kusma! Kau sudah bisa jalan? Oh… dan siapa gadis ini?”
“Namanya Luna,” jawab Kusma spontan.
“Dia… kerabat jauh.”
Luna membungkuk sopan.
“Senang berkenalan.”
Rinne menyipitkan mata.
Ia tidak curiga pada hal supernatural—tetapi wajah Luna terlalu cantik, terlalu bersih, dan terlalu… berbeda dari warga desa biasa.
Namun Rinne tidak menanyakan lebih jauh.
Ia punya kabar sendiri.
“Kusma… kau dipanggil oleh Kepala Guild.”
Kusma menelan ludah.
Ini bagian yang ia paling tidak suka: diperhatikan oleh otoritas.
Luna menatapnya cemas.
“Apakah itu berbahaya, K—Kusma?”
“Tidak. Guild hanya ingin laporan.”
Luna semakin menggenggam jubahnya.
Tampaknya ia tidak suka dipisahkan.
Rinne melirik Luna.
“Kau boleh menunggu di sini, Luna.”
“…Tidak.”
Luna memandang langsung ke mata Rinne.
“Aku harus bersama Kusma.”
Nada suaranya lembut, namun tegas.
Rinne sedikit tercengang—Luna memberi tekanan halus tanpa terlihat kasar.
Kusma menghela napas.
“Baiklah. Kita pergi bersama.”
✨ Ruang Kepala Guild
Di ruangan kayu besar itu, Kepala Guild Farglen, Borgas, menatap mereka dengan serius.
Tubuh besar, janggut tebal, mata tajam.
“Kusma. Laporan dari para petualang lain mengejutkan.”
Kusma bersiap dengan jawaban teraman.
“Lawan kami kuat, tetapi semua berkat kerja sama tim—”
“Tidak. Aku bukan membahas itu.”
Borgas mencondongkan tubuh.
“Aku ingin tahu bagaimana kau bertahan hidup melawan Goblin Commander.”
Ruangan hening.
Luna tegang.
Rinne juga tampak gelisah.
Kusma menahan napas.
Ia tidak boleh terlihat terlalu “tahu”.
“…Aku hanya… beruntung.
Dan Rinne membantu di waktu yang tepat.”
Borgas mengamati Kusma lama.
Lalu mendengus.
“Keberuntungan atau tidak, kau membuat kami punya bukti bahwa Goblin Commander benar-benar muncul.”
Ia menaruh sebuah parchment.
Laporan resmi.
Kusma membaca cepat.
—Goblin Commander terkonfirmasi.
—Perburuan besar akan dibuka.
—Hadiah akan disiapkan oleh Guild Pusat.
Borgas melanjutkan:
“Kemenanganmu… bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
Mulai hari ini, Kusma…”
Ketegangan memuncak.
“…kalian berdua naik peringkat ke Rank E.”
Rinne tersenyum.
Luna menunduk tanpa mengerti.
Kusma tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Namun Borgas belum selesai.
🔥 Kecurigaan Pertama
Kepala guild menatap Luna.
“Dan kau.
Siapa sebenarnya?”
Luna membeku.
Kusma langsung menjawab cepat.
“Dia… bukan petualang. Dia hanya keluarga.”
Borgas mengangguk pelan, namun matanya menajam.
“Apa kau punya dokumen identitas?”
Luna menatap Kusma.
Kusma hampir panik—Luna tidak punya identitas sama sekali.
Tapi sebelum ia menjawab—
“Aku menemukannya!”
Rinne berteriak dari pintu sambil mengangkat selembar kertas.
“Saya sudah bantu daftarkan Luna sebagai tamu desa Farglen.
Ini akta pendatang.
Jadi… dia aman.”
Luna mengangguk lembut.
“Terima kasih, Kak Rinne.”
Rinne memerah.
“Oh… ah… iya.”
Borgas mendengus.
“Baik. Pastikan gadis itu tidak membuat masalah.”
Mereka keluar dari ruangan.
Setelah pintu tertutup, Luna memandang Kusma dengan wajah bingung.
“Kusma… apa saya membuat keadaan sulit?”
Kusma mengacak rambut Luna pelan.
“Tidak. Kau hebat. Hanya… jangan terlalu menarik perhatian.”
Luna mengangguk… walau wajahnya tetap cerah bak cahaya bulan.
✨ Kedatangan yang Tidak Diinginkan
Saat mereka berjalan melewati lorong guild—
KRAK!
Pintu guild terbuka keras.
Seorang laki-laki muda masuk dengan langkah besar.
Armor perak ringan.
Jubah putih bersih.
Pedang panjang di punggung.
Wajah dingin tapi tampan.
Semua orang bergumam.
“Itu… Alan.”
“Petualang Rank B paling menjanjikan!”
Alan berjalan langsung ke meja guild.
Namun matanya sekilas melihat Kusma, Rinne… dan Luna.
Ia berhenti.
Menatap Luna lama.
“Gadis itu… siapa?”
Luna memegang lengan Kusma erat-erat, tanpa sadar.
Kusma menatap balik Alan.
“Temanku.”
Alan mendekat setapak.
Tatapan tajamnya seperti ingin menembus pikiran Kusma.
“…Dia bukan orang biasa.”
Kusma menegang.
Luna juga menahan napas.
Rinne melangkah maju.
“Dia hanya pendatang! Jangan kasar!”
Alan tidak mendengarkan.
Ia mendekat sedikit lagi, wajahnya kaku.
Dan berkata:
“Aku pernah melihat wajah seperti itu…
di catatan kuno.”
Kusma langsung memegang gagang pedang.
Rinne juga bersiap.
Luna menggenggam jubah Kusma lebih kuat.
Alan menatap mereka bergantian, lalu berbalik.
“…Hati-hati, bocah.”
Ia pergi tanpa menjelaskan lebih lanjut.
⚠️ Bahaya Baru
Ketika suasana mereda, Kusma tahu satu hal:
Alan akan menjadi masalah.
Ia mencurigai Luna.
Dan mungkin… juga Kusma.
Luna memegang tangannya.
“Master… apakah dia berbahaya?”
“Ya,” jawab Kusma pelan.
Rinne bertanya, “Apa yang akan kita lakukan?”
Kusma menghela napas.
“Kita harus meningkatkan kekuatan… lebih cepat.”
Ia menatap tangan Luna.
“Kita akan mulai latihan sihir.
Namun… di tempat yang tidak ada orang.”
Luna tersenyum cantik.
“Baik, Master.”
Dan di dalam guild yang ramai itu…
Kusma merasa sebuah bab baru dimulai—
lebih berbahaya, lebih kompleks, tetapi juga lebih… hidup.