Dunia Arnia Bab 9
Update

Dunia Arnia Bab 9

BAB 9 — Serangan Pertama, Insting Gamer yang Terbangun

Hutan barat berubah menjadi lautan bayangan hijau yang bergerak.
Dedaunan bergoyang liar, ranting patah, dan suara geraman menggema dari segala arah.

Rinne berdiri di depan Kusma, pedangnya terhunus dan kilau tajamnya memantulkan cahaya obor.

“Jaga jarak dua langkah di belakangku,” katanya.

Kusma mengangguk, namun kedua tangannya bergetar kecil.

Ini bukan game.
Mati berarti mati sungguhan.
Tidak ada respawn.

Tapi ia memaksa dirinya bernapas stabil.
Ia pernah melewati ratusan raid di game World Arnia—walau virtual, pola pikirnya masih ada.

Ia tahu apa yang harus diperhatikan: • suara langkah
• arah angin
• posisi goblin pemanah
• pergerakan goblin brute
• titik buta di pepohonan

Dan kemudian, itu terjadi.


🔥 Serangan Awal

CRAAASH!!

Tiga goblin melompat dari balik semak, mengayunkan belati berkarat.

Rinne langsung menabrak yang pertama—
SHING!
Pedangnya berputar cepat, menebas leher goblin itu sebersih kertas disobek.

Kusma menegang.
Rinne lebih kuat daripada dugaannya.

Goblin kedua menyelinap dari kiri, menusuk ke arah Kusma.

“—!!”

Kusma mengangkat pedang insting belaka.

CLANG!

Lengannya kebas.
Tubuhnya mundur setengah langkah.

Goblin itu terkikik, hendak menikam lagi.

Kusma menahan napas, lalu…

Ia melihatnya.
Gerakan goblin itu terlambat sepersekian detik.
Ia tahu ke mana serangannya.
Ia tahu celah di lengan kiri goblin.

Itu… seperti “insting gamer” yang muncul secara alami.

Kusma menurunkan posisi tubuh, lalu:

ZRAAAPP!

Ia menebas sisi pinggang goblin itu.
Goblin meronta, ambruk, dan darah hijau mengalir di akar-akar pohon.

Rinne menoleh cepat.

“Kusma! Kau—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, goblin ketiga muncul tepat di belakangnya.

“Rinne, bawah!”

Tanpa berpikir, Kusma meraih kerah Rinne dan menariknya turun.

WHUUSH!!

Belati goblin melintas di atas kepala mereka, mengenai udara kosong.

Rinne mendorong tubuhnya ke depan, menancapkan pedang ke dada goblin itu.

SHUK!

Monster itu jatuh.

Rinne bangkit, menatap Kusma dengan mata melebar.

“Jangan lakukan itu sembarangan,” katanya lirih.
“Tapi… terima kasih.”

Kusma tersenyum kecil.
“Teamwork itu penting, bukan?”

Rinne mendengus.


✨ SPM Pertama Malam Itu

Dari tubuh goblin yang mati, asap tipis kebiruan muncul.

Spirit Mon.

Kusma merasakan partikel itu masuk ke dalam dadanya—hangat, ringan, tetapi kuat.

**+ 7 SPM

  • 8 SPM
  • 6 SPM**

Total: 21 SPM hanya dari tiga goblin biasa.

Rinne melihat perubahan ekspresi Kusma.
“Rasanya aneh ya? Baru pertama kali mendapatkan energi monster?”

Kusma mengangguk cepat.
“Uh, iya… pertama kali.”

Ia tidak boleh terlihat terlalu tahu.


🔥 Masuk Lebih Dalam ke Hutan

Mereka bergerak bersama kelompok Raid lainnya.

Tapi semakin dalam mereka masuk, sesuatu terasa… salah.

Hutan terlalu sunyi.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada serangga.

Lalu Kusma melihatnya.

“Maju mundur tiga langkah!” teriaknya.

Semua petualang terkejut.

“Kenapa?”
“Ada apa, anak itu?”

Kusma menunjuk akar pohon yang retak.

“Itu jebakan goblin brute. Mereka suka menunggu di atas—”

GRUUUAAAARGHH!!!

Tiga goblin brute sebesar manusia dewasa melompat dari atas cabang, mengayunkan pentungan kayu.

Para petualang melompat mundur tepat waktu.

Rinne melirik Kusma heran.
“Kau tahu pola ini dari mana?”

Kusma cepat menutupi.

“Pelatihanku… guru lama mengajariku membaca tanda-tanda alam.”

Penjelasan samar.
Tapi cukup.

Rinne mengangguk kecil, menerimanya tanpa curiga.


⚔️ Pertarungan Melawan Goblin Brute

Rinne maju duluan.

DUUUM!!

Benturan pedangnya dengan pentungan goblin brute memekakkan telinga.

Kusma harus membantu.
Walau ia tak sekuat Rinne, ia tahu titik lemah goblin brute:

• hamstring belakang
• jantung besar sedikit ke kiri
• tengkuk
• tendon lutut

Ia berlari memutari flank.

Goblin brute kedua mencoba menyerangnya. Kusma melompat, menebas tendon kaki monster itu.

CRAK!

Goblin brute terjatuh, berteriak sambil memukul tanah.

“Rinne! Sekarang!”

Rinne mengerti.
Ia melakukan tebasan memutar—
SHIIING!
—kepala goblin brute itu terpisah.

Para petualang melihatnya dengan tak percaya.

“Apa itu tadi?!”
“Anak F-rank itu tahu titik lemah brute?”
“Tidak mungkin…”

Kusma berusaha terlihat gugup, memainkan pedangnya.

“Uh… hanya keberuntungan.”

Tentu saja tidak.
Itu pengalaman ratusan jam raid.

Tapi tidak boleh ada yang tahu.


✨ SPM Mengalir Masuk Lagi

Goblin brute memberi SPM lebih besar.

*+ 42 SPM

  • 37 SPM*

Total SPM malam ini: 100+

Kusma merasakan tubuhnya lebih hangat, lebih cepat merespon.

Tapi belum selesai…


🔥 Bayangan di Antara Pepohonan

Saat para petualang mulai mengatur napas, Kusma merasakan hawa dingin di belakang tengkuk.

Seolah… sesuatu mengawasinya.

Ia menatap ke arah gelap antara pepohonan.

Mata merah.
Tinggi dua kali manusia.
Kulit hijau gelap.
Armor kulit hitam.
Tanduk kecil.

Goblin Commander.
Ia muncul lebih cepat dari seharusnya.

Rinne mengikuti tatapannya, namun ia tidak melihat apa pun.

“Kusma? Ada apa?”

Kusma berpikir cepat.

Jika ia bilang Goblin Commander muncul, semua akan bertanya-tanya bagaimana ia tahu bentuknya.
Itu bisa memicu kecurigaan.

Ia menelan ludah.

“…Aku hanya merasa kita diawasi. Hati-hati.”

Rinne menatapnya lama, lalu mengangguk.

“Baik. Kita lanjutkan. Jangan terpisah dariku.”

Kusma menghela napas diam-diam.

Ia hampir terpancing bicara terlalu banyak.
Bahaya.

Goblin Commander itu memundurkan diri ke dalam kegelapan, tidak menyerang.

Namun Kusma tahu.

Musuh itu sedang menilai kekuatan mereka.
Dan itu berarti serangan besar belum dimulai.