- Update
Dunia Arnia Bab 15
BAB 15 — Petualang Baru, Party Baru, Langkah Pertama
Udara pagi di kota kecil itu terasa segar. Cahaya matahari menembus sela-sela gedung batu, sementara aktivitas petualang mulai tampak di sepanjang jalan. Rinne sudah bersiap dari subuh, memoles pedangnya. Luna berdiri di belakang Kusma, seperti biasa: tenang, anggun, dan memancarkan aura lembut.
Guild hari ini tampak lebih ramai dari biasanya—seolah menandai awal dari sesuatu yang besar.
Kusma melangkah masuk dengan Rinne dan Luna mengikuti di belakangnya.
Semua mata menoleh.
Bukan karena mereka bertiga terkenal.
Bukan juga karena prestasi tinggi.
Tapi karena… aura party mereka terasa aneh.
Luna terlalu cantik. Rinne terlalu disiplin. Kusma terlalu santai… namun penuh percaya diri.
Seperti petualang veteran yang turun rank secara sengaja.
1. Pembentukan Party Resmi
Meja pendaftaran guild dipenuhi kalimat gumaman.
“Apa itu petualang baru?”
“Mereka bertiga? Anak-anak begitu?”
“Yang mage itu… cantik banget, siapa ya?”
Kusma mengabaikannya. Ia hanya menatap resepsionis guild, Lira.
“Pendaftaran party baru, ya?”
Lira membuka kertas formulir.
Kusma mengangguk.
“Nama party?”
Kusma berpikir sebentar. Ia melihat Luna dan Rinne.
Rinne menunggu dengan tatapan bersemangat.
Luna menatapnya lembut seperti biasa.
Kusma menarik napas.
Nama ini akan menjadi identitas mereka ke depannya.
“Arclight,” katanya.
Cahaya dari busur, cahaya dari tebasan pedang—dan mungkin juga cahaya harapan di dunia gelap ini.
Lira tersenyum.
“Party Arclight. Bagus. Banyak party memakai nama yang terlalu berlebihan.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Ketua: Kusma
Anggota: Rinne, Luna.”
Ia memberi kartu party kecil dengan simbol guild.
“Mulai hari ini, kalian adalah party resmi rank F.”
Suaranya tenang, namun mengandung harapan.
2. Quest Pertama demi Reputasi
“Quest hari ini?” tanya Kusma.
Lira berhenti menulis sebentar.
“Hmmm…”
“Untuk rank F, kalian punya beberapa pilihan: slime hunt, pengumpulan herbal, atau pengawalan barang.”
Kusma langsung menolak.
“Tidak. Berikan quest yang sedikit lebih tinggi.”
“Eh?”
Lira menatapnya.
Rinne terdiam.
Luna hanya menatap Kusma sambil tersenyum kecil, seolah sudah memahami niat tuannya.
Kusma menjelaskan dengan santai.
“Kalau kami hanya memburu slime, kami tidak akan berkembang. Dan guild tidak akan melihat kami sebagai calon petualang berbakat.”
Lira terdiam.
Ia memperhatikan mata Kusma—tajam, penuh perhitungan.
Kemudian ia membalik beberapa lembar quest.
“Ada satu quest Rank E. Dangerous. Biasanya diberikan untuk mereka yang sudah punya pengalaman dasar.”
Kusma mengangguk.
“Cocok.”
Lira menutup map quest.
“Hutan Utara. Goblin Patrol.”
“Minimal dua goblin pack telah terdeteksi — kemungkinan 10–15 goblin.”
“Kalian yakin?”
“Yakin,” kata Kusma.
Rinne mengangguk tanpa ragu.
Luna hanya berkata pelan:
“Aku mengikuti keputusan Master.”
Beberapa petualang veteran yang mendengar itu mengernyit.
“Anak-anak itu gila.”
“Mau mati ya?”
“Goblin pack bukan main-main.”
Tapi Kusma dan kedua anggotanya tetap melangkah keluar tanpa menoleh.
3. Perjalanan Menuju Hutan Utara
Langit mendung. Angin dingin menyapa wajah mereka saat memasuki area hutan.
Rinne berjalan di depan sebagai tank.
Luna berada di tengah.
Kusma memegang posisi paling belakang, mengamati lingkungan dengan mata pengalaman seorang gamer top.
“Master, apa rencana kita?” tanya Luna.
“Rinne akan menjadi garis depan. Kau jangan menahan sihirmu. Lepaskan bila perlu.”
Luna tersenyum kecil.
“Aku mengerti, Master.”
Rinne menoleh. “Kalau ada banyak, apa kita bisa?”
“Kita bisa.”
Kusma yakin.
Karena ia tahu pola patrol goblin seperti ia tahu menu game favoritnya.
4. Serangan di Kegelapan — Goblin Pack Muncul
Suara ranting patah terdengar.
Kusma langsung berseru pelan:
“Formasi.”
Rinne mengangkat pedangnya.
Luna merapat sedikit ke Kusma.
Dari balik semak…
satu goblin muncul.
Tidak lama kemudian, dua.
Lalu lima.
Lalu delapan.
Satu pack lengkap.
Goblin dengan taring kecil, mata merah, dan tombak kasar.
“GUGYAAAAA!!”
Mereka menyerbu.
Rinne menahan tiga goblin sekaligus.
Dua dari kiri.
Tiga dari kanan.
Sisanya bergerak ke arah Kusma dan Luna.
“Luna.”
“Siap, Master.”
Tangan Luna mulai bersinar.
Tanpa ada yang menahan.
Tanpa ragu.
“Firebolt—Chain Reaction.”
TREEEEEK!!
Bola api kecil terlempar.
Saat mengenai goblin, bola itu tidak meledak kecil… tapi menyebar menjadi percikan api yang menyambar goblin lain di dekatnya.
TWAASH!!
Empat goblin langsung tumbang.
Rinne berteriak kagum. “I-Ini… luar biasa!”
Namun belum selesai.
“Masih ada dua!”
Rinne menahan satu, Kusma maju ke goblin terakhir.
Tusuk!
Kusma menusukkan belatinya ke titik lemah di bawah ketiak goblin—tepat seperti pola dalam game.
Goblin roboh.
Sunyi tiba-tiba menyelimuti hutan.
5. Peti Harta Karun Pertama
Saat goblin terakhir mati, cahaya biru muncul di tanah.
Rinne memekik kaget.
Luna tersenyum lembut.
Kusma menghela napas pelan.
“Peti drop,” katanya.
Peti besi kecil terbentuk.
Rinne mendekat.
“Peti dungeon di luar dungeon… ini sangat jarang. Bahkan goblin pack pun tidak selalu menjatuhkan peti!”
Kusma membuka peti itu.
Di dalamnya:
-
Short Sword Rank D – Feather Edge
(efek: +kecepatan serangan sedikit) -
Book Skill (Beginner Combat): “Quick Step Lv.1”
Rinne menutup mulutnya.
“Ini… ini item kelas party rank E–D… kita baru rank F! Bagaimana bisa—”
Kusma memegang pedang itu, melihat ke Rinne.
“Pedang ini cocok untukmu.”
“Eh? Untuk saya?!”
“Kau frontline. Kau butuh kecepatan.”
Rinne terdiam. Wajahnya memerah.
Ia menggenggam pedangnya erat.
“…Terima kasih, Kusma.”
Luna menatapnya sebentar… lalu tersenyum lembut, seolah bangga pada sang Master karena membangun party yang kuat.
Kusma menutup peti dan berdiri.
“Ini baru permulaan. Kita belum masuk dungeon sesungguhnya.”
Luna mendekat, memegang lengan Kusma.
“Aku siap selalu, Master.”
Rinne mengangguk kuat.
“Party Arclight… ayo naik rank!”
Kusma menatap ke dalam hutan yang makin gelap.
Petualangan baru telah dimulai.
Ini bukan game.
Ini dunia nyata.
Dan party Arclight… baru saja menemukan langkah pertamanya.