- Update
Dunia Arnia Bab 16
BAB 16 — Dungeon Pertama: Gerbang Kegelapan Hutan Utara
Sore mulai merayap turun ketika Kusma, Rinne, dan Luna tiba di sebuah bukit kecil di tengah Hutan Utara. Angin berhenti berhembus. Burung-burung lenyap. Udara terasa lebih berat… lebih pekat.
Rinne menelan ludah.
“Master… ini tempatnya, kan?”
Kusma menatap tanah yang retak, pepohonan menghitam, dan kabut yang mengalir keluar dari lubang besar di depan mereka.
Sebuah gerbang bawah tanah, ditutupi batu dan akar, dengan simbol-simbol kuno yang samar berkedip.
Dungeon.
Tapi bukan sembarang dungeon.
“Dungeon liar,” kata Kusma pelan. “Dungeon yang muncul tanpa pemberitahuan guild.”
Rinne pucat sejenak.
Luna justru tersenyum, seolah suasana gelap ini adalah rumah baginya.
“Kita masuk?” tanya Rinne, masih ragu.
Kusma mengangguk.
“Dungeon liar biasanya rank rendah jika muncul di dekat kota kecil… tapi tetap berbahaya. Jika kita menyelesaikannya, reputasi party kita akan naik dengan cepat.”
“Dan SPM?” Luna bertanya lembut.
“Dungeon boss biasanya menjatuhkan banyak SPM… dan mungkin peti besar.”
Luna tersenyum.
“Kalau begitu, ayo kita buka jalan menuju partner yang lain, Master.”
Rinne tampak bingung dengan kata “partner”, tapi ia tidak berani bertanya.
1. Memasuki Dungeon
Saat mereka melangkah masuk, suhu turun drastis.
Tzzzzk… tzzzzkk…
Dari dinding terdengar suara serangga. Cahaya biru redup menetes dari akar-akar yang bercahaya.
Kusma memberi instruksi.
“Rinne di depan. Luna tengah. Aku belakang.”
Rinne menarik napas dalam.
“Baik!”
Luna mengikuti dengan langkah ringan.
“Jarak tiga langkah, jangan terlalu dekat, jangan terlalu jauh,” lanjut Kusma. “Monster di dungeon biasanya memiliki pola serangan berdasarkan jarak.”
“Oh… jadi ini bagian dari pengetahuan Master saat masih… eh—”
Rinne hampir membuka rahasia yang tidak boleh diketahui.
Kusma cepat memotong.
“Fokus, Rinne.”
Rinne langsung diam dan mengangguk.
2. Monster Pertama — Bat Shadow
Tzreep!
Sesuatu melintas cepat di langit-langit dungeon.
Kusma langsung tahu.
“Rinne, perisai ke atas!”
“Siap!”
TANG!
Seekor kelelawar hitam besar dengan gigi panjang menghantam perisai Rinne.
“Bat Shadow,” gumam Kusma. “Geraknya cepat, tapi tubuhnya rapuh.”
“Tinggalkan padaku, Master.”
Luna mengangkat tangan.
Tanpa menahan.
Tanpa ragu.
Dengan kejelasan seorang mage SSR.
“Wind Cutter.”
WSSSHHH!
Udara tajam memotong Bat Shadow menjadi dua bagian.
Rinne berdecak kagum.
“Luna… kau luar biasa.”
Luna hanya tersenyum kecil.
“Terima kasih, Rinne.”
Kusma tetap waspada.
Bat Shadow biasanya muncul dalam—
“TIGA LAGI!” ia berteriak.
Tzreep!
Tzreep!
Tzreep!
Dari kiri, kanan, dan belakang.
Kusma menendang Rinne ke depan.
“Block kiri!”
Rinne memutar tubuh.
GRAANG!
Luna menembak “Wind Cutter” lagi.
Kusma menangkap kelelawar terakhir dengan belati.
Tiga detik.
Tiga kill.
Dungeon ini bukan level tinggi—tapi cukup untuk pemanasan.
3. Peti Kayu — Item Awal
Setelah tiga Bat Shadow mati, cahaya kecil muncul.
Peti kayu sederhana.
Rinne membuka dan menghela napas.
“Potion F… dan dua koin perak.”
Kusma mengangguk.
“Normal. Dungeon awal memang begini.”
Luna memandang ke dalam peti.
“Potion ini cukup untuk berjaga-jaga, ya Master?”
“Ya.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
4. Pertarungan Serius — Goblin Mage
Semakin dalam mereka masuk, semakin gelap dungeon itu.
Di sebuah ruangan lebar, Kusma berhenti.
“Rinne… bersiap.”
“Ada sesuatu?”
“Goblin Mage.”
Rinne kaget. “Goblin… punya mage?!”
Kusma mengangguk.
“Monster rank rendah kadang punya satu varian mage. Biasanya memimpin pack.”
Tepat saat itu…
CZZTZT…
Api kecil menyala di ujung ruangan.
Goblin kecil dengan tongkat patah berdiri, mata merah menyala, memamerkan gigi busuknya.
“GYAAAAA—!”
Itu tanda bahaya.
“Luna,” Kusma berkata pelan.
Luna tersenyum seolah inilah momen favoritnya.
“Aku siap, Master.”
Goblin Mage mengumpulkan api di tangannya.
“Fire—”
“Luna, tembak duluan.”
“Baik, Master.”
FWOOOSH!
“Firebolt.”
Bola api Luna melesat jauh lebih cepat dari cast Goblin Mage.
BAAANG!
Goblin itu terpental, tubuhnya hangus.
Monster lain di belakangnya mundur ketakutan.
Rinne melongo.
“Cara dia nembak Firebolt… lebih cepat dari mage biasa…”
Kusma tidak menjawab.
Tapi ia tahu:
Luna adalah SSR di dunia asalnya.
Kekuatan takdirnya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
5. Peti Perunggu — Drop Langka
Saat Goblin Mage mati, cahaya besar muncul.
Peti perunggu.
Rinne memekik pelan.
“Ini… drop besar, Kusma!”
Kusma membuka perlahan.
Di dalamnya:
• Book Skill — “Mana Pulse Lv.1”
Skill untuk merasakan aliran mana musuh dan mengurangi waktu casting.
• Staff Ringan Rank C — Whisper Branch
Efek: Memperkuat sihir angin + casting lebih stabil.
Luna terdiam.
“…Untukku, Master?”
“Tentu,” kata Kusma.
Luna memegang staff itu dengan kedua tangan, seolah memegang benda suci.
“…Terima kasih, Master. Aku… akan melindungi Master dengan kekuatan ini.”
Rinne tersenyum melihat kedekatan mereka.
6. Mendekati Ruang Boss
Langkah mereka semakin berat, bukan karena lelah, tapi karena tekanan mana semakin kuat.
“Master…” Luna berbisik. “Aku merasakan… monster kuat di depan.”
Kusma mengangguk.
“Dungeon liar biasanya punya boss rank E… atau D rendah.”
Rinne menelan ludah.
“Kalau rank D… apa kita bisa?”
Kusma tersenyum tipis.
“Kita bisa.”
Ia menatap kedua anggotanya.
“Kalian sudah siap?”
Rinne mengangkat pedang baru miliknya.
“Siap!”
Luna memegang staff.
“Selalu siap bersama Master.”
Kusma membuka pintu tua besar itu.
GRAAAAK…
Udara panas keluar.
Suara berat terdengar dari dalam.
Boss sudah menunggu mereka.
Ini bukan game.
Ini nyata.
Dan party Arclight… akan menguji kekuatan pertamanya.