- Update
Dunia Arnia Bab 18
BAB 18 — Skill Baru Luna & Persiapan Meninggalkan Kota Kecil
Angin sore menyapu lembut saat mereka bertiga keluar dari mulut dungeon. Matahari sudah rendah, menyisakan warna jingga yang membelah langit. Rinne menggendong loot, sementara Luna membawa buku skill baru yang berdenyut samar dengan aura merah.
Kusma berjalan paling depan.
Ia sudah memikirkan langkah selanjutnya.
Dungeon ini terlalu kecil.
Kota ini terlalu sempit.
Sudah saatnya mereka pergi.
Namun sebelum itu…
Ada sesuatu yang harus diselesaikan dulu.
1. Skill Baru Luna — 'Flame Burst'
Mereka berhenti di tepi hutan, sebelum kembali ke kota. Tempat ini cukup sepi dan aman untuk latihan.
“Luna,” panggil Kusma pelan.
Gadis itu menatapnya dengan mata jernih penuh antisipasi.
“Ya, Master?”
“Kau sudah memegang Book Skill. Kau tahu apa yang harus dilakukan?”
Luna mengangguk, membuka bukunya perlahan.
Rune merah menyala dari halaman kertas.
Rinne memperhatikan dari samping.
“Setiap kali aku lihat, buku skill itu selalu terasa… menakutkan.”
“Itu karena isinya bukan ilmu biasa,” kata Kusma. “Ini sihir tingkat tinggi.”
Luna memejamkan mata. Aura merah mengalir dari buku ke tubuhnya, meresap masuk ke nadi, ke dalam inti mana-nya.
WHUUSHH—
Angin panas bergerak di sekitar mereka.
Rinne mundur beberapa langkah.
“Uh… Master? Dia tidak apa-apa kan…?”
Kusma tersenyum tipis.
“Dia baik-baik saja. Ini cara dia berkembang.”
Luna membuka mata.
Mata birunya kini bercampur kilatan merah.
“Master… aku merasa… lebih panas… lebih kuat.”
“Coba keluarkan sedikit,” kata Kusma.
Luna mengangkat staff.
Mana merah berkumpul di ujungnya.
Namun ini bukan bola api kecil.
Bukan bolt normal.
Ini api yang menekan udara di sekitar.
“Flame Burst.”
BOOOOOSH!!
Ledakan api memancar dalam bentuk lingkaran melebar.
Pohon-pohon terdekat bergoyang.
Tanah terbelah hangus.
Rinne terdiam, mulut terbuka lebar.
“L-Luna… itu bukan sihir pemula lagi… bagaimana—”
Kusma menepuk kepala Luna perlahan.
“Bagus. Kau sudah menguasainya.”
Luna memerah sedikit karena senang dipuji.
“Aku akan terus menjadi lebih kuat… agar Master tidak perlu bertarung sendirian.”
Luna bukan manusia biasa.
Sekali belajar, skill langsung menempel sempurna.
Dan Kusma tahu—Luna belum menunjukkan 10% potensi aslinya.
2. SPM dan Slot Partner Kedua
Mereka menghitung Spirit Mon yang didapat:
• Dari dungeon: 210
• Dari monster sebelum boss: 74
• Total SPM: 284
Mereka butuh 1000 untuk membuka 1 slot partner.
Rinne menyilangkan tangan.
“Itu artinya… masih jauh ya?”
Kusma mengangguk.
“Ya. Tapi dungeon rank D di kota berikutnya memiliki Boss sub-ruang. Drop SPM bisa dua kali lipat.”
Luna menatap Kusma pelan.
“Master… ketika slot itu terbuka, siapa yang akan Master panggil?”
Kusma tidak menjawab langsung.
Namun ia tahu jawabannya.
Neira — Tank Legendaris.
Jika Luna sudah bangkit, Neira akan melengkapi front line.
Tapi itu untuk nanti.
3. Ke Guild: Status Rank Naik
Ketika mereka masuk ke guild, semua orang menatap mereka.
Petualang lain bergumam pelan.
“Itu mereka… anak-anak yang masuk dungeon liar…”
“Mereka kembali hidup?”
“Tidak mungkin… itu dungeon rank D…”
“Yang mage itu siapa? Cantik sekali…”
Rinne berjalan dengan kepala tegak, bangga luar biasa.
Luna diam, berjalan di samping Kusma seperti bayangan lembut yang selalu siap melindunginya.
Receptionist, Lira, langsung berdiri.
“Kusma! Rinne! Kalian… benar-benar kembali?”
“Kami berhasil menaklukkan dungeonnya,” jawab Kusma.
Lira mengambil laporan mereka.
“Untuk keberhasilan membersihkan dungeon liar rank D… Guild secara resmi menaikkan rank kalian.”
PARTY ARCLIGHT → RANK E
Rinne hampir memekik gembira.
“Master! Kita naik satu rank!”
Luna tersenyum manis ke Kusma.
“Selangkah lebih dekat menuju tujuan Master.”
Kusma mengangguk.
“Ini hanya awal.”
4. Keputusan Besar — Meninggalkan Kota Ini
Saat mereka berjalan pulang, Kusma menghentikan langkah.
Rinne dan Luna berhenti ikut.
“Kita akan pindah kota,” kata Kusma.
Rinne mengangkat alis.
“Secepat itu?”
“Ya. Kota kecil ini tidak punya dungeon yang cukup sulit. Tidak ada misi besar. Tidak ada peluang SPM besar.”
Luna mengangguk lembut.
“Master ingin berkembang lebih cepat… itu langkah yang benar.”
Rinne menggigit bibir bawahnya.
“Kita tidak akan kembali lagi?”
Kusma menggeleng.
“Kita sudah mengambil semua yang bisa kita dapat dari sini.”
Luna berdiri di sampingnya, menatap ke horizon.
“Dunia di luar sana luas, Master. Akan banyak dungeon, pertarungan… dan peluang untuk membuka partner lain.”
Mata Kusma memandang jauh.
Benar.
Dunia ini lebih besar dari game yang pernah ia kuasai.
Dan sekarang, dengan Luna yang semakin kuat, Rinne yang terus berkembang, serta slot partner yang menunggu dibuka…
Perjalanan besar mereka baru akan dimulai.