dunia Arnia Bab 19
Update

dunia Arnia Bab 19

BAB 19 — Keputusan Rinne & Perjalanan yang Baru

Pagi hari di kota kecil itu selalu dingin, tetapi suasana hari ini terasa berbeda. Ada rasa yang menggantung di udara—seperti awal sesuatu yang besar. Kusma, Luna, dan Rinne berkumpul di depan gerbang kota. Tas-tas sudah dipenuhi potion, makanan, dan peralatan dasar.

Kusma memasang tali pedangnya, memastikan semuanya siap.
Luna berdiri dekat—sangat dekat—hingga hampir menyentuh lengannya.
Rinne berdiri sedikit di belakang, ragu-ragu.

Hari ini adalah hari mereka pergi… dan Rinne harus memutuskan.


1. Rinne Mengambil Langkah Pertamanya

“K-Kalian beneran pergi dari kota ini…?” tanya Rinne pelan.

Kusma menatapnya tenang.
“Ya. Dungeon di kota kecil ini tidak cukup untuk membuat kita berkembang.”

Luna menatap Rinne dengan mata jernih.
“Master harus menjadi lebih kuat. Aku juga harus berkembang. Dan kota ini tidak memberi apa-apa lagi.”

Rinne memeluk kedua lengannya sendiri.
Ia tahu itu.

Selama bertahun-tahun, ia tinggal di kota ini tanpa arah.
Menjadi petualang kecil yang hanya melakukan misi F dan E.

Kusma datang…
dan dunia Rinne berubah.

Ia menggigit bibir.

“Aku… boleh ikut?”
Suaranya sedikit bergetar.

Kusma menatapnya seperti memastikan.
“Jika kau ikut, perjalanan kita tidak akan mudah. Mungkin berbahaya. Mungkin melelahkan. Tidak ada jaminan kita selalu menang.”

Rinne mengepalkan tangan.
“Aku… ingin berkembang. Aku ingin melihat dunia lebih luas. Aku ingin jadi lebih kuat. Dan… aku ingin bersama kalian.”

Ada jeda kecil.

Kusma lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, mulai hari ini, kau ikut kami.”

Luna mendekat sedikit ke Kusma—tidak suka jika ada yang merebut “posisinya”, tapi ia tetap tersenyum lembut ke Rinne.

“Selamat bergabung, Rinne. Aku senang kau memilih ikut Master.”

Rinne memerah sedikit.
“Th-terima kasih… Luna…”


2. Sedikit Demi Sedikit, Kebenaran Tentang SPM

Saat berjalan meninggalkan kota, Rinne akhirnya bertanya.

“Kusma… aku penasaran. Kenapa kau sangat fokus mengumpulkan Spirit Mon itu?”

Kusma tidak langsung menjawab.
Ia menatap jalan tanah berdebu di depan, sembari berpikir.

Luna menoleh ke Kusma seolah meminta izin.

Kusma akhirnya berkata pelan:

“SPM… itu seperti energi khusus. Sangat penting bagiku. Semakin banyak aku kumpulkan, semakin besar kekuatanku.”

Rinne mengernyit.
“Itu… seperti sumber mana khusus?”

Luna menjawab lembut.
“Bukan begitu. Spirit Mon adalah energi unik yang bisa membuka… sesuatu yang Master butuhkan.”

“…sesuatu?” Rinne bingung.

Kusma mengangguk.
“Aku belum bisa menjelaskan semuanya. Tapi percayalah, mengumpulkan SPM adalah bagian dari jalan yang harus kutempuh.”

Rinne diam sebentar… kemudian tersenyum.

“Kalau begitu… aku akan bantu kau. Aku ingin melihat bagaimana ‘sesuatu’ itu.”

Luna tersenyum lembut.
Ia tampak lega Rinne menerima tanpa curiga.


3. Luna Semakin Dekat, Semakin “Clingy”

Saat mereka berjalan lebih jauh dari kota, hutan mulai terlihat.
Luna tiba-tiba meraih ujung pakaian Kusma, memegangnya lembut.

“Master… jangan berjalan terlalu cepat.”

Kusma menatapnya.
“Aku tidak cepat, Luna. Kau saja yang terlalu dekat.”

Luna hanya tersenyum kecil.
“Aku merasa tenang kalau dekat Master.”

Rinne menatap adegan itu dengan pipi menggelembung.

Ugh… mereka kok makin mesra sih…?
Tapi ia tidak berani protes.

Saat kusma memegang peta, Luna hampir menempel di sisi kirinya.
Ketika mereka berhenti minum, Luna menarik tangan Kusma untuk duduk lebih dekat.

Kusma tidak memarahinya.

Rinne: Kenapa aku merasa jadi orang ketiga?

Tapi ia tersenyum.
Suasana itu membuatnya merasa… seperti bagian dari keluarga baru.


4. Guild Kota Kecil — Pengakuan Terakhir

Saat mereka berjalan semakin jauh, suara kerumunan terdengar dari belakang.

“Kusma! Rinne! Tunggu!”

Itu Lira, receptionist guild. Ia berlari sambil membawa secarik kertas.

“Kau lupa ini! Sertifikat Rank E kalian!”

Kusma menerimanya.
“Terima kasih.”

Lira menatap mereka satu per satu… matanya terlihat sedih.

“Kalian yakin ingin pergi? Kalian bisa jadi pahlawan kota ini…”

Kusma menggeleng.
“Tujuan kami di luar kota ini.”

Luna menunduk sopan.
“Terima kasih untuk bantuannya, Nona Lira.”

Rinne tersenyum lembut.
“Kami akan kembali suatu saat… mungkin. Tapi untuk sekarang, kami harus pergi.”

Lira akhirnya mengangguk.

“Kalau begitu… selamat jalan. Dan… jaga Luna baik-baik. Dia sangat… berbeda.”

Ucapan itu membuat Luna menegang sejenak.

Kusma langsung menempatkan dirinya sedikit di depan Luna, melindunginya.

“Kami akan baik-baik saja.”

Lira mengangguk, tersenyum, lalu kembali ke kota.


5. Petualangan Besar Dimulai

Setelah berjalan beberapa jam, hanya hutan luas dan jalan tanah yang tersisa.

Tidak ada lagi rumah.
Tidak ada lagi kerumunan.
Hanya mereka bertiga.

Kusma membuka peta.

“Kita menuju Kota Riverstone, tiga hari perjalanan dari sini. Ada dungeon Rank D dan C. Lebih baik dari sini.”

Rinne mengangguk semangat.
“Baik! Ayo kita mulai petualangan baru!”

Luna mendekat ke Kusma, memegang lengannya.

“Master… apapun yang terjadi… aku akan selalu berada di sisimu.”

Kusma menatap keduanya.

Rinne penuh semangat.
Luna penuh kasih dan ketergantungan.
Dan ia… berada di tengah-tengah jalan menuju takdir barunya.

Ia menarik napas dalam.

“Baik. Petualangan kita dimulai sekarang.”

Mereka bertiga melangkah maju—

menuju dunia yang luas, penuh monster, dungeon, harta karun, dan rahasia…

…serta 5716 SPM lagi yang harus dikumpulkan.