- Update
Dunia Arnia Bab 20
BAB 20 — Hutan Utara & Serangan Tak Terduga
Perjalanan menuju Kota Riverstone dimulai dengan relatif tenang. Udara pagi segar, burung-burung kecil terbang rendah, dan sinar matahari menembus celah pepohonan besar.
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung sebentar.
Hutan Utara tidak terkenal sebagai jalur aman.
Dan Kusma tahu itu lebih baik dibanding siapa pun.
1. Jalur Berbahaya Menuju Riverstone
“Kita butuh tiga hari perjalanan,” ujar Kusma sambil membaca peta lusuh.
Rinne berjalan di sampingnya, menggendong tas besar.
“Kita bisa melewati jalur timur yang lebih aman, tapi… katanya memakan waktu lima hari.”
Kusma menggeleng lembut.
“Tidak. Kita ambil jalur hutan. Lebih cepat, lebih banyak monster, lebih banyak SPM.”
Luna yang sejak tadi memegang lengan Kusma langsung mengangguk.
“Keputusan Master selalu benar.”
Rinne menghela napas.
“Aku harus membiasakan diri kalau kalian selalu memilih opsi paling berbahaya…”
Kusma tersenyum tipis.
“Itu cara paling cepat menjadi kuat.”
2. Serangan dari Balik Pepohonan
Saat mereka melewati semak lebat—
CRAAAK!
Rinne refleks menghunus pedangnya.
“Gerakan! Dari kiri!”
Luna berdiri dekat Kusma, aura mana mulai mengalir di tubuhnya.
Tiga sosok melompat keluar dari balik pepohonan.
Forest Gnoll — Rank E+
Manusia setengah serigala, tinggi dua meter, membawa tombak kayu tajam.
Kusma langsung menganalisis.
Tiga lawan. Dua membawa tombak. Satu mage tribal. Urutan serangan harus tepat.
“Rinne, ambil yang depan! Luna, support cepat!”
Rinne menerjang lebih dulu.
“Serahkan padaku!”
Gnoll depan menangkis pedangnya, tapi Rinne menahan tekanan itu.
Di matanya tidak ada ketakutan—hanya tekad untuk membuktikan bahwa ia bukan beban.
Luna mengangkat tangan, sedikit menjauh agar bisa melihat medan.
“Master… izinkan?”
Kusma mengangguk.
“Jangan tahan. Lepas saja.”
Luna tersenyum pelan.
“S-Shadow Bolts.”
WHIP! WHIP! WHIP!
Tiga peluru bayangan meluncur cepat, mengenai kedua Gnoll di belakang.
Salah satu langsung tumbang, yang satu lagi terhuyung mundur.
Rinne menoleh sekilas.
“Luna, itu terlalu kuat—!”
“Tidak apa-apa,” ujar Kusma. “Dia bahkan belum serius.”
Rinne: “…”
3. Mage Gnoll — Ancaman yang Diabaikan
Gnoll terakhir, yang memegang tongkat kayu totem, mulai merapal mantra.
“GRAAA—KRAAA—!!”
Kusma langsung tahu bahaya itu.
Mana burst kecil tapi fokus… itu sihir pengikat.
“Luna!”
Luna sudah bergerak lebih dulu tanpa menunggu perintah.
Ia melangkah maju, wajah tetap tenang.
Api mengalir di tangannya.
“Flame Burst — Variant Narrow Shot.”
BOOOM!!
Semburan api terkonsentrasi menembak lurus seperti meriam kecil.
Mage Gnoll itu tidak sempat menghindar.
Terlontar ke belakang, terbakar, lalu jatuh tak bergerak.
Rinne menegang kaget.
“L-Luna… itu terlalu berlebihan…”
Luna menoleh ke Kusma, sedikit bangga.
“Master… apakah sudah sesuai?”
Kusma mengusap kepalanya lembut.
“Iya. Kerja bagus.”
Luna tersenyum manis, memejam menikmati sentuhan itu.
Rinne: Aku resmi jadi penonton kekuatan pasangan mesra ini…
4. Hasil Pertarungan & SPM
Kusma memeriksa tubuh monster.
“Forest Gnoll… Rinne, kau tahu SPM mereka?”
“Rank E+… rata-rata 10–20 SPM.”
Kusma mengumpulkan fragmen energi yang terlihat seperti serpihan cahaya kehijauan.
Hasil:
- Gnoll 1: 15 SPM
- Gnoll 2: 18 SPM
- Gnoll Mage: 22 SPM
Total: 55 SPM
Luna tampak senang.
“Master… itu banyak.”
“Tiga hari perjalanan akan memberi kita banyak lebih lagi,” jawab Kusma.
Rinne menatap Kusma dan Luna yang berdiri sangat dekat.
“Kusma… Luna… kalian berdua terlihat semakin… ehm… kompak ya?”
Luna meraih lengan Kusma lebih erat.
“Kami selalu dekat.”
Kusma hanya menghela napas pelan, membiarkan Luna memeluk lengannya saat berjalan lagi.
Rinne menggumam kecil.
“Aku… bagian dari party kan? Bukan chaperone hubungan kalian kan…?”
“Tenang,” kata Kusma. “Kau bagian penting party.”
Luna menatap Rinne, senyum lembut.
“Ya. Kau anggota berharga, Rinne.”
Rinne mengangguk.
“…Terima kasih. Tapi tolong jangan terlalu nempel di depan aku.”
Luna pura-pura tidak dengar.
Justru semakin mendekat ke Kusma.
5. Jejak Penyergapan — Ada Sesuatu Mengikuti
Petualangan kembali dilanjutkan.
Namun setelah beberapa waktu, Kusma berhenti mendadak.
Rinne hampir menabrak punggungnya.
“H-hey! Kenapa berhenti?”
Kusma menunduk melihat tanah.
Bekas kaki besar.
Empat jari.
Tekanan kuat, dalam.
Bukan milik Gnoll.
Luna berdiri dekat Kusma, memegang lengannya.
“Master… apa itu?”
Kusma mengusap tanah dengan jari.
“…Ini jejak monster besar. Dan masih baru.”
Rinne meraih pedangnya.
“Jenis apa?”
Kusma menghela napas.
Jika ingatannya dari game benar…
“…Ogre Hutan. Rank C.”
Rinne menelan ludah.
“C…?! Kita baru naik Rank E!”
Luna tersenyum tipis.
“Kalau Master memutuskan bertarung… aku akan membakar apa saja.”
Kusma berdiri.
Matanya tajam.
“Kalau ini Ogre yang aku pikir… kemungkinan ada peti harta di dekatnya.”
Rinne kaget.
“Peti harta?! Kau ingin—”
“Ya.” Kusma menatap lurus ke depan.
“Kalau ingin cepat berkembang… ini kesempatan besar.”
Luna memegang tangan Kusma.
“Aku bersama Master. Selalu.”
Dengan langkah mantap, Kusma memimpin party menuju sumber jejak itu—
menuju pertarungan pertama mereka melawan Monster Rank C
dan kemungkinan besar drop peti berisi book skill atau equipment langka.