Dunia Arnia Bab 21
Update

Dunia Arnia Bab 21

BAB 21 — Ogre Hutan & Peti Misterius

Jejak Ogre itu semakin jelas. Tanah terinjak dalam, pohon roboh terbelah dua, dan bau darah samar memenuhi udara. Kusma berjalan di depan dengan tenang, meski Rinne dan Luna bisa merasakan ketegangannya.

Ini bukan monster kecil.

Ogre Hutan bukan lawan Rank E.

Tapi juga… di game, Ogre jenis ini selalu menjaga Peti Perunggu atau Perak.

Bisa berisi:

  • Book Skill Tier 2, atau
  • Equipment Rare, atau
  • Skill Combat untuk Rinne.

Kusma tidak ingin melewatkannya.


1. Bersiap Hadapi Rank C

Rinne berbisik pelan.

“K-Kusma… kita yakin mau lawan itu? Kita baru naik Rank E…”

“Benar,” kata Kusma, tanpa berhenti berjalan. “Tapi kita bukan petualang E biasa.”

Luna memegang lengan Kusma lagi, jaraknya sangat dekat.

“Master sudah punya rencana.”

Rinne gemetar sedikit.
“Tentu… aku percaya… tapi…”

Kusma berhenti dan menatap keduanya.

“Rinne, kau pertahankan sisi kiri. Tameng bukan keahlianmu, tapi kau cepat. Fokus menghindar, bukan menahan.”

“Baik!”

“Luna,” lanjutnya, menatap mata gadis itu.

Luna hampir memerah karena intensitas tatapan itu.
“Ya, Master…”

“Nanti kalau aku bilang ‘lepas’, kau keluarkan Flame Burst tanpa menahan mana.”

Luna tersenyum manis.
“As you wish, Master.”

Rinne menelan ludah.
Oke… mereka makin mesra. Fokus Rinne… fokus…


2. Ogre Hutan Muncul

Mereka tiba di sebuah clearing luas.

Di tengahnya—

Sosok raksasa berdiri setinggi 3 meter, kulit hijau gelap, otot menggelembung seperti batu, memegang batang pohon sebagai senjata.

Dan di belakangnya…

Sebuah Peti Perunggu.

Kusma menarik napas panjang.

Peti Perunggu… kemungkinan besar Book Skill atau pedang Rare…

Ogre itu mengendus udara, lalu menatap mereka.

“GRUUUAAAAAAHHH!!”

Tanah bergetar saat raksasa itu berlari.

Rinne mundur dua langkah.
“I-itu gila!!”

Luna justru tenang.

“Master.”

“Ya.”

“Boleh kupanaskan dulu?”

Kusma tersenyum kecil.
“Tahan sedikit.”


3. Pertarungan Dimulai

Ogre mengayunkan batang pohon besarnya seperti memukul nyamuk.

SWOOOSH—

Rinne melompat ke samping.
Debu meledak di tempat ia berdiri tadi.

“Gila… kekuatannya beda kelas!”

Kusma bergerak cepat ke belakang Ogre, mencari titik buta.

“Tunggu aba-aba!”

Ogre memutar tubuhnya, mencoba menghantam Kusma.
Tapi Kusma sudah membaca polanya—
gerakan Ogre di game dan dunia ini ternyata mirip.

THUUUMP!

Batang pohon menghantam tanah, menciptakan kawah kecil.

Luna melihat kesempatan itu.
“Master… sekarang?”

“Belum.”

Ogre menarik napas panjang—
tanda ia akan melakukan Charge.

Kusma berteriak:

“Luna! Lepas!!”


4. Luna Mengamuk

Luna melangkah maju satu langkah.
Api merah pekat muncul di tangan kirinya.

Aura panas menyebar seperti gelombang.

Mata Luna bersinar merah—

“FLAME BURST!!”

BOOOOOOOOMMMMM!!

Semburan api besar menghantam dada Ogre seperti meriam sihir.

Rinne menutup wajah dari angin panasnya.
“Itu… lebih besar dari sebelumnya!!”

Ogre terdorong mundur beberapa meter, tubuhnya terbakar.

Tapi monster Rank C tidak mati begitu saja.

Ia mengamuk.

“GRROOOAAAAHHHH!!”

Tubuhnya membara tapi bergerak liar.

Kusma sudah siap.

“Rinne! Sekarang!!”

Rinne menerjang dari sisi kiri.

“Aaaahhh!!”

Ia menebas betis Ogre—
bukan untuk melukai, tapi untuk membuat Ogre berlutut.

Dan itu berhasil.

Ogre kehilangan keseimbangan, jatuh satu lutut.

Luna melihat Kusma mengangkat tangan sebagai tanda.

Ia tahu apa artinya.

“Mana—
Flare—
Shot.”

BANG!!

Ledakan kecil tapi tajam menghantam kepala Ogre.

Tubuh raksasa itu akhirnya tumbang.

Menggetarkan tanah.


5. Kemenangan Party Arclight

Rinne terengah-engah, tubuhnya gemetar.

“G-gila… kita beneran… mengalahkan Rank C…”

Luna langsung memegang lengan Kusma erat.

“Master… apakah aku berlebihan?”

Kusma mengusap kepalanya pelan.

“Tidak. Kamu sempurna.”

Luna tersenyum hangat.
Begitu dekat hingga Rinne memalingkan wajah karena canggung.

Ugh… mereka lagi…


6. SPM & PETI PERUNGGU

Kusma mengambil Spirit Mon dari tubuh Ogre.

SPM Ogre Hutan (Rank C): 120 SPM

Rinne kagum.
“Banyak banget!”

“Ini baru awal,” jawab Kusma.

Luna menatap peti dengan mata berbinar.
“Master… boleh kubuka?”

“Buka saja.”

Luna mendekati peti, menaruh tangan di atasnya.
Rune di peti menyala.

CLACK—KRAKK—

Peti terbuka.

Kilauan cahaya keemasan muncul.

Rinne menahan napas.
“W-wow… apa itu…?”

Kusma melihat isi peti dan matanya membesar sedikit.

Karena di dalamnya terdapat:

  • Book Skill: “Mana Edge — Tier 2 Combat”
  • Pedang Ringan Rare: ‘Windcutter’
  • Potion Kualitas B (Healing dan Mana)

Rinne menatap Kusma.
“Itu… untuk siapa?”

Kusma memegang pedang Windcutter.

“Ikutlah kami, dan jadi lebih kuat. Pedang ini milikmu.”

Rinne terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.

“A-aku… beneran… ini untukku…?”

Luna tersenyum lembut.
“Kau anggota party kami. Kau berhak.”

Kusma menepuk bahunya.

“Kau butuh senjata yang sesuai levelmu. Ini awal dari kekuatanmu.”

Rinne menggenggam pedang itu dengan kedua tangan.

“…Terima kasih…
Aku akan semakin kuat. Demi kita bertiga.”

Luna memeluk lengan Kusma lagi.

“Master… kita dapat banyak hari ini.”

Kusma mengangguk.

“Ya. Kita lanjut setelah istirahat.”

Mereka duduk bersama, makan, minum, dan menikmati kemenangan kecil yang terasa begitu besar.

Karena ini baru awal.