Dunia Arnia Bab 22
Update

Dunia Arnia Bab 22

BAB 22 — Rasa Baru dalam Party Arclight

Perjalanan mereka di dalam hutan semakin dalam. Udara dipenuhi aroma lumut basah dan dedaunan lembap. Setelah mengalahkan Ogre, ketiganya mengambil waktu untuk istirahat di sebuah area aman—sebuah ceruk batu yang cukup luas dan tertutup pepohonan tinggi.

Rinne masih memegang pedang Windcutter seperti sebuah harta tak ternilai.

“Pedangnya… terasa ringan,” katanya sambil mengayun perlahan. “Seperti bisa menembus angin.”

“Itu memang pedang Rare,” jawab Kusma. “Senjata yang cocok dengan kecepatanmu.”

Rinne mengangguk, wajahnya berseri-seri—sesuatu yang jarang ia tunjukkan.
Ia benar-benar terlihat seperti seorang petualang yang mendapatkan masa depan baru.

Sementara itu, Luna duduk di samping Kusma, sangat dekat seperti biasanya.
Kakinya hampir menempel pada kaki Kusma, dan setiap kali Kusma bergerak sedikit saja, Luna ikut menyesuaikan posisi seolah ingin tetap berada dalam jarak aman.

Rinne yang kebetulan melihat itu menjadi kikuk.

S-semakin clingy… aku harus terbiasa…


1. Memberi Petunjuk Pertama Tentang SPM

Setelah mereka makan sedikit, Rinne menatap bola kecil bercahaya di tangan Kusma.

“Um… Kusma. Aku boleh bertanya?”

“Mengenai apa?”

“Itu… cahaya itu. Yang keluar dari Ogre. Kalian berdua terlihat begitu yakin tentang pentingnya benda itu.”

Luna menatap Kusma.
Seolah berkata: “Apa kita mulai membocorkannya?”

Kusma mengangguk pelan.

“Baik. Rinne, dengarkan.”

Rinne menegakkan tubuhnya, bersiap menerima informasi penting.

“Ini disebut Spirit Mon.”

“Spirit… Mon?”

“Ya. Sederhananya, itu fragmen energi kehidupan monster yang terbentuk ketika mereka mati. Tidak semua orang bisa memanfaatkannya, tapi…”

Kusma menatap Rinne lebih serius.

“Aku membutuhkannya untuk tujuan yang sangat penting.”

Rinne menelan ludah.
“Tujuan apa…?”

Luna menjawab lembut, dengan suara penuh keyakinan:

“Untuk membangkitkan kekuatan Master.”

Kusma tidak mengoreksi Luna meski kalimatnya agak berlebihan.
Rinne justru terdiam karena penasaran.

“Tapi… bagaimana caranya?”

“Untuk sekarang,” lanjut Kusma, “yang perlu kau tahu adalah bahwa semakin kuat monster yang kita kalahkan, semakin banyak Spirit Mon yang kuterima… dan semakin dekat aku pada tujuanku.”

Rinne mengangguk.
Ia memahami bahwa ini bukan hal yang boleh diungkap pada orang luar.

“Baik. Aku… tidak akan tanya lebih jauh. Tapi… aku akan membantu semampuku.”

Kusma tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Luna menatap Rinne sambil tersenyum juga, tapi—secara halus—masih memperlihatkan sikap posesif terhadap Kusma.


2. Mendekatkan Hubungan Party

Saat mereka beristirahat, Luna mengeluarkan sedikit sihir api di tangan untuk menghangatkan area.

“Master, dingin sekali. Duduk lebih dekat.”

“Aku sudah dekat.”

“Lebih dekat lagi.”

Kusma menghela napas ringan.
Luna jelas tidak berniat menahan clingy-nya sama sekali.

Rinne membalik badan agar tidak terlalu melihat kemesraan keduanya.

S-selesaikan dulu mentalmu, Rinne… fokus pada petualangannya!

Namun Luna tiba-tiba memanggilnya.

“Rinne, sini. Dekat dengan api.”

Rinne terloncat.
“H-ha? E-eh… iya, iya!”

Ia duduk sedikit lebih dekat.
Luna mengatur suhu api agar cukup hangat untuk mereka bertiga.

Dalam cahaya api kecil itu, mereka terlihat seperti party baru yang harmonis—
dengan dinamika unik:

  • Kusma: pemimpin yang tenang
  • Luna: clingy, kuat, dan protektif
  • Rinne: realistis, cepat belajar, dan sedikit mudah gugup

Sebuah formasi yang aneh…
Tapi bekerja dengan sangat baik.


3. Target Berikutnya: Hati Hutan Dalam

Setelah cukup istirahat, Kusma berdiri.

“Kita lanjut.”

Rinne segera bersiap. “Tujuan selanjutnya?”

“Hutan bagian dalam,” jawab Kusma. “Di game, bagian itu punya monster lebih kuat… tapi juga drop rate peti lebih tinggi.”

Rinne mengangguk mantap.
“Aku siap.”

Luna berdiri tepat di sisi Kusma, memegang ujung jubahnya seperti biasa.

“Master, apa masih akan ada monster Rank C?”

“Pasti.”

Luna tersenyum dengan tatapan tajam.

“Bagus. Aku ingin menguji kekuatan sihirku lagi.”

Kusma mengusap kepalanya ringan.

“Jangan menghabiskan mana terlalu cepat.”

“Kalau untuk Master,” jawab Luna, “aku tidak akan menahan apa pun.”

Rinne memutar mata pelan.

Ya Tuhan… tingkat clingy-nya meningkat lagi…


4. Hutan Mulai Bersuara

Ketika mereka mulai masuk ke area tengah hutan, suasananya berubah.

Cahaya matahari berkurang.
Aroma tanah lebih pekat.
Dan suara monster terdengar jauh lebih besar dari sebelumnya.

Kusma menegangkan bahu.

“…Kita memasuki zona berbahaya.”

Rinne menggenggam pedangnya kuat.
Luna menyalakan sedikit api di tangannya.

Tiba-tiba—

GROOOOAARRR—!!

Suara menggelegar menggema.

Kusma langsung mengenalinya dari game.

“…Forest Tuskmane.”

Rinne tersentak.
“T-Tuskmane?! Itu Rank B kan?!”

Luna tersenyum tipis, aura merah muncul samar-samar di tangannya.

“Master…”

“Ya.”

“Boleh kali ini aku tidak menahan mana sejak awal?”

Kusma menatap hutan gelap di depan.
Angin membawa bau darah.

Senyum kecil muncul di bibirnya.

“Lepas semua, Luna.”

Luna menunduk hormat, seperti seorang mage elit yang menerima perintah mutlak.

“As you command… Master.”

Dan dengan itu—

Petualangan mereka naik ke level berikutnya.