- Update
Dunia Arnia Bab 23
BAB 23 — Forest Tuskmane, Raksasa Bertaring dari Hutan Dalam
GROOOOAARRR!!!
Suara itu mengguncang pepohonan, menggema jauh ke dalam hutan gelap. Rinne langsung memegang pedangnya begitu keras hingga jarinya bergetar. Di hadapan mereka, siluet besar mulai muncul di balik kabut tipis.
Langkah berat itu menggetarkan tanah.
Duk… duk… duk…
Sampai akhirnya—
Seekor monster besar keluar dari balik pepohonan.
1. Monster Rank B Pertama
Tubuhnya seperti babi hutan raksasa dengan bulu hitam tebal, otot kekar, dan dua taring melengkung sebesar tangan manusia.
Forest Tuskmane (Rank B)
HP: Tidak terlihat
Stamina: Besar
Agresivitas: Sangat tinggi
Rinne menelan ludah saat melihat ukurannya.
“B-besar sekali…!”
“Ya,” jawab Kusma tenang. “Dan yang ini tidak sama seperti di game. Lebih liar. Lebih ganas.”
Luna melangkah maju sedikit, posisi defensif di depan Kusma seperti kebiasaan alami.
“Master, aku akan mengurusnya.”
“Jangan sendirian. Kita bertiga.”
Luna menoleh, wajahnya lembut namun jelas tidak setuju.
“Tapi monster seperti ini terlalu berbahaya untuk Rinne.”
Rinne mengepalkan tangan.
“A… aku bisa bantu! Aku harus belajar!”
Kusma mengangguk.
“Kita lakukan bersama.”
Luna akhirnya mengalah dan berdiri di sisi kanan Kusma.
2. Pertempuran Dimulai
Forest Tuskmane merendahkan tubuhnya, lalu—
WRAAAAA—!!!
Ia menyeruduk dengan kecepatan mengejutkan untuk monster seukuran itu.
Kusma mencengkeram tanah.
“Rinne! Ke kiri!”
Rinne melompat ke samping tepat saat monster itu menerjang, mencabik pohon besar di belakang mereka hingga tumbang.
Luna mengangkat tangan kiri.
“Flare Burst!”
Semburan api merah keluar, menerjang sisi tubuh Tuskmane.
Namun hanya membuatnya berhenti sebentar.
“Kulitnya tebal…”
Kusma langsung menilai situasi.
Tuskmane berbalik dengan cepat, mata merah menyala.
“Luna, gunakan sihir besar.”
“Aku sudah siap sejak tadi.”
Luna mengangkat kedua tangan. Api mulai berputar di sekelilingnya.
3. Rinne Maju untuk Pertama Kalinya
Sebelum Luna melepaskan mana besar, Kusma berkata:
“Rinne, ini kesempatanmu. Tuskmane akan fokus ke sihir Luna. Ikuti dari sisi kanan. Cari titik lemah di bawah leher.”
Rinne terkejut.
“A-aku? Tapi—”
“Kau bisa.”
Suara stabil Kusma membuat Rinne mengambil napas panjang.
Ia menunduk, merendahkan pusat gravitasi seperti latihan Kusma sebelumnya.
“Baik!”
Di saat itu, Luna menarik mana dalam jumlah besar.
Hawa panas menyelimuti area.
“Master… kali ini aku tidak akan menahan apa pun.”
“Lakukan.”
Tuskmane, seperti insting binatang, merasakan ancaman besar dan langsung menyerbu Luna.
Kesempatan itu terbuka.
4. Sihir Luna Meledak Bebas
Luna mengarahkan kedua tangan ke arah monster. Aura api merah membentuk spiral besar.
“Inferno Lance!!”
TSSSSSHHHH!!!
Sebuah tombak api raksasa terbentuk, melesat seperti meteor.
Tuskmane menerjang ke depan tapi tidak sempat menghindar.
BOOOOMMM!!
Ledakan besar menggetarkan hutan.
Api membakar sebagian besar bulunya.
Rinne berlari melewati kepulan asap, pedangnya berkilau.
“Rinne! Di bawah leher!” teriak Kusma.
Rinne menerjang—
mengayunkan Windcutter dengan seluruh tenaganya.
SWIIINGGG!!
Pedang itu menembus kulit tebal monster.
Tuskmane meraung keras, terhuyung ke belakang.
5. Serangan Terakhir
Monster itu masih hidup, meski terhuyung dan terbakar.
Luna menyiapkan sihir kedua.
“Master, biarkan aku menghabisinya.”
Kusma mengangguk.
Tuskmane mencoba menyeruduk Luna dalam kondisi kacau.
Tapi Luna sudah mengangkat tangannya.
“Crimson Collapse.”
Ledakan api dalam radius kecil meledak tepat di wajah monster.
BOOOOM!!
Tuskmane terhempas, jatuh, dan tak bergerak lagi.
Luna berdiri di tengah asap, rambutnya berkibar oleh tekanan panas.
Rinne menatap terpana.
Sihir Luna… luar biasa… Dan dia bahkan tidak terlihat kelelahan.
6. Setelah Pertarungan
Tuskmane perlahan hancur.
Partikel cahaya terkumpul menjadi bola kecil warna merah gelap.
SPM: 112
Kusma mengulurkan tangan, SPM terserap.
“Ini lumayan besar…”
Rinne bernafas cepat, duduk karena kelelahan.
“T-tadi itu… gila…”
Luna langsung berada di sisi Kusma, memegang lengannya, seperti meminta pujian.
“Master, apakah aku membantu dengan baik?”
Kusma mengusap kepala Luna—kebiasaan yang mulai natural.
“Kamu sangat hebat, Luna.”
Wajah Luna langsung memerah bahagia.
Rinne menatap mereka sambil tersenyum lemah.
“Kalau begini… aku harus semakin kuat.”
“Kau sudah bagus,” kata Kusma. “Tebasanmu tepat.”
“Terima kasih… Kusma.”
7. Peti Harta Karun
Saat tubuh Tuskmane memudar sepenuhnya, cahaya mencuat dari tanah.
“…Tampaknya ada drop,” gumam Kusma.
Sebuah peti emas muncul—lebih mewah dari peti biasa.
Rinne memekik kecil.
“E-em! Itu peti Rare!”
Kusma membuka perlahan. Isi peti menyala.
[Skill Book — Gale Step]
[Equipment — Scarlet Robe]
Luna mendekat.
“Master… robe itu cocok untuk Rinne.”
Kusma mengangguk.
“Dan skill ini… cocok untuk gaya bertarung cepat.”
Rinne menatap Kusma dengan mata yang hampir berkaca-kaca.
“A-aku benar-benar… dapat semua ini?”
“Kau mendapatkannya karena kerja kerasmu.”
Luna menambahkan:
“Karena kau bagian dari party Master.”
Rinne menggenggam robe baru itu erat.
“…Terima kasih. Aku janji akan jadi lebih kuat.”
8. Langkah Baru Menuju Dalam Hutan
Kusma melihat ke arah hutan lebih dalam.
Di sana, udara lebih berat… dan suara monster semakin jelas.
“Ini baru permulaan,” katanya.
Luna tersenyum tipis sambil merapat lebih dekat ke Kusma.
Rinne menarik napas dan berdiri tegak.
Party Arclight resmi melangkah ke zona paling berbahaya yang pernah mereka hadapi.
Dan tujuan mereka semakin dekat.