- Update
Dunia Arnia Bab 24
BAB 24 — Aroma Darah dari Shadow Nest
Langkah mereka semakin dalam memasuki hutan bagian inti. Semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas bahwa tempat ini bukan lagi area yang dikunjungi petualang Rank C atau D.
Udara semakin berat.
Cahaya matahari hampir tidak tembus.
Aroma besi—aroma darah—terasa samar di udara.
Rinne menggenggam pedangnya kuat-kuat.
“Tempat ini… berbeda dari sebelumnya.”
“Memang,” jawab Kusma. “Mulai dari sini, monster yang tinggal biasanya bergerak dalam kelompok. Kita harus lebih waspada.”
Luna berdiri di sisi kiri Kusma, memegangi ujung jubahnya seperti biasa, tapi kali ini ekspresinya lebih tajam.
“Master, aku merasakan… tatapan. Banyak tatapan.”
Kusma berhenti.
“…Aku juga merasakannya.”
1. Mangsa Baru: Shadow Goblin Pack
Suara langkah kecil terdengar dari balik pohon.
Kemudian suara tertawa aneh:
“khihihihi… khii… khikikiki…”
Rinne merinding.
“G-goblin?”
“Bukan goblin biasa.”
Kusma menurunkan pusat gravitasi.
“Nafasnya sangat halus… itu Shadow Goblin.”
Rinne tersentak.
“Mereka Rank C+, kan?!”
“Dan biasanya bergerak dalam kelompok 10—20.”
Tiba-tiba—
SWISH!
Sebuah bayangan melompat dari belakang pohon tepat menuju Kusma.
Luna bereaksi lebih cepat dari manusia biasa.
“Flare Shot.”
SREEET!!
Sebuah peluru api melesat dan menembus kepala goblin itu sebelum sempat menyentuh Kusma.
Tubuh goblin jatuh keras ke tanah—mati dalam sekejap.
Tapi itu baru pembukaan.
Bayangan lain muncul dari segala arah.
Shadow Goblin:
- tubuh kurus hitam keabu-abuan
- mata merah
- gerakan cepat
- lincah bagai ninja kecil
Jumlahnya… lebih dari sepuluh.
Rinne panik.
“K-Kusma! Mereka banyak sekali…!”
Namun Kusma justru tersenyum kecil.
“Bagus. Ini peluang farming SPM.”
Luna berdiri tepat di depan Kusma.
“Master, izinkan aku.”
Kusma mengangguk.
“Jangan tahan mana. Habisi mereka.”
Luna menurunkan pose, kedua tangan terangkat. Aura panas keluar dari tubuhnya.
2. Sihir Luna Meledak Tanpa Tertahan
Shadow Goblin mulai menyerbu sekaligus, dari pohon, dari tanah, bahkan dari bayangan.
Luna berbisik pelan.
“Radiant Burst.”
BOOOOM!!!
Ledakan cahaya bercampur api menyapu radius 5 meter di sekelilingnya.
Puluhan goblin terseret ke udara, tubuh mereka terbakar dan terlempar keras.
Rinne menutup mata karena cahaya begitu terang.
“G-gila… sihir area besar?!”
Kusma melihat Luna tanpa rasa terkejut.
Dia memang begini kalau tidak kutahan mana-nya…
Beberapa Shadow Goblin masih hidup dan mencoba kabur.
Luna mengayunkan tangan.
“Ember Chaser.”
Butiran api sebesar bola golf mengejar goblin-goblin itu dan meledak satu per satu.
PAP! PAP! PAP!
Hutan kembali sunyi.
Dan semua Shadow Goblin telah menjadi abu.
3. SPM Mengalir Deras
Sekitar 30 partikel SPM berkumpul dan melayang ke arah Kusma.
SPM: +187
Kusma menyerap semuanya, merasakan energi hangat memasuki tubuhnya.
Rinne melongo.
“S-sebanyak itu?!”
“Shadow Goblin memang lumayan,” jawab Kusma. “Mereka kecil, tapi banyak.”
Luna berjalan mendekat ke Kusma, wajahnya sedikit memerah.
Ia selalu sedikit terengah setiap kali mengeluarkan sihir besar—bukan karena lelah, tapi karena ingin dipuji.
“Master… a-aku sudah bersih?”
Kusma mengusap kepala Luna.
“Kau hebat.”
Luna tersenyum dengan puas, kemudian merapatkan tubuh ke Kusma—terlalu dekat, sampai Rinne akhirnya batuk-batuk canggung.
“Uh… a-aku masih disini, kalian tahu?”
Luna menatap Rinne sebentar, lalu menempel lagi ke Kusma seolah menunjukkan kepemilikan.
Rinne hanya menghela napas.
Ya… ini sudah biasa sekarang.
4. Jejak Darah dan Sarang Gelap
Setelah pertempuran selesai, Kusma memperhatikan jejak goresan di tanah.
“Ini aneh…”
Luna menatap juga.
“Apa maksud Master?”
“Shadow Goblin tidak menyerang tanpa alasan. Mereka biasanya menjaga sesuatu.”
Rinne memeriksa beberapa mayat goblin yang belum hancur.
“Apa mereka sedang berburu… atau menjaga daerah?”
Kusma menggeleng.
“Tidak. Lihat ini.”
Ia menunjuk tanah yang penuh dengan jejak seret besar.
Seperti ada sesuatu yang ditarik paksa ke dalam hutan.
“Shadow Goblin tidak cukup kuat untuk menyeret mangsa sebesar ini.”
Luna meraih lengan Kusma dengan sedikit kekhawatiran.
“Master, aku tidak suka tempat ini.”
Kusma mengangguk.
“Ya. Ini bukan sarang goblin biasa.”
Rinne merasa bulu kuduknya meremang.
“Kalau begitu… sarang apa?”
Kusma menghela napas panjang.
“Kalau pola-pola ini sama seperti di game… maka kita akan menuju—”
Seketika angin berhenti.
Hutan menjadi terlalu sunyi.
Dan sebuah suara berat terdengar dari balik pepohonan:
“GROOOOHHH…”
—
Kusma menegang.
“…Shadow Beast.”
Rinne tersentak.
“T-te-tunggu! Itu Rank A!!”
Luna bersiap, api mulai menyelimuti kedua tangannya.
“Master… apa kita akan bertarung?”
Kusma menghela napas panjang.
“Kalau itu benar-benar Shadow Beast… maka kita tidak punya pilihan.”
Luna tersenyum tipis, aura panas melonjak.
“Baik. Untuk Master, aku akan membakar semuanya.”
Dan dengan itu—
Pertarungan terbesar mereka sejauh ini akan segera dimulai.