dunia Arnia Bab 25
Update

dunia Arnia Bab 25

BAB 25 — Bayangan yang Mengaum dari Kedalaman Hutan

Suara berat itu menggema lagi.

“GROOOHHH…”

Bukan seperti Tuskmane—ini lebih rendah, lebih dalam, dan terasa langsung menusuk tulang.
Rinne memukul pelan pipinya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak berhalusinasi.

“K-Kusma… beneran Rank A?”

Kusma mengangguk perlahan.

“Jika ini sesuai dengan ingatanku dari game… maka kita baru saja memasuki zona sarang Shadow Beast.”

Luna berdiri tepat di samping Kusma, sedikit lebih dekat daripada biasanya.
Ekspresinya tegang tapi sekaligus… senang.

“Master… akhirnya lawan yang layak.”

Kusma menatap Luna dengan sedikit khawatir.
“Jangan gegabah. Monster Rank A bisa membunuhmu dalam satu serangan.”

Luna hanya tersenyum lembut.

“Aku akan baik-baik saja… karena Master ada di sini.”

Rinne yang mendengar itu hanya bisa menghela napas.
Dua orang ini… kapan sebenarnya hubungan mereka jadi sedekat itu?


1. Siluet Itu Muncul

Dari balik pepohonan gelap, dua mata merah menyala muncul.

Tinggi… hampir 3 meter.
Tubuh besar ditutupi bulu hitam.
Tangan panjang seperti gorila, namun dengan cakar tajam berkilau.
Tubuhnya seperti campuran antara serigala, gorila, dan bayangan hidup.

Shadow Beast (Rank A)
Spesialisasi:

  • Serangan fisik brutal
  • Camouflage bayangan
  • Kecepatan lompatan
  • Naluri membunuh sangat tinggi

Rinne mundur setengah langkah.

“S-sial… monster ini bukan level kita…”

Kusma mengangkat tangan.

“Tidak. Kita bisa. Selama kita bertarung dengan cara yang benar.”

Luna menyiapkan sihir api di telapak tangan, aura panas mulai menekan udara.

“Master, izinkan aku—”

“Tunggu.”

Luna terkejut.
Kusma jarang menahan sihir Luna.


2. Strategi Kusma

Kusma menatap monster besar itu dan mulai menganalisis seperti gamer terbaik dunia.

“Shadow Beast punya tiga pola serangan utama.”

Rinne dan Luna menunggu, fokus.

“Pola pertama: Lompatan bayangan. Ia menghilang lalu muncul di belakang target.”

Rinne menggigil.
“B-bisa menghilang…?”

“Pola kedua: Serangan cakaran ganda. Kalau itu kena, kita mati.”

Luna menatap lolos tapi tetap tenang.
Ia sudah tahu Bahaya Rank A.

“Pola ketiga: Mengamuk ketika HP-nya rendah.”

“Master… tidak ada bar HP,” bisik Rinne.

“Ya. Kita harus menilai dari gerakan tubuhnya.”

Itu tantangan terbesar dunia nyata dibandingkan game.

Kusma lalu berkata:

“Rinne, fokusmu hanya satu: hidup. Jangan coba menyerang dulu.”

Rinne menelan ludah.
“Baik!”

“Luna, kau fokus pada serangan area kecil. Jangan yang terlalu besar, nanti kamu kehabisan mana sebelum pertarungan selesai.”

Luna mengangguk patuh.
“Dipahami, Master.”

Kusma menarik pedang pendek yang ia beli dari guild.

“Lawan Rank A harus dipatahkan pola geraknya.”

Dan tepat pada detik itu—

Shadow Beast menghilang.


3. Serangan Pertama

“Rinne! Ke kanan!” teriak Kusma.

Rinne menunduk tepat waktu—

ZRAAAKK!!

Cakaran hitam melintas, menebas pohon besar di belakangnya menjadi dua dalam sekali tebas.
Jika Rinne terlambat sedetik saja…

“A-aku hampir mati…”

Shadow Beast mendengus dan menghilang lagi.

Kusma bersiap.

“…Luna!”

Luna mengangkat tangan. “Tahu.”

Begitu bayangan di belakang Kusma bergetar—Luna melepaskan sihir kecil.

“Flare Burst!”

BOOOM!

Shadow Beast terpental keluar dari bayangan, tubuhnya terbakar sedikit.

Rinne terpesona.
“L-Luna… bisa membaca gerakan monster Rank A…?!”

Luna tersenyum tipis.
“Aku tahu di mana Master berada… dan apa yang ingin melukai Master.”

Kusma cough pelan, sedikit malu.


4. Shadow Beast Mengamuk

Monster itu menggertak, marah.

Ia merendahkan tubuh, lalu berlari cepat—sangat cepat.

“Luna, tahan serangan depannya!”

“Dengan senang hati.”

Luna memijak tanah, sihir api mengalir dari kakinya ke tanah.

“Fire Wall — Circle Form.”

Lingkaran api muncul di depan Kusma dan Rinne.

Shadow Beast menerjang masuk—

BOOOOOF!!!

Tubuhnya terbakar hebat.
Ia meraung, melompat mundur.

Tak diberi kesempatan bernapas, Luna melanjutkan:

“Ember Spear.”

Tombak api panjang terbentuk di udara dan melesat ke arah monster.

ZUUUP!

Tombak itu menusuk bahu kanan Shadow Beast, membuatnya berdarah hitam.

Kusma mengangguk.

“Itu dia, Luna! Kau sudah mulai membuatnya goyah!”

Luna tersenyum bangga, merapat sedikit ke Kusma.

“Master… terus beri aku perintah.”

“Fokus dulu, Luna…”


5. Kusma Masuk ke Dalam Pertarungan

Shadow Beast tiba-tiba menerjang lagi.
Luna sedang menyiapkan sihir lain, dan Rinne tidak cukup cepat.

Kusma melompat maju.

“Rinne, mundur!”

“Eh?! B-baik!”

Kusma menahan serangan cakaran dengan pedangnya—
dan terdorong mundur tiga langkah karena kekuatan besar monster itu.

“Argh—!”

“Master!” Luna berteriak.

Tapi Kusma berhasil memiringkan tubuh, menghindari cakaran kedua dan menebas lengan kiri monster itu.

SRRAKK!

Darah hitam memercik.

Shadow Beast mengamuk dan memukul tanah keras.

Rinne berteriak.
“Kusma! Itu tanda HP rendah, kan?!”

“Betul! Siap-siap! Luna, serangan besar!”

Luna tersenyum senang.
Akhirnya diizinkan.

“Dengan senang hati, Master.”


6. Finishing Move

Luna mengangkat kedua tangan ke atas.
Api merah pekat melingkari tubuhnya seperti putaran angin panas.

Udara menjadi sangat panas hingga Rinne harus menutup wajah.

“Master… izinkan aku memakai sihir tingkat tinggi.”

“Gunakan.”

Luna tersenyum manis—
senyum yang indah dan berbahaya.

“Scarlet Calamity.”

Langit hutan memerah.

Sebuah lingkaran sihir besar muncul di atas Shadow Beast.

Monster itu meraung, mencoba kabur, tapi sudah terlambat.

BRAAAAKK!!!

Meteor api merah menghantam langsung tubuhnya.

Ledakan besar menggetarkan hutan, membakar tanah, dan membuat pepohonan roboh.

Shadow Beast terkapar, tubuhnya hancur sebagian… lalu memudar menjadi cahaya.


7. SPM Monster Rank A

Partikel besar, warnanya hitam kemerahan, menggumpal di udara.

**SPM + 709

Rinne membelalakkan mata.

“T-tujuh ratus?! Rank A segila itu?!”

Kusma tersenyum kecil.

“Ini nilai sebenarnya dari monster Rank A.”

Luna memeluk lengan Kusma, wajahnya bahagia seperti anak yang dipuji.

“Master… apakah aku sudah berguna hari ini…?”

Kusma mengusap kepalanya lembut.

“Kau luar biasa.”

Luna semakin menempel—sangat clingy—hingga Rinne berdeham keras.

“Ehem… aku masih di sini, kalian tahu…”


8. Drop Peti Harta Karun

Dari tanah tempat monster itu mati, cahaya muncul.

Peti hitam—dengan garis merah, motif khusus.

Kusma terkejut.

“…Itu peti Rank A Boss.”

Luna dan Rinne menelan ludah.

Peti itu perlahan terbuka.

Di dalamnya ada:

[Skill Book – Shadow Step]
[Equipment – Crimson Mantle]
[Ring – Beast Slayer Ring]

Rinne sampai duduk karena shock.

“Kita… jadi kaya…”

Luna memandang Kusma.

“Master… semuanya milikmu.”

Kusma tersenyum.

“Kita semua satu party. Kita bagi sesuai kebutuhan.”

Rinne terpaku.

Ini… petualangan yang mungkin mengubah hidupku…