Dunia Arnia Bab 26
Update

Dunia Arnia Bab 26

BAB 26 — Jejak Baru Menuju Kedalaman Dungeon Hutan

Setelah pertarungan besar melawan Shadow Beast, hutan kembali sunyi.
Terlalu sunyi.

Seolah semua monster di radius ratusan meter merasakan kekalahan raja bayangan itu dan memilih bersembunyi.

Luna berdiri sangat dekat dengan Kusma—bahkan setelah beberapa menit, ia masih menempel di lengannya.

“Master… apakah kau terluka?”
Suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.

Kusma menggeleng.
“Hanya sedikit goresan. Tidak apa-apa.”

Namun Luna tetap tidak menjauh.
Kalau tidak ditahan, ia mungkin sudah memeluk dari belakang.

Rinne mengamati mereka dengan wajah setengah lelah setengah pasrah.

Luna ini cabangnya clingy tingkat dewa…
Tapi… itu membuat party terasa lebih hidup juga…


1. Pembagian Drop Rank A

Kusma mengeluarkan item dari peti tadi.

  • Beast Slayer Ring
  • Crimson Mantle
  • Skill Book – Shadow Step

Kusma menatap Rinne.

“Rinne, kemarilah.”

“Eh? A-apa…?”

Kusma mengulurkan cincin.

“Beast Slayer Ring ini untukmu.”

Rinne langsung terkejut besar.
“A-apa?! Tapi itu item Rank A! Kamu seharusnya—”

“Kamu butuh kekuatan untuk bertahan.
Kita akan menghadapi monster yang lebih kuat lagi. Kamu garis depan kita.”

Rinne menggigit bibir.

“…Terima kasih, Kusma. Aku… tidak akan mengecewakan.”

“Kalau mau menangis, jangan sekarang,” kata Luna santai.

“A-aku tidak menangis!!” protes Rinne.

Luna tersenyum tipis.
“Mata manusia mudah sekali berair.”

Rinne memalingkan muka.

Jahat tapi cantik… dan clingy… kombinasi mematikan…

Kusma mengabaikan pertengkaran kecil mereka dan menghadap Luna.

“Luna. Crimson Mantle cocok untukmu. Itu jubah Rank A yang meningkatkan kekuatan sihir.”

Luna menerima jubah itu seperti menerima hadiah paling berharga di dunia.

Ia langsung memakainya.
Dan jubah merah itu benar-benar cocok dengannya—elegan, feminin, tapi memancarkan kekuatan berbahaya.

“Master… apa aku cantik?”

“Cantik.”

Jawaban Kusma yang jujur membuat Luna memerah sampai telinganya.

Rinne menatap mereka berdua dengan muka cemberut kecil.

Sial… mereka berdua makin mesra saja…


2. Skill Baru untuk Kusma

Kusma membuka Skill Book – Shadow Step.

“Ini berguna untukku.”

Shadow Step adalah skill pergerakan cepat yang dulu hanya dimiliki kelas Assassin di game:

  • pergerakan secepat bayangan
  • bisa menghindari serangan mematikan
  • sangat berguna melawan monster dengan pola cepat

Kusma menempelkan tangan ke buku itu.
Cahaya gelap menyelimuti tubuhnya, lalu skill menyatu.

Rinne terkagum-kagum.

“Itu… luar biasa…”

Luna memeluk lengan Kusma sedikit lebih erat daripada biasanya.
“Master… jadi semakin sulit kutangkap.”

Kusma tertawa kecil.

“Aku tidak akan meninggalkan kalian.”

Luna makin memerah.


3. Aroma Monster yang Lebih Besar

Setelah menyelesaikan semua drop, Kusma mengamati tanah.

Jejak Shadow Beast yang sebelumnya mereka lihat… bukan barusan terbentuk.

“Shadow Beast yang kita lawan tadi bukan pemilik sarang.”

Rinne terdiam.

“Tunggu. Maksudmu ada lagi?!”

Kusma mengangguk.

“Shadow Beast biasanya hidup dalam colony, dipimpin oleh satu Alpha Beast.”

Luna menatap hutan dengan tatapan tajam.

“Aku merasakan aura… jauh lebih kuat dari yang tadi.”

Rinne memutar mata gugup.
“Kita… tetap maju?”

Kusma menjawab langsung:

“Ya.”

Rinne hampir terjatuh.

“Eh?! Tapi—Monster Rank A Alpha itu… lebih kuat dua kali lipat!!”

Kusma mengangguk.

“Makanya kita harus mengalahkannya.”

Rinne: “ITU BUKAN ALASAN!!!”

Tapi Luna tersenyum sangat lembut.

“Rinne… bukankah kau ingin menjadi kuat?”

Sorot mata Luna—hangat tapi menusuk—mengunci Rinne.

“…I-iya…”

“Maka hadapilah ancaman besar. Kau tidak sendiri.”

Rinne terdiam.
Ia baru sadar bahwa party ini, meski unik dan kadang aneh, membuatnya merasa… aman.

Ia menegakkan kukunya.

“Baik! Ayo hajar Alpha itu!”


4. Jejak Menuju Sarang Alpha

Mereka berjalan sekitar 10 menit menembus hutan, hingga tiba di sebuah lembah kecil.

Tanah penuh bekas cakaran.
Pepohonan tumbang.
Dan aroma darah sangat kuat.

Luna menempel pada Kusma lagi—lebih karena insting protektif daripada clingy.

“Master… hati-hati. Tempat ini…”

“Tahu.”

Kusma menunjuk gua besar yang terbuka di tengah lembah.

Di atas pintu gua, bekas goresan raksasa.

Rinne merasa seluruh tubuhnya merinding.

“Itu… peti matahari… guanya besar banget…”

Kusma menghela napas.
“Ini tempatnya.”

“Tempat apa?”

Kusma menjawab pelan:

Shadow Nest.”

Rinne jatuh terduduk.

“Shadow NEST?! Sarang monster Rank A—?!”

Luna berkata lembut tapi tenang:

“Dengan Alpha Beast di dalamnya.”

Rinne menjerit.

“AAAARGH!!”


5. Persiapan Sebelum Masuk

Kusma memeriksa kondisi mereka:

  • Luna: Mana masih 60%
  • Rinne: stamina lumayan
  • Kusma: luka kecil, tapi baik-baik saja

“Dengar,” kata Kusma, “sekali kita masuk, kita tidak bisa kembali sebelum mengalahkan Alpha.”

Rinne mengangguk.
Ia masih takut, tapi tidak mundur.

Luna menggenggam tangan Kusma—tanpa sadar—dan berkata:

“Aku akan melindungi Master. Sampai mati pun aku siap.”

Kusma memegang tangan Luna balik.

“Aku tidak mengizinkanmu mati.”

Rinne menatap mereka sambil menghela napas panjang.

Ini pasangan atau party? Sungguh tidak tahu…


6. Masuk ke Sarang

Kusma melangkah maju ke dalam gua.

Udara dingin.
Angin pengap.
Dan suara napas besar… sangat besar… terdengar dari kedalaman.

Rinne gemetar.

Luna menyalakan api kecil sebagai penerang dan berdiri tepat di samping Kusma.

Mereka memasuki kegelapan.

Dan di dalam sana—

dua mata raksasa terbuka.

DUAAARRRR!!

Tanah bergetar.

Gua bergetar.

Dan suara menggelegar memenuhi seluruh ruangan:

“GRROOOAAAAAAHHHHH—!!!”

Kusma tersenyum miring.

“Selamat datang di Boss Fight sebenarnya.”

Luna maju setengah langkah.

“Master… izinkan aku melepaskan semuanya.”

Kusma mengangguk.

“Luna—full power.”

Luna tersenyum, sangat cantik sekaligus mematikan.

“As you command, Master.”